Umumnya diketahui peradaban menulis berawal di Yunani. Sebuah peradaban yang bagi Immanuel Kant diilhami dan merupakan Aufklarung pertama. Argumen Kant berdasar dari para filsuf Yunani yang berhasil melepaskan pengaruh Dewa-Dewa dan sebuah kulminasi dari rasionalitas sebagaimana pencerahan yang terjadi di Eropa abad ke-18 M.

Namun, tentu saja tulisan atau pun aktivitas menulis yang kita ketahui tentang Yunani sampai dewasa ini. Dengan rangkaian alfabetis, kemudian disusun menjadi struktur kata, kalimat hingga dicetak menjadi literatur. Bukanlah sesuatu yang turun atau jatuh dari langit.

Dengan kata lain, alfabetis adalah hasil kontruksi dari peradaban yang lampau. Lebih tepatnya, sebelum terpukau dengan syair-syair Homerus dan Hesiodus, atau bagaimana ribuan literatur lahir dari tangan para filsuf. Aktivitas menulis dimulai dari sebuah peradaban di Mesir sekitar 4.000 tahun SM yang, "bermula dengan gambar-gambar dan objek yang diacu, sampai pada bentuk ideogram-ideogram". Dan setelah ribuan tahun sesudahnya, dengan sistem yang rumit dan bertele-tele itu, berkembang menjadi tulisan alfabetis dan dikonvensionalisasi dengan cepat.

Rangkuman dari peradaban Mesir dengan seni menulisnya. Diulas dalam Sejarah Filsafat Barat pada "bagian awal". Buku yang tulis oleh Bertrand Russell dan diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko dkk -- adalah sebuah buku yang memaparkan kepiawaian Barat (Yunani) dan mengapa mereka layak dipelajari, hingga apa pengaruh mereka di masa sekarang -- yang secara singkat menjelaskan, bahwa penemuan tersebut (aktivitas menulis) diwariskan kepada orang-orang Yunani dan kemudian direkonstruksi, melalui bangsa Phoenecia yang menerima pengaruh dari Mesir dan Babilonia.

Aristocles (Platon) dan Aristoteles termasuk dua tokoh utama yang paling mewarisi. Sedikitnya ada puluhan literatur yang mereka tulis, dan termasuk bagaimana orang-orang mengetahui alegori kematian Socrates dan beberapa filsuf lainnya berserta "pemikiran" mereka yang membangkitkan alam filsafat Yunani.

Dari peradaban Yunani yang begitu masif dengan literatur-nya, sampai dengan perkembangannya di seluruh dunia. Tentunya jika tidak ada yang menulis, maka hampir bisa dipastikan manusia di awal abad ke 21 ini tidak mengatahui apa-apa. Terutama pengetahuan tentang agama-agama monoteis (bertuhan satu) yang mendominasi peradaban umat manusia.

Wabilkhusus yang ingin saya sentil, adalah bagaimana Islam (sebagai satu korelasi terhadap populasinya yang terus meningkat di Indonesia, dan merupakan penganut terbanyak di dunia), yang diidentifikasi dari Al-Qur'an dan Hadis, sekaligus Muhammad Saw sebagai Nabi dan sosok (manusia) yang banyak menginspirasi. Pastinya melalui tulisan atau dalam bentuk literatur yang sudah berusia kurang lebih seribu empat ratus sekian tahun yang lalu.

Secara garis besar, proses dan kontinuitas peradaban manusia sampai sejauh ini, bisa dikatakan merupakan bagian dari eksistensi literatur. Sederhananya, kitab-kitab dan ilmu pengetahuan di masa lampau tidak akan diketahui di masa sekarang. Dan pada aspek mendasar, yakni moralitas dan konsepsi etika tidak akan diterapkan, (meskipun tidak sepenuhnya), sebagaimana keduanya (moralitas dan etika) adalah sebagai pengetahuan yang mengatur kehidupan normatif manusia.

Selain itu, bisa ditinjau dengan sederhana bahwa apa yang menimbulkan diskursus atau bersifat dialektis dalam realita adalah, karena pengaruh literatur dalam bidang-bidang tertentu. Beberapa bidang yang paling diskursif, yakni agama, sosial, politik dan ekonomi yang, sekalipun tidak dibaca atau diverifikasi secara keseluruhan. Namun, di dalamnya terdapat referensi literatur.

Lebih dalam lagi (referensi literatur), adalah sebagai "upaya" paling dasariah untuk membongkar segala jenis indoktrinasi, spekulasi dan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat apriori. Termasuk bagi siapapun yang menyaksikan pelbagai fenomena dengan "klaim" dan "disrupsi" yang merupakan tema besar di era saat ini.

Maka itu, tidak berlebihan jika "dikatakan" bahwa betapa pentingnya menulis. Sekalipun tidak semua orang bisa melakukannya. Jawaban untuk mengapa harus menulis. Selain untuk melanjutkan estafet literer seperti apa yang kita pelajari dari masa lampau, ditelaah saat ini dan kemungkinan lainnya adalah menentukan masa depan. Sekaligus adalah jawaban bagi siapa saja yang terpapar atau kerap tiba pada kesimpulan, supaya bagaimana bisa menulis, apalagi menulis dengan bagus. 

Menggeluti dunia tulis menulis memang bukanlah persoalan mudah. Jika melihat para penulis handal dengan puluhan, bahkan ratusan karya mereka. Pastinya kita bukanlah siapa-siapa, