Lecturer
1 tahun lalu · 6195 view · 4 min baca menit baca · Budaya 35181_75902.jpg
noijam.com

Mengapa Hidup Manusia Menderita?

Pernahkah Anda merasa terpuruk dalam hidup dan sedih tak terkira, sehingga derita itu berat tak tertanggungkan?

Barangkali semua orang pernah, tergantung pada kadar penderitaannya dan bagaimana pula menyikapinya. Ada yang menahan diri dan bersabar menghadapi, ada yang mencari pelarian dalam beragam bentuk, bahkan ada yang menghabisi nyawanya sendiri karena tak sanggup mengatasi penderitaan yang dialaminya.

Penderitaan merupakan peristiwa yang ingin dihindari oleh semua orang, tetapi ia tak terhindarkan, karena ia sekuel hidup yang memiliki dua sisi mata uang dengan kebahagiaan.

Sumber Penderitaan

Dari mana sesungguhnya penderitaan berawal? Para arif bijaksana merumuskan, penderitaan berawal karena seseorang diperbudak oleh keinginan atau hasrat. Tentu, tak ada yang salah dengan keinginan, karena keinginan merupakan ciri hidup manusia. Tanpa keinginan, seseorang tak akan punya cita-cita dan gairah hidup.

Keinginan bisa menjadi sumber penderitaan, ketika ia menjadi rakus, berlebihan dan tak merasa cukup atas kebutuhannya. Tak sedikit orang yang hancur kehidupannya, karena ia tak bisa mengontrol keinginan yang tak sesuai dengan kadarnya. 

Karena itu, menurut Epikuros, seorang filsuf Yunani yang hidup pada 341- 271 SM, kita harus bisa mengawasi dan menata keinginan dengan memperhatikan pada apa yang kita punya dan apa yang sudah ada, bukan pada apa yang tidak kita punya dan pada yang tidak ada.


Sumber derita lain adalah karena prilaku buruk seseorang. Misalnya, seorang suami yang berselingkuh dalam perkawinan. Ia tak hanya melukai batin istrinya karena kepercayaannya dikhianati, komitmen perkawinannya diingkari, dan cintanya disekutukan, tetapi juga melukai anak-anak dan keluarganya, sahabat-sahabatnya dan komunitas di mana ia berasal. 

Tak sedikit kesakitan ini dibawa mati oleh pasangannya, karena luka batin yang berakibat pada penderitaan fisik. Misalnya, karena kanker, jantung dan jenis penyakit lainnya yang mempunyai daya bunuh tinggi.

Penderitaan pun akan dirasakan pelaku perselingkuhan tersebut. Ia harus menutupi kebohongan demi kebohongan dalam perselingkuhannya, dan apa yang sudah dirintis dan dibangunnya bisa berantakan karena kehilangan konsentrasi. Bahkan dalam masyarakat terpelajar, pelakunya kemungkinan dikucilkan, karena perilaku tersebut dipandang tak beradab yang bisa menghancurkan reputasi seseorang.

Demikian pula dengan korupsi. Umumnya pelaku korup adalah elite yang punya kesempatan melakukannya, bukan mereka yang miskin harta dan dari masyarakat lapisan bawah. 

Tetapi karena semangat menimbun harta tinggi, sebanyak apa pun yang mereka punya, mereka tak pernah merasa cukup. Akibatnya, hidup mereka hancur, bukan hanya diri dan keluarganya yang membuat mereka malu, tetapi tak sedikit yang meninggal di jeruji besi dengan membawa malu.

Sumber penderitaan lainnya adalah rasa sakit, baik psikis maupun fisik. Seorang teman yang pernah mengalami sakit stroke bercerita, penderitaan terberat dalam sakitnya adalah bukan sakit stroke itu sendiri, melainkan karena depresi. Tiba-tiba ia tak berdaya, merasa ditinggalkan oleh keluarga dan teman-temannya, juga karena tak diempati atas sakitnya tersebut. 

