Berbeda dari Real Madrid yang menjuarai dua dari tiga musim Liga Champions terakhir, Juventus sudah lebih dari 20 tahun gagal membawa piala tersebut ke Turin. Sekalipun selama periode tersebut mereka masuk final Liga Champions empat kali.

Jika di Eropa nasib Madrd lebih bak dibanding Juventus, maka di kompetisi  domestik Juventus jauh lebih baik dibanding Real Madrid. Sudah lima musim berturut-turut Juventus memenangkan Serie A. Dua musim terakhir Tm Nyonya Tua memenangkan gelar ganda, Serie A dan Copa Italia.  

Awal musim 2015/2016 lalu, mereka  kalah 4 kali dalam 10 pertandingan. Sempat tak diperhitungkan lagi memenangkan gelar juara Serie A namun berhasil menyalip rival-rivalnya lalu menjadi juara di akhir musim. Hal itu membuktikan belum ada klub lain di Serie A yang sekompetitif Juventus.

Dua pertandingan awal  Serie A musim ini, melawan Fiorentina dan Lazio, semuanya dimenangkan Juventus. Fiorentina dan Lazio bukan tim papan bawah Serie A. Hal itu menunjukkan konsolidasi tim musim ini lebih baik dari musim lalu.

Seluruh tim, khususnya pelatih Massimiliano Allegri, tampaknya telah belajar dari pengalaman musim lalu. Efek kehilangan Paul Pogba, sejauh ini, tak separah saat mereka kehilangan Vidal, Pirlo dan Tevez awal musim 2015/2016 lalu.

Komposisi Skuat

Musim ini Juventus berhasil “membajak” pemain vital rival-rivalnya. Miralem Pjanic dari AS Roma dan Gonzalo Higuain dari Napoli. Bersama Pogba, Pjanic  mencetak 12 umpan musim lalu. Mereka berdua adalah top skor umpan Serie A musiim 2015/2016. Sedangkan Higuain adalah top skor gol Serie A musim lalu dengan 36 gol.

Awal musim ini Juventus memang kehilangan Paul Pogba . Mantan pemain Le Havre itu kembali ke Manchester United dengan memecahkan rekor transfer sebesar 105 juta euro. Harga tersebut dibayar dalam waktu dua tahun. Jika beberapa syarat terpenuhi, Juve akan dapat tambahan 5 juta euro lagi.

Kepindahan Pogba tampaknya mampu digantikan pemain lama dan pemain baru. Pjanic menciptakan satu umpan saat melawan Tottenham Hotspur dalam laga ujicoba. Sami Khedira dan Mario Lemina cemerlang bermain pada laga pertama melawan Fiorentina.

Sami Khedira bahkan mampu mencetak dua gol dalam dua pertandingan, melawan Fiorentina dan Lazio. Gelandang juara dunia 2014 bersama tim nasional Jerman itu cemerlang bermain sebagai gelandang box to box.

Masalah utama Khediara dari musim ke musim adalah cedera. Jika tim medis Juventus mampu menjaga kebugaran Khedira, maka mantan gelandang VfB Stuttgart tersebut akan menjalani musim terbaiknya di Italia.

Mario Lemina yang menjalani debut cemerlang sebagai cadangan di musim lalu, mampu melanjutkan penampilan meyakinkannya.  Gelandang timnas Gabon itu bermain penuh dalam dua pertandingan awal.  Padahal, Lemina sempat santer dikabarkan akan dijual Juventus ke Leicester City, Stoke City dan Arsenal pada bursa transfer musim panas ini.

Secara keseluruhan, pembelian pemain-pemain baru mampu memperdalam skuat yang sudah ada. Neto tetap jadi deputi Buffon yang dapat diandalkan. Mehdi Benattia dan Danielle Rugani bisa menggantikan dan jadi kompetitor trio Barzagli, Bonucci dan Chiellini.

Rugani bermain cemerlang sebagai cadangan musim lalu. Benattia bermain baik pada laga ujicoba. Bek tengah yang didatangkan dari Bayern Munchen itu mencetak gol  saat ujicoba melawan Tottenham di Australia, akhir Juli.

