Single Parent
3 bulan lalu · 975 view · 3 min baca · Politik 72151_90314.jpg

Mengapa Jokowi dan Prabowo Memilih Mundur

Usai KPU mengumumkan jumlah peraih suara terbanyak pemilihan Presiden 2019, Jokowi menggulung baju lengan panjangnya. Ia bergegas keluar dari sebuah ruangan. Sesaat diam dan berjalan buru-buru seperti khawatir diketahui Iriana, sang istri.

Sementara itu, di rumah Prabowo Subianto, massa pendukungnya sudah menyemut. Sandiaga Uno tampak mencoba membakar semangat pendukungnya untuk mengawal perolehan suara. Ke mana Prabowo?

Calon Presiden yang pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus itu rupanya sedang sibuk memberi makan Bobby, seekor kucing kampung yang setia menjadi teman Prabowo. Sebelumnya, Bobby ketahuan melahap lauk makan malam Sandi. Prabowo berusaha menenangkannya.

"Sesungguhnya yang ada di alam ini memiliki hak hidup yang sama. Memiliki hak mendapatkan makan yang sama. Jadi karena kau sudah aku rawat, sebaiknya jangan mengambil hak makhluk lain, termasuk lauk milik teman saya itu," kata Prabowo sambil mengelus kepala kucing yang dominan warna putih itu.

Prabowo seperti tak peduli dengan segala hiruk pikuk perolehan suara. Ia sendiri sudah menyiapkan pidato menyambut hasil penghitungan suara itu. Meski sesungguhnya ia masih ragu. Karenanya, ia berlatih di depan Bobby, sang kucing.

"Almarhum Gus Dur itu pernah bilang, 'Apa sih tingginya jabatan Presiden itu, sehingga harus menumpahkan darah? Di atas segalanya adalah kemanusiaan'. Kalau ini aku kutip, gimana, ya, Bob?" tanya Prabowo.

Bobby memandang. Tatapannya mendinginkan hati dan emosi Prabowo.

Tiba-tiba pintu belakang ada yang mengetuk. Pintu yang hanya orang-orang tertentu saja yang tahu letaknya.

"Assalamualaikum, bapak. Saat ini bapak ditunggu teman bapak di sebuah cafe di jalan Gondangdia," suara dari luar yang sangat dikenalnya berpesan.


Prabowo bergegas. Ia lalu mencoret-coret sebuah kertas dan menyerahkan kepada salah satu stafnya. Prabowo kemudian keluar.

Suasana cafe 24 jam di Gondangdia sepi. Hanya ada satu pelanggan berbadan agak kurus, berwajah tirus, dan mengenakan kemeja lengan panjang digulung hingga siku. Benar, Jokowi sendirian duduk di kursi pojok.

Matanya tak henti menatap pintu masuk. Ia berharap yang ditunggu segera tiba.

"Assalamualaikum. Maaf, saya tadi harus memastikan Bobby baik-baik saja dan memberinya makan," kata Prabowo.

"Monggo, silakan," kata Jokowi.

Tak seperti biasanya, perbincangan Jokowi dan Prabowo tak kelihatan akrab. Rupanya pemberitaan media yang meletakkan mereka dalam dua kutub bersebarangan sepertinya melunturkan keakraban dan persahabatan mereka.

"Begini, Pak Joko, ini ada yang perlu dikoreksi. Saya menyatakan tidak terima dengan hasil penghitungan suara, semata-mata bukan karena saya mendapat suara lebih sedikit, tapi karena memang prosesnya tidak seperti yang kita bicarakan tempo hari," kata Prabowo.

"Tapi saya tak memerintahkan kecurangan. Juga tak ada laporan kecurangan yang masuk ke tempat saya," kata Jokowi.

"Saya percaya kalau Pak Jokowi tak memberi perintah agar curang. Tapi kecurangan itu ada, dan celakanya di luar kontrol bapak," kata Prabowo.

Mereka terlibat dalam pembicaraan serius dan bisik-bisik. Komunikasi keduanya menjadi kaku. Setelah menghabiskan kopi yang terhidang, mereka berdua bersalaman.

"Ya sudah ya, pokoknya gitu saja. Biarlah yang pahit kopi saja, hidupmu jangan," pesan Prabowo kepada Jokowi.

"Siap. Pokoknya seduh kopi, sudahi sedih, pak," jawab Jokowi.

Keduanya kembali akrab seperti semula. Gurat-gurat ketegangan mulai mengendur. Bibir keduanya mulai bisa tersenyum.

Beberapa saat kemudian, Jokowi sudah duduk di depan sebuah meja sederhana. Ia hendak menyampaikan sesuatu terkait hasil penghitungan suara Pilpres.

"Memang saat ini KPU sudah mengumumkan bahwa perolehan suara Jokowi-Ma'ruf Amin lebih banyak. Tapi kami belum ditetapkan sebagai pemenang pemilu," kata Jokowi.

Semua hening. Mata audience memandang tegang, menunggu apa yang hendak disampaikan selanjutnya.

"Dan mengingat saat ini pendukung Pak Prabowo sudah banyak yang datang ke Jakarta, sementara berdasar laporan polisi juga siap mengamankan Jakarta dari para perusuh, saya khawatir kalau ada kesalahpahaman dan darah tertumpah," kata Jokowi.


Ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh kantong kanan, mengeluarkan sebuah sapu tangan, dan mengelap keringatnya.

"Atas dasar untuk mencegah pertumpahan darah, maka saya menyampaikan bahwa kalaupun nanti saya ditetapkan sebagai pemenang pemilu, saya akan mempersilakan Pak Prabowo untuk menduduki jabatan itu," kata Jokowi melanjutkan.

Saking sepinya, suara televisi yang menyiarkan siaran langsung terdengar sampai ruangan itu.

"Jika saya memang dinyatakan menang, saya akan meminta Pak jokowi untuk melanjutkan jabatannya sebagai Presiden. Saya ingat pesan Gus Dur, 'Apa sih jabatan presiden itu? Jangan sampai ada darah tertumpah untuk jabatan. Di atas politik masih ada yang bernama kemanusiaan'. Jadi kalaupun saya menang, daripada ada pertumpahan darah, lebih baik saya tak jadi Presiden," suara dari TV terdengar.

Suasana masih sepi. Terdengar suara pemberitahuan dari gawai. Rupanya ada yang mendapat pesan WhatsApp.

"Naskah pesananku sudah jadi, belum? Itu yang tentang penyikapan Pak Jokowi dan Pak Prabowo secara satire? Udah hampir siang dan harus tayang nanti sore lho," demikian pesan itu.

Itu adalah pesan dari seorang teman yang bekerja di penerbit. Ia memintaku menulis sebuah naskah tentang perdamaian Jokowi dan Prabowo untuk diubah menjadi skenario pertunjukan.

"Oh iya, ini tinggal sentuhan akhir," jawabku.

Artikel Terkait