Membaca buku merupakan keasyikan tersendiri bagi sebagian orang. Kenapa saya sebut bagi sebagian, karena tidak semua orang memilih untuk mendapatkan keasyikan dengan membaca buku. Membaca buku selain ada keasyikannya juga menambah wawasan kita dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Dari yang sebelumnya hanya memahami secara samar menjadi lebih mendalam.

Tentunya, bila kita  hanya membaca tanpa ada proses berikutnya,  pemahaman yang kita dapatkan kurang kuat untuk kita pakai sebagai acuan dalam bertindak. Kurang kuatnya pemahaman ini bisa dilihat dengan parameter, misalnya, apakah kita mampu menceritakan kembali isi buku tersebut dengan bahasa kita secara gamblang.

Meresensi buku adalah salah satu proses lanjutan setelah kita membaca buku. Dengan meninjau isi buku dan membandingkannya dengan buku lain yang telah kita baca akan lebih mempertajam pemahaman yang kita dapatkan.

Orang yang dianggap memahami sesuatu biasanya bisa mengutarakan kembali pemahamannya tersebut dengan bahasa yang sederhana.

Salah satu cara agar kita dianggap sudah habis mencerna isi buku yang kita baca adalah dengan meresensinya. Resensi atau mengulas buku adalah cara bagaimana pembaca berdialog dengan penulisnya. Sebagai pembaca tentunya tingkat atau cara mengonsumsi sebuah buku juga berbeda. Ada pembaca yang tingkat pemahamannya sudah maksimal yaitu melalui membaca secara kritis bukan sekedar mengonsumsinya secara mentah-mentah.

Dalam meninjau isi buku pembaca harus teliti mengungkap ide penulisnya. Kemampuan ini tentunya tidak mudah namun juga tidak sulit untuk dilakukan jika kita memang rajin membaca. Kebiasaan membaca banyak buku akan menumbuhkan ketajaman seseorang itu untuk melihat kekurangan maupun kelebihan sebuah bacaaan.

Manfaat lainnya dari meninjau sebuah buku adalah menguatkan isi buku di pikiran seseorang karena kita telah membacanya secara aktif.

Dengan meresensi buku seorang pembaca  bisa melekatkan informasi yang terkandung dalam sebuah buku lebih kuat dalam pikirannya. Hal ini dikarenakan, pembaca telah berinteraksi secara dialogis dengan buku yang dibacanya. Tentunya sebuah dialog akan mengalami naik turun ketegangan antara pembaca dan penulisnya lewat tulisan.

Resensi yang bagus, yang mengulas isi buku lebih mendalam dengan berbagai referensi dan sudut pandang yang dilakukan oleh penulis resensi, terkadang pun bisa menjadi rujukan bagi pembaca berikutnya.

Banyak kitab klasik Islam yang Syarahnya (ulasan buku sumber) pun menjadi rujukan dan pelengkap buku sumbernya. Kitab Sahih Bukhari pun mempunyai banyak syarah salah satunya Fathul Bari, yang juga menjadi bagian dari kitab yang banyak diajarkan di pesantren.

Dari sini bisa kita lihat bahwa mengulas buku pun menjadi bagian dari kegiatan yang membutuhkan kerja keras penulisnya. Meresensi bukanlah sekedar menuliskan kembali isi buku, seperti yang sudah dibahas di atas, kegiatan meresensi perlu merespon isi buku dengan cara membandingkan dan menguraikannya dengan berbagai referensi yang ada.

Sebuah ketegangan yang dibangun secara tak sengaja saat kita menuliskan kembali sebuah isi buku laksana diskusi dalam ruang seminar tanpa moderator. Keasyikan ini tidak bisa kita dapatkan jika kita hanya membaca buku sekedar mengonsumsinya belaka.

Peresensi buku perlu pembacaan yang serius terhadap buku yang akan diresensinya agar ulasannya tidak dangkal. Minimal peresensi bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan oleh pembaca lainnya. Di sinilah dibutuhkan kekayaan bahan bacaan dari seorang peresensi.

Dalam proses ini kita harus bisa melihat kekurangan dan kelebihan buku baik isi maupun tampilannya. Dari segi isi , kelebihan  maupun kekurangan pun tak mungkin bisa ditemukan jika kita tak punya pembandingnya. Begitu juga dalam segi tampilan buku tentunya kita perlu melihat tampilan buku sejenis sebelumnya.

Perlu dipahami jika kita meresensi sebuah buku obyektivitas harus dikedepankan. Kita tidak boleh menilai sebuah buku hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka semata. Parameter tetap harus digunakan agar pendapat kita tidak dianggap omong kosong belaka.

Beberapa syarat meresensi tersebut, secara tidak langsung, kita telah mengikat semua informasi dalam buku dalam benak kita lebih kuat dan tak mudah terlupakan. Meresensi membuat seluk beluk buku yang kita baca terekam abadi karena telah kita kaji lebih mendalam.

Ada manfaat lain jika kita mampu melihat kekurangan dan kelebihan isi buku ini karena jika resensi kita disukai pembaca resensi kita, itu akan menjadi sarana promosi secara tidak langsung bagi penerbit dan penulisnya.

Tentunya ini akan membawa implikasi bagi kita penulis resensi tersebut. Biasanya jika kita kirimkan ke penerbit buku tersebut kita bisa memperoleh uang atau buku secara gratis dari penerbit tersebut karena kita telah membantu mempromosikan produknya.

Itulah beberapa manfaat membuat resensi buku. Ada keuntungan materi maupun non materi bagi pelakunya. Keuntungan non materi , kita telah tandas menghabiskan buku yang sudah kita beli dan bukan hanya sebagai bahan pajangan di rak buku.

Keuntungan materialnya adalah honorarium jika tulisan kita dimuat di media massa. Bahkan beberapa penerbit ada yang memberikan uang pada peresensi buku terbitannya di samping bonus buku baru tentunya.

Mengapa kita harus meresensi buku? Tentunya karena meresensi  bukanlah sesuatu yang mubazir karena banyak manfaatnya yang tak terduga saat meluangkan waktu untuk menuliskan kembali buku yang kita baca.