Dani Alves, bek kanan yang didatangkan dari Barcelona, menjadi kompetitor ketat Stephen Lichsteiner. Pada posisi bek kiri, Alex Sandro semakin matang jadi kompetitor sekaligus pengganti Patrice Evra yang menua namun menemukan kembali masa emasnya di Juventus.

Kedatangan Gonzalo Higuain dari Napoli membuat lini depan Juventus makin seram. Duet Higuain dan Dybala adalah duet top skor dan runner up top skor Serie A musim lalu. Mario Mandzukic yang bertahan di Juventus Stadium juga mencetak gol dalam laga pra musim.

Drama Transfer Saat Tenggat Waktu

Drama transfer terjadi lagi di tenggat waktu musim ini. Pada akhir waktu bursa transfer musim 2015/2016 lalu, Juventus hampir mendapatkan Julian Draxler dari Schalke 04. Sebelum gelandang Jerman itu memutuskan pindah ke Vfl Wolfsburg.

Juve akhirnya melakukan pembelian panik. Hernanes didatangkan dari Inter Milan. Gelandang Brazil tersebut memang sudah tidak menjadi bagian dari skema permainan Roberto Mancini, pelatih Inter saat itu. Hasilnya, performa Hernanes tak menggembirakan.

Pada tenggat waktu transfer  awal musim 2016/2017 ini, Axel Witsel hampir pasti didatangkan dari Zenit St Petersburg. Sehari sebelum deadline tanggal 31 Agustus, Witsel dikabarkan telah lulus tes medis di Turin.

Kesepakatan 18 juta euro plus bonus 2 juta euro yang, menurut kabar, telah disetujui akhirnya tidak terjadi. Kabarnya, Zenit menaikkan harga. Klub asal Rusia tersebut ingin mencari pengganti Witsel sebelum melepasnya ke Juve.

Pada jam 23.00 tanggal 31 Agustus, Zenit akhirnya menolak mengizinkan Witsel pindah ke Turin. Juve dilaporkan sempat menawar Danielle Baselli sebagai pengganti Witsel di menit-menit akhir. Gelandang Torino tersebut dihargai Juve sebesar 24 juta euro. Tapi transfer itu tak terealisasi.

Gagalnya transfer Witsel berdampak pada nasib Hernanes. Juventus batal melepas Hernanes pindah ke Genoa. Kabar sebelumnya menyatakan Hernanes akan dilepas ke Genoa jika Juventus berhasil mendapatkan Witsel.

Axel Witsel adalah buruan lama Juventus. Sejak awal musim lalu, gelandang Belgia itu telah memikat La Vecchia Signora. Dapat diduga, mendatangkan Witsel adalah rencana Juve memperkuat lini tengah setelah kepergian Paul Pogba.

Di samping kegagalan transfer Witsel, deadline transfer awal musim ini juga berbuah manis bagi Juventus. Juan Cuadrado akhirnya dipinjamkan Chelsea senilai 5 juta euro dengan kewajiban membeli sebesar 20 juta euro. Pembelian itu dilakukan setelah jumlah pertandingan tertentu.

Drama transfer Cuadrado sendiri cukup unik. Bermain cemerlang selama masa peminjaman musim lalu, Juve berniat membeli Cuadrado.  Penunjukan Antonio Conte sebagai manajer Chelsea, memperumit situasi Juve. Conte adalah mantan pelatih Juve yang telah lama meminati Cuadrado.

Konon keengganan Chelsea menjual Cuadrado ke Juve adalah respon penolakan Juve terhadap tawaran klub London Selatan itu pada Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Namun akhirnya Cuadrado dilepas Chelsea. Gelandang timnas Kolombia itu tampaknya tak masuk skema permainan Conte musim ini.

Kelemahan

Kebobolan 2 gol saat melawan West Ham dan 1 gol melalui duel udara lewat bola mati saat melawan Fiorentina, harus jadi pelajaran.  Koordinasi pertahanan harus lebih ditingkatkan lagi karena Juve punya deretan bek tengah  dengan tinggi 185 cm ke atas.

