Researcher
2 tahun lalu · 2143 view · 3 menit baca · Politik maribohong.jpg

Mengapa Karakter Semacam Ahok Menarik?

Menurut teori politik, pemilih itu cenderung memilih pemimpin yang di tengah-tengah, santun, karakternya tidak terlalu ekstrim meledak-ledak, ideologinya tidak terlalu ekstrim kekiri atau kekanan. Dalam jargon statistik, distribusi preferensi pemilih mengikuti kurva lonceng.

Namun jika benar, distribusi preferensi pemilih mengikuti kurva lonceng, bagaimana menjelaskan munculnya kandidat yang mengambil platform atau komunikasi politik jauh dari tengah? Bahkan sejarah menunjukkan cukup banyak kandidat dengan platorm atau gaya komunikasi politik ekstrim mampu memenangkan pemilu.

Misalnya Margareth Thatcher di Inggris, Reagan di US, Hugo Chavez di Venezuela, Trump di US, Duterte di Manila, Ahok di Jakarta atau Risma di Surabaya. Tulisan ini mencoba menjelaskan fenomena ini melalui pendekatan ekonomi, khususnya terkait dengan principal-agent problem

Principal-Agent problem di dunia bisnis

Dalam rapat umum pemegang saham, suatu perusahaan memilih manajer untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai pemegang saham yaitu agar pemegang saham mendapatkan deviden setinggi-tingginya dan/atau nilai perusahaan naik terus. Untuk mencapai tujuan tersebut manajer diberi kewenangan untuk menyusun strategi dan mengelola perusahaan sehari-hari.

Tapi manajer juga manusia yang punya tujuan-tujuan sendiri, yang belum tentu selaras dengan tujuan pemegang saham. Apa jaminannya bahwa manajer tidak akan mengejar tujuan-tujuan pribadinya? Apa jaminannya bahwa manajer tidak memperkaya diri, bermalas-malasan, keliling dunia atas biaya perusahaan dengan alasan bisnis. Bisa juga manajer berambisi memperbesar perusahaan dengan mengorbankan laba. Itu dilakukan dengan cara membiaya ivestasi melalui utang yang terlalu besar dan biaya bunga yang mahal.

Jawabannya tentu anda sudah menduga, pengawasan terhadap manajer. Untuk melakukan pengawasan dibutuhkan informasi yang akurat. Tetapi karena manajer yang mengelola perusahaan sehari-hari, dia lebih tahu kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut dibanding pengawas. Dia lebih piawai menyembunyikan informasi buruk dibanding kemampuan pemegang saham untuk mendeteksinya.

Dalam jargon ekonomi, selalu muncul informasi asimetris antara principal (pemegang saham) dan agent (manajer), atau disingkat principal–agent problem. Masalah principal-agent ini muncul sejak RUPS pemilihan team manajer sampai pengelolaan sehari-hari perusahaan.

Principal-Agent problem di dunia politik

Carrillo dan Castanheira (2008) menunjukkan bahwa Principal-Agent (P-A) problem ini juga ditemui di dunia politik. Principal adalah “pemegang saham” republik ini, yaitu rakyat pemilih, dan agent adalah eksekutif. Mari kita pelajari bagaimana masalah P-A ini ”bermain” di “permainan” politik. Mari kita menyelami benak kandidat dan pemilih ketika mereka menentukan kiat-kiat mereka.

P-A problem di dunia politik mirip dengan P-A problem di dunia bisnis. Pemilih tidak memiliki informasi yang cukup tentang kualitas kandidat. Pemilih tidak memiliki jaminan bahwa kandidat akan bekerja keras baik dalam mempersiapkan platformnya maupun rencana implementasinya. Bagaimana reaksi kandidat dalam situasi seperti ini?

Dia punya pilihan bekerja keras menyiapkan platformnya, atau bermalas-malasan? Apakah mereka akan bekerja keras untuk merebut hati pemilih? Belum tentu. Mengapa? Karena ketidaksempurnaan informasi, kerja keras kandidat juga tidak akan sepenuhnya diketahui oleh pemilih bukan? Untuk apa bekerja keras jika akhirnya toh tidak terdeteksi oleh pemilih?

Bagaimana komitmennya untuk bekerja keras dapat diketahui dan kredibel di mata pemilih? Salah satu caranya adalah dengan bergerak dari posisi tengah. Dengan cara itu kandidat seolah-olah berkata: Lihatlah wahai pemilih, saya berani berbeda dengan kandidat di tengah.

Kandidat tengah tidak perlu bekerja keras karena banyak pemilihnya. Dengan memilih posisi semakin menjauh dari tengah berarti saya harus bekerja lebih keras dibanding yang ditengah untuk merebut hati pemilih. Keberanian saya untuk mengambil posisi tidak ditengah adalah bukti bahwa saya akan bekerja keras untuk memenangkan pemilihan ini. Singkat kata, dengan mengambil posisi menjauh dari tengah baik dalam platform maupun komunikasi politik komitmennya menjadi kredibel

Beruntung kita sekarang hidup di era informasi. Keterbukaan dan kemudahan informasi memungkinkan kredibilitas janji agent lebih mudah diukur. Menayangkan rapat-rapat, mengumumkan harta kekayaannya, memudahkan pemilih mendapat informasi, memberikan informasi kinerja secara jujur dan transparan adalah upaya-upaya untuk meyakinkan pemilih akan kredibilitas janjinya untuk bekerja keras membangun kota/negara. Pemilih makin sulit dibohongi karena makin sadar bahwa talk is cheap

Artikel Terkait