2 tahun lalu · 592 view · 6 menit baca · Politik melawan-rasa-takut.jpg
Ilustrasi: sarungpreneur.com

Mengapa Harus Takut?

Kalau bintang merah sudah di tengah,
itu bertanda kami bangkit dan melakukan perlawanan.
Apa yang membuat diri ketakutan?
Ketakutan hanyalah bayang-bayang yang sangat menakutkan…

(Wiji Tukul, Sajak Bintang Merah)

Takut adalah citra diri yang terbelah. Kita tahu bahwa itu salah, tahu bagaimana kita harus memberi respon, tetapi takut untuk melawan dan menghadapinya. Dan satu-satunya pelarian adalah bersikap tidak tahu lalu memilih untuk diam. Sebuah mental kaum tertindas yang masih banyak kita derita.

Merebaknya isu komunis dan atau PKI belakangan ini, secara ironis berhasil membuat banyak pihak tampak takut. Jangankan masyarakat sipil seperti kita ini, aparat negara seperti Polri/TNI pun tampak kebakaran jenggot. Itu berbuntut pada aksi kelucuan dalam penyikapan yang diberikannya.

Dengan harapan membendung “bahaya komunis”, aparat negara (militer) seperti yang dikomandoi langsung oleh Menteri Pertahanan kita, dengan gagahnya melancarkan berbagai perampasan dan pemberangusan atas sejumlah atribut, simbol, dan semua yang diidentikkan dengan komunisme.

Gambar-gambar palu-arit beserta lambang-lambangnya, lagu “genjer-genjer”, buku-buku “kiri”, bahkan individu yang dianggap komunis, semua disikapi secara membabi-buta dengan bumbu kekerasan. Alhasil, kebebasan berekspresi dan berkumpul pun terancam eksistensinya.

Hebatnya lagi, presiden kita (Jokowi) yang punya segudang pengaruh itu juga ikut bingung, panik, dan membisu. Ia tampak tak bisa berbuat apa-apa dalam memberi sikap. Sekali ia memberi, yang tampak adalah kemenduaan di dalamnya. Tidak tegas. Tidak berani ambil risiko. Ada udang apa di balik semua ini? Yang jelas, semua seolah ingin menghindar meski sebenarnya tahu bahwa mereka tak mampu untuk menghindarinya.

Naluri Rasa Takut

Secara esensi, rasa takut adalah satu dari sekian banyak naluri dasar yang bernaung dalam jiwa manusia. Seperti dicatat oleh Francisco J. Moreno, perasaan semacam ini sangat besar pengaruhnya dalam mendorong terwujudnya tingkah laku manusia.

Bahkan sejarah manusia ditunjukkan sebagai sejarah yang menggambarkan usaha manusia untuk menolak, menekan atau menghindarkan diri dari perasaan takut (Agama dan Akal Pikiran, Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusia, 1985).

Sebagai naluri dasar (kondisi alami manusia), setidaknya ada dua sumber mengapa rasa takut itu muncul ke permukaan. Pertama, adanya ancaman yang manusia lihat secara langsung dan mengancam secara nyata. Semisal ruang hidup yang telah sekian lama kita huni harus digusur pemerintah lantaran dinilai tidak tertib atau melanggar hak izin membangun bangunan.

Maka tentu, di dalam keadaan seperti ini, rasa takut itu muncul sebab ancamannya secara langsung dan nyata terhadap wujud keberadaan kita.

Sumber rasa takut yang kedua adalah lenyapnya simbol-simbol atau tanda-tanda keselamatan. Kita takut karena merasa hidup kita dalam keadaan bahaya atau terancam, tetapi letak sebenarnya itu sulit untuk kita temukan. Sebagai contoh, perasaan takut yang kita rasakan jika kita berada dalam ruang gelap. Meski keadaan seperti ini nyata adanya, sumber ancamannya sendiri masih kabur dan tidak jelas.

Inilah yang disebut J. Moreno sebagai perasaan takut yang tidak tertentu dan tidak terarah (nonspecific or unfocused fear). Kita tak mampu menghubungkan rasa takut dengan keadaan bahaya yang jelas arah atau asal-usul sumbernya.

Meski jenis rasa takut yang kedua ini sangat berhubungan dengan ketidaksanggupan kita dalam menghubungkannya dengan bahaya-bahaya yang ada secara langsung dan nyata, hal demikian ini bukan berarti bahwa ia tidak penting atau harus kita tiadakan dalam bahasan ini. Justru jenis rasa takut yang kedua inilah yang sangat tampak dalam realitas perkembangan isu komunis yang hari ini semakin marak mendominasi ruang-ruang kesadaran dan hidup kita.

Ketakutan Manipulatif dan Sikap Apolitis

Sebagai bangsa yang tengah dalam perkembangan, kita tentu tak mau jika “ketakutan massal” terus-menerus bersemayam di alam pikir dan kesadaran kita. Selain hanya akan memandekkan cara berpikir dan bertindak kita sendiri, optimisme akan masa depan yang cerah pun sangat mungkin tidak akan kita dapati. Alhasil, kita hanya akan kembali ke ranah keterpurukan untuk kesekian kalinya.

Tentu saja, takut pada komunis atau PKI memang satu kewajaran. Apalagi kita tahu bahwa sejarah kelam kelompok ini sangat identik dengan sejarah paling terpahit yang pernah dialami bangsa kita, yakni pembantaian massal yang besar-besaran itu. Akan tetapi, ketika kita mampu berpikir menurut konteks dewasa ini, tentu bukanlah ketakutan itu didasarkan pada masa kelam, melainkan semacam politik “adu-domba” para elite yang berkepentingan.