Berkomposisi bek tengah seperti Leonardo Bonucci (190 cm), Andrea Barzagli (186 cm), Giorgio Chiellini (187 cm), Mehdi Benatti (190 cm) dan Danielle Rugani (190 cm), tidak masuk akal jika Juve kalah duel udara. Melihat deretan bek tinggi kelas dunia tersebut, Juve hanya perlu merapat rapikan organisasi pertahanan saat menghadapi bola mati.

Terkunci matinya serangan Juventus saat melawan Lazio, menjadi sinyal tim membutuhkan kreator serangan lain saat Pjanic cedera. Untung saja saat itu mereka mampu menang lewat gol tunggal Sami Khedira.

Setelah gagal mendatangkan Marcelo Brozovic, Mateo Kovacic, Axel Witsel dan Danielle Baselli, pelatih Massimiliano Allegri bisa mencoba formasi tridente Dybala, Higuain Mandzukic. Musim lalu Dybala mencetak 73 peluang termasuk 9 umpan. Rataan akurasi umpannya mencapai 85%. Modal cukup untuk menjadi kreator serangan.

Gonzalo Higuain dan Mario Mandzukic bisa saja dicoba berduet di lini depan. Keduanya punya karakteristik permainan berbeda. Mario Mandzukic adalah tipe ujung tombak yang tajam di kotak penalti dan unggul duel udara.

Sedangkan Higuain adalah striker yang handal menggiring bola dan mampu menciptkan peluang. Musim lalu, Higuain membuat 51 peluang. Rerata akurasi operannya pun mencapai 78%. Sekalipun mantan pemain River Plate tersebut punya catatan gol yang mengagumkan, Higuain lemah dalam duel udara. Kelemahan tersebut bisa dilengkapi Mandzukic.

Di awal karirnya, Higuain berposisi sebagai gelandang. Wajar jika mantan pemain Real Madrid itu mampu menggiring bola, memberi operan dan menciptakan peluang. Higuain difungsikan sebagai striker ujung tombak setelah melihat catatan golnya sebagai gelandang sangat memuaskan. 

Tantangan di Kompetisi Eropa

Melihat sudah didominasinya kompetisi domestik Serie A selama lima musim berturut-turut dan Copa Italia selama dua musim terakhir, menjadi juara di Italia kini hanya kebiasaan bagi Juventus. Direkrutnya pemain-pemain vital  dari para kompetitor sengit mampu melemahkan rival-rival Juventus di Serie A.

Napoli dan AS Roma asal klub Higuain dan Miralem Pjanic sebelum memperkuat Juventus merupakan klub-klub saingan Juve. Kedua klub tersebut relatif konsisten berada di tiga besar klasemen akhir Serie A selama beberapa musim terakhir.

Penyesalan direktur Umum dan Olahraga Juventus, Giuseppe Marotta dan pelatih Massimiliano Allegri setelah Juve disingkirkan Bayern Munchen dari Liga Champions musim lalu menyiratkan hasrat besar tim meraih trofi tersebut. 

Hanya kalah di final Liga Champions musim 2014/2015 melawan Barcelona menandakan sebenarnya Juventus berada pada level yang sama dengan klub klub besar Eropa. Kapten Gianluigi Buffon pun menegaskan target utama Juve musim ini adalah menjuarai Liga Champions.

Berhasil mengumpulkan para pemain terbaik Serie A dalam satu tim, merupakan sinyal kuat untuk menaklukan Eropa. Walaupun itu belum jadi jaminan. Beberapa musim terakhir, Bayern Munchen di bawah Pep Guardiola yang mendominasi kompetisi  Jerman belum berhasil lagi menjuarai Liga Champions. Padahal  mereka mengumpulkan pemain-pemain tebaik Bundesliga seperti Mario Goetze dan Robert Lewandowski. Terakhir Munchen menjuarai Liga Champions musim 2012/2013 di bawah Jupp Heynckes.

Bermaterikan skuat paling mewah di Italia saat ini, standar prestasi bagi Juventus semakin meninggi. Menjuarai Serie A dan Copa Italia hanya akan dianggap raihan rutin saja. Gagal juara Serie A akan jadi bencana . Yang disebut sebagai prestasi bagi Juventus saat ini adalah jika mereka berhasil menjuarai Liga Champions.   

Sumber:  http://www.calciomercato.com/en, http://www.football-italia.net/ , http://www.gazzettaworld.com