Mengabadikan nama, memburu rupiah/royalti dan ketenaran, mudah lupa, emotional and intellectual happiness, berdakwah lewat tulisan sebagai profit dunia akhirat, menulis kebutuhan primer dunia akademik, dan menulis bisa membawa ke arah konstruktif maupun destruktif.

Alasan di atas merupakan sebab mengapa harus menulis dan masih banyak alasan-alasan lain tentang tulis menulis. Penulis Qureta misalnya, memberi inspirasi dan berbagi ide kepada pembaca karena memang moto dari Qureta sendiri adalah tempat berbagi ide.

Nawal el-Sa’adawi, tokoh berpengaruh dan feminis sejati ini menulis untuk menentang ketidakadilan kepada perempuan di negerinya sendiri, Mesir dan itu ditunjukkannya melalui novel masyhurnya “Perempuan di Titik Nol.” Bagi el-Sa’adawi menulis adalah nafas, bersuara, dan ekspresi diri.

Menulis juga merupakan usaha Rasulullah untuk bisa dipelajari umat Islam ketika itu. Tulis menulis sesuatu yang baru dikenal oleh bangsa Arab karena kebanyakan mereka buta huruf, tulis menulis belum dikenal, kecuali setelah Islam datang dan diarahkan langsung oleh Rasulullah setelah Perang Badar. (Samih Kariyyam: 2005).

Atas usaha ini, lahirlah penulis-penulis wahyu seperti Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Abdullah bin Sarah. Pendidikan menulis memberi pengaruh besar dalam penulisan Alquran, hadis, dan mengarsipkan tradisi dari orang Arab itu sendiri, yaitu syair-syair Arab.

Selain membaca, menulis juga merupakan urgen bagi kehidupan. Menulis adalah aktivitas yang membutuhkan pemikiran rasional, seni mengolah kata yang berasal dari suara hati, memilih diksi yang tepat, dan memikirkan kata yang memiliki makna: Andrea Hirata menyebutnya sebagai possibility.

Menulis mencurahkan isi hati dan menggerakkan pikiran. Kegelisahan hati dan gejolak pikiran diungkapkan lewat bahasa tulisan membutuhkan ruang dan waktu yang tepat dan sesuai dengan psikologis si penulis.

Misalnya menulis di kesunyian malam, pagi hari di saat-saat pikiran masih segar, di alam terbuka yang asri dan teduh, menyediakan secangkir kopi untuk menemani aktivitas menulis, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian penulis, menulis mempunyai filosofi tersendiri. Bagi saya filosofi menulis itu seperti air, mengalir tanpa henti dan konstruktif dan juga sebagai terapi diri (self healing) dari hiruk-pikuk kehidupan yang penuh pilu dan kesedihan, terpuruk di perjalanan hingga benar-benar jatuh ke jurang yang menyesakkan.

Terpuruk membuat seseorang tidak bahagia dan hampir saja menjadi musyahid. Tidak mudah bangkit dari keadaan terpuruk. Jika Qays pergi ke rimba belantara hingga menjadi raja hutan karena cintanya yang tak sampai hingga ia menjadi gila hanya untuk merindui pujaan hatinya, Layla.

Maka saya menyusuri lorong waktu dengan tetesan keringat dan air mata. Menyusuri lorong waktu dengan membaca dan menulis membuat semangat kembali pulih dan bergairah dan hari-hari pun dijalani dengan tetesan air tinta yang sebelumnya dengan tetesan air mata.

Menggoreskan pena di kesunyian malam, dari suara hati ke secarik kertas untuk mengabarkan sayap-sayap patah dan membasuh pilu. Senyum dalam kesedihan, sepi dalam keramaian, dan tawa dalam tangisan mencurahkan perasaan untuk membawa kebahagiaan dan kepuasan batin.

Berbicara masalah terpuruk yang membuat jiwa seseorang terguncang dahsyat, bisa dikarenakan hilang cinta atau cinta tak sampai, pekerjaan atau hal lain yang membelenggu kehidupannya. Seperti dialami BJ Habibie, jiwanya terguncang karena ditinggal Ainun, bunga kehidupan dan cinta sejatinya.

Cinta Habibie pada Ainun sangat kuat, kekuatan cinta berpisah dengan kematian sehingga setelah kepergian separuh jiwanya, Habibie terperangkap dalam samudera emosional yang bergejolak dan terkoyak, sewaktu-waktu dapat menghisap ke pusaran yang amat deras dan ganas.

Mathay dalam novel “Habibie dan Ainun” menyebutkan bahwa “BJ Habibie sebagai black hole suatu kondisi psikosomatic malignan di mana gangguan emosional berdampak negatif pada sistem organ vital manusia, sehingga menjadikan seseorang yang ditinggalkan pasangannya jatuh sakit yang progresif.

Kemudian tim dokter memberi alternatif kepada Habibie untuk mencegah jatuh pada black hole tersebut, salah satu alternatif ialah melakukan kegiatan yang melibatkan secara intensif pikiran maupun emosional, yaitu dengan menulis.

Self healing dilakukan Habibie dengan aktivitas menulis, terbitlah novel “Habibie dan Ainun” sebuah kisah cinta dari seorang pencinta sejati, kesetiaan dalam menggenggam cinta, kekuatan cinta dan perjuangan hidup membuat Habibie dan Ainun menjadi inspirasi bagi generasi muda.

Nah, mengapa harus menulis? Salah satu jawabannya adalah untuk terapi diri. Dilanda terpuruk, kegalauan, kegelisahan, jiwa yang terguncang dan terkoyak oleh hiruk-pikuk kisah kehidupan. Menulis merupakan obat untuk menyembuhkannya.

Apa yang ada dalam pikiran dan hati bisa dituangkan dengan bahasa tulisan, lewat tulisan seseorang bisa lebih tenang atau bahagia setelah tulisannya selesai. Penulis novel ternama J.K. Rowling pun, mengatakan “Tuliskanlah hal-hal yang kamu ketahui: tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Menulis Tanda Pernah Hidup

Dengan menulis nama abadi sepanjang masa, walaupun jasad telah tiada dan menandakan bahwa kita pernah hidup di dunia. Ungkapan terkenal datang dari Pramoedya Ananta Toer mengatakan “Kamu boleh saja pintar setinggi langit, tapi sebelum kamu tidak menulis maka kamu akan tenggelam dalam sejarah.”

Ilmuwan dan pemikir-pemikir Islam terdahulu tetap dikenang hingga hari ini, ide dan pikirannya terus ditelaah tanpa henti oleh penuntut ilmu melalui tulisannya. Imam al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan pemikir-pemikir Islam lainya adalah bukti mereka abadi dengan tulisan.

Ingin menghidupkan hidup dan ingin ada tanda bahwa pernah hidup?

Yuk Menulis!