Sekilas menengok sejarah, komunisme, seperti juga marxisme dan leninisme, adalah pedoman umum orang-orang komunis. Di Indonesia dulu, PKI menjadi ruang pertarungan ide dan gagasan mereka untuk sekadar menyampaikan aspirasi ke tingkatan nasional. Bisa dikatakan, partai politik ini menjadi satu-satunya alat potensial bagi mereka (kaum komunis) guna menggaungkan pandangan ekonomi politik dan kekuatan massa yang dimilikinya.

Seiring berjalannya waktu, partai politik kaum komunis ini berhasil menjadi salah satu partai terkuat dan terbesar di Indonesia. Di samping karena kemasifan mereka dalam menyebar propaganda “kemakmuran” bagi rakyat, kondisi ekonomi-politik rakyat Indonesia sendiri serta dukungan finansial dari China dan Rusia misalnya, menjadi faktor kebangkitannya partai politik ini.

Itulah mengapa partai ini kuat, besar, hingga hampir tak tertandingi oleh partai-partai yang sudah eksis lebih dulu di zamannya.

Meski demikian, ditinjau dari perkembangannya sampai hari ini, eksistensi partai komunis tak pernah betul-betul eksis secara utuh. Bahkan bisa dibilang, yang terlihat adalah redup atau matinya sama sekali gerakan-gerakannya di wilayah ekonomi-politik. Dipaksakan bagaimanapun, eksistensinya tetap akan terbentur mengingat demokrasi telah menjadi citra ideal dalam pembangunan dan pengeloaan suatu masyarakat negara.

Kembali ke soal ketakutan akan “bahaya komunis”, hingga hari ini saya menilai bahwa ketakutan yang disuguhkan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan sejarah kelam orang komunis dengan PKI-nya. Bahkan lebih jauh, saya percaya bahwa ketakutan itu hanyalah rekaan semata untuk tujuan-tujuan apolitis: memicu konflik, fitnah, adu-domba, dan segala macam jenisnya.

Menyadur ungkapan Arie Hartanto, ketakutan ini bukanlah ketakutan yang wajar. Sekali lagi, ketakutan ini hanyalah rekaan belaka—ketakutan manipulatif. Semacam politik adu-dombanya para penjajah yang pernah hidup tanpa menghidupi bangsa kita ini.

Mengapa isu ini dimunculkan? Sebagai politik adu-domba di kalangan elite, upaya ini menjadi taktik tersendiri dalam rangka menyambut pagelaran politik yang sebentar lagi akan tersua. Tujuannya hanya satu tapi licik, yakni bagaimana menjatuhkan elektabilitas seorang kandidat yang memang punya sumber kekuataan, terutama kekuatan massa.

Ya, merebaknya isu kerdil ini hanyalah sekadar bagaimana mempengaruhi kesadaran massa rakyat. Karena memang, di era demokrasi seperti sekarang, kekuatan massa rakyatlah yang jadi penentu akhir seseorang jadi pemimpin atau penguasa. Terlepas dari sisi buruknya proses demokrasi model  ini.

Melalui isu komunis, ada harapan kuat dari para penebarnya untuk merangkul mereka yang hampir tak mungkin lagi dirangkul itu. Dengan digelontorkannya isu semacam ini, mereka seraya hendak berkata: “Jangan pilih ini, jangan pilih itu! Mereka komunis, mereka orang-orang PKI! Tahu kan masa kelam kelompok ini?” Sebuah taktik politik yang apolitis, klasik nan licik.

***

Meski cara-cara seperti itu terkesan sia-sia, kita pun tentu harus waspada setiap saat. Meski banyak orang telah menilai bahwa masyarakat kita telah cerdas, mereka tak bisa lagi dikibuli dan tahu bahwa mereka tengah dikibuli, tetap saja ini bukan jaminan utama untuk tidak memberi respon sebagai bentuk perlawanan kita kepada para penebar teror dari orang-orang munafik itu.

Mengapa kita harus tetap waspada dan harus giat melakukan perlawanan atasnya? Pertama, masyarakat kita belum sepenuhnya cerdas. Mereka bisa saja memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Hanya saja, ketika uang sudah bicara, fakta memperlihatkan bahwa mereka pada akhirnya bisa luluh dan berbalik melawan intelektualitasnya sendiri.

Kedua, pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya punya kekuatan tangguh untuk berbuat apa saja demi mencapai tujuan akhirnya. Bagaimana kita harus melawan militer dengan senjata lengkap di samping kiri dan kanannya itu? Jangankan senjata, dali-dalih agama sekalipun masih sulit untuk kita lawan.

Kaum munafik yang mengaku sebagai alim-ulama itu masih punya kekuatan besar dalam hal meperdayai mereka yang lemah secara pemikiran (agama). Dan sialnya, mayoritas dari kita masih tergolong lemah secara pemikiran.

Ketika presiden saja tak mampu berbuat apa-apa, terlebih aparat-aparat negara terbelah dua, siapa lagi yang akan mengemban amanah perlawanan ini selain kita? Ya, kita harus melawan, paling tidak melawan rasa takut kita sendiri sekaligus penjajahan kesadaran itu. Tetapi mampukah kiranya dengan segala keterbatasan yang kita miliki ini?