Jika ia tidak menyadari bahwa musuh terbesarnya adalah depresi, kemungkinan besarnya ia tak akan berumur panjang. Ketika ia agak mulai pulih, hal yang ia lakukan adalah menjenguk teman-temannya yang mengalami sakit yang sama dan memberikan penghiburan bahwa hidupnya tak sendiri. Mereka harus mampu melawan depresi.

Agama dan Penderitaan.

Agama sejatinya adalah penghiburan bagi orang-orang yang menderita. Beragam ayat dalam kitab suci mencerminkan hal tersebut. Misalnya pada ayat "Sesungguhnya jika ada kesulitan, pasti akan dijumpai kemudahan" (Asy-Syarh: 5-6), dan perintah untuk bersabar dan salat sebagai penolong (al-Baqarah (2): 45-46). Tersirat, perintah bersabar adalah karena adanya penderitaan dan pelbagai kesulitan.

Demikian pula mengenai kisah-kisah para nabi. Nabi Muhammad, misalnya, terlahir sebagai yatim, ditinggalkan ibunya di usia enam tahun pada saat kehadiran ibu sangat dibutuhkan. Ditinggalkan kakeknya Abdul Muthallib di usia delapan tahun, dan pada saat berjuang menyampaikan risalahnya, ia bahkan ditentang oleh saudara-saudaranya sendiri seperti Abu Jahal.

Demikian pula kisah tentang Nabi Ayyub. Ia disimbolkan al-Qur'an sebagai Nabi paling sabar yang pernah ada. Dikisahkan ia menderita sakit selama 18 tahun. Semasa sakit, ia ditinggalkan oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya. Hanya dua orang yang memperhatikannya. 

Tetapi Ayyub sabar menghadapi ujian ini, sehingga al-Qur'an merekam kesabarannya sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya) (QS. Shad: 44)". Karena kesabaran tingkat dewa ini, Tuhan mengganjarnya dengan mengembalikan keluarganya, harta benda yang pernah dipunyainya serta sejumlah karunia lebih.


Dalam pelbagai narasi ajaran Islam, bagi orang baik, pelbagai penderitaan yang dialami manusia merupakan bentuk kecintaan Allah kepadanya. Ia merupakan ujian untuk menempa orang yang dicintainya, dan sebagaimana dinyatakan Jalaluddin Rumi dalam kitab Fihi Ma Fihi, ia merupakan tangga demi tangga yang harus dilalui untuk memperoleh kemuliaan. 

Sebaliknya, bagi orang yang berjiwa kotor, penderitaan demi penderitaan akan terus berulang, jika ia tak belajar dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain yang mampu menyadarkannya dari kesalahan demi kesalahan yang dilakukannya.

Agama yang sangat jelas merumuskan bahwa hidup merupakan penderitaan (dukkha) adalah agama Buddha. Kata Buddha, seseorang pasti menderita karena kelahiran, menjadi tua, sakit, kematian, penyakit dan keinginan yang tak tercapai. 

Seseorang bisa bebas dari penderitaan, kata Buddha, jika seseorang telah mempraktikkan hidup Jalan Mulia Berunsur Delapan, yakni pandangan yang benar, pikiran atau niat benar, ucapan benar, perbuatan yang benar, rejeki dari usaha yang benar, perhatian atau perenungan benar, dan konsentrasi atau kesadaran benar. Kedelapan unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan seperti seutas tali yang saling memengaruhi.

Dalam ajaran Buddha dan Islam, juga ajaran spritualitas lainnya, sia-sialah kita menemukan kebahagiaan di luar diri, misalnya laki-laki mencari kesenangan pada perempuan dengan cara berselingkuh, perempuan dengan hidup konsumtif, meraih kekuasaan dengan cara yang jahat, karena kebahagiaan tersebut hanya bersifat semu.

Seperti anak kecil yang merengek meminta mainan, tapi setelah mainan itu diperoleh, maka ia akan cepat dan segera meninggalkannya, karena ternyata apa yang ia bayangkan tentang kebahagiaan, tidak seperti yang ia temukan. 

Kebahagiaan tersebut bisa kita temukan dalam diri kita, dari pikiran dan hati yang jernih, dari olah rasa, olah pikir dan olah raga yang tercermin dalam perbuatan dan tindakan kita.

Artikel Terkait