Saya masih ingat ketika SMA,  beberapa siswa menyukai pelajaran kimia, sementara sebagian yang lain tidak menyukainya.  Pada mulanya belum begitu terlihat siswa yang menyukai dan yang tidak menyukai. Sebagian besar siswa memperlihatkan ketekunannya mengikuti pelajaran kimia.

Seiring jalannya waktu dan pelajaran pun semakin tinggi tingkat kesulitannya, lambat-laun terlihatlah siswa yang menyukai dan yang tidak menyukai pelajaran tersebut. Ketika pelajaran kimia masih pada tingkat kesulitan yang rendah, siswa belum mengeluarkan keluhannya.  Semua masih dapat menikmatinya, paling tidak belum ada keluhan. 

Pada hari-hari berikutnya, ketika soal latihan mulai susah, akan terlihat gairah dan semangat mereka. Secara umum siswa akan tertarik ketika mereka dapat mengikuti dan mengerjakan dengan mudah soal latihan yang diberikan. Namun, ketika menemui kesulitan, mereka akan terbagi menjadi dua kelompok.

Sebenarnya hal ini tidak terjadi pada pelajaran kimia saja, ini hanya contoh.  Pelajaran lainnya pun demikian, umumnya siswa akan terbagi dalam dua kelompok.  Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Hal ini bisa saja terjadi karena banyak faktor, seperti pengalaman hidup, cara belajar, lingkungan dan sebagainya.

Kelompok pertama, adalah siswa yang mengalami kesulitan dan menunjukkan ketidaktertarikannya.  Mereka mengeluh, “Wah, susah sekali soalnya, tak sanggup lagi rasanya.”  Sebagian yang lain mengeluh, “Makin lama makin sulit saja, pusing.”  Ada juga yang mengeluh, “Mulanya aku suka pelajaran ini, tapi sekarang makin dipikirin rasanya pingin muntah.”

Siswa yang masuk dalam kelompok pertama ini berpikir bahwa, mereka tidak bisa lagi mengembangkan diri pada pelajaran tersebut.  Mereka putus asa, karena semakin lama pelajaran  semakin sulit. Mereka merasa tidak mampu mengikuti pelajaran dan tidak bersemangat lagi.

Orang-orang yang berpikir seperti ini disebut orang yang ber-mindset tetap.  Mereka berkeyakinan bahwa kualitas seseorang tidak dapat diubah.  Mereka tidak menyukai tantangan, dan akan melakukan yang mudah saja karena takut akan kegagalan.

Kelompok kedua, adalah siswa yang tetap bersemangat dan menunjukkan ketertarikannya, meskipun pelajarannya semakin sulit dan tambah rumit.  Mereka mengatakan, “Soal ini lebih sulit dari soal yang kemarin, tapi saya harus bersemangat dan lebih rajin lagi.”  Ada juga yang mengatakan, “Ini benar-benar tantangan, makin lama makin susah. Saya suka ini.”

Siswa yang masuk dalam kelompok kedua ini beranggapan bahwa bakat dan kecerdasan merupakan modal awal yang harus diikuti oleh usaha dan kerja keras.  Orang-orang seperti ini suka tantangan dan pantang menyerah.  Mereka akan terus berusaha dan pantang menyerah. Orang yang berpikir seperti ini disebut orang yang ber-mindset tumbuh atau berkembang.

Demikian juga halnya dengan kebiasaan anak-anak.  Coba perhatikan, saat ini banyak anak-anak menyukai permainan game, baik online maupun ofline. Ada yang berupa teka-teki, ada balapan, ada aksi petualangan, dan sebagainya. Anak-anak generasi Z tidak asyik rasanya kalau tidak pernah main game.

Memang anak-anak biasanya penuh semangat dalam melakukan permainan game-nya, ia akan terus-menerus melanjutkan permainannya tanpa mengenal waktu. Saking asyiknya, lupa makan merupakan hal biasa bagi anak-anak yang sudah kecanduan game.

Ada anak yang terlihat begitu semangat dan mengulang permainan yang sama, karena permainan itu yang membuatnya menjadi pemenang. Menjadi pemenang membawa anak tersebut puas dan mengulang lagi permainannya. Semangat dan ketertarikannya tetap terjaga ketika mereka menjadi pemenang.

Akan tetapi jika mengalami kekalahan atau kegagalan, maka anak tersebut akan mencari permainan lain yang tidak banyak tantangannya. Permainan tersebut tidak menarik lagi.  Mereka ini masuk dalam kelompok pertama, yaitu anak-anak ber-mindset tetap.

Berbeda dengan anak yang masuk dalam kelompok kedua, yang ber-mindset berkembang. Permainan yang sulit dan menantang membuatnya selalu penasaran dan terus berusaha demi keberhasilan. Begitu gagal ia tambah semangat dengan tantangan tersebut. Kalau berhasil, ia akan bermain terus dengan meningkatkan tingkat atau level kesulitannya.

Mengapa orang bisa mempunyai mindset yang berbeda?  Manusia dilahirkan di dunia dalam keadaan sama. Bagaikan kertas polos belum tertulis apa pun. Hanya secara fisik terlihat berbeda. Lingkunganlah yang akan mengisi kertas polos tersebut, mulai orang tua, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah dan sebagainya.

Sejalan dengan pertumbuhannya dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, jadilah setiap manusia itu berbeda. Bahkan, dalam lingkungan yang sama bisa saja berbeda. Berbeda dalam berpikir, berbeda dalam bertindak, dan berbeda dalam menjalani hidup.

Dalam menjalani hidup ini, pengalaman sejak lahir sampai dewasa membuat mereka berbeda. Pembelajaran atau pelatihan yang diikuti dan bagaimana cara mereka belajar dan mengembangkannya juga berbeda. Itulah mindset, dapat ditentukan oleh banyak hal.

Apakah mindset seseorang dapat diubah?  Bisa saja. Proses pembelajaran, latihan, dan motivasi yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya untuk mengubah dan membangun mindset.  Dengan dukungan lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka, mindset dapat diubah. 

Orang yang mempunyai mindset berkembang, selalu berpikir positif dan cenderung  mengembangkan diri. Mereka yakin dengan kerja keras diikuti doa, jalan akan terbuka  untuk terus tumbuh dan maju. Jika istiqamah dalam menjaga diri ber-mindset berkembang, banyak capaian dan keberhasilan yang akan diraih.

Semoga tetap semangat dalam mengembangkan diri.  Good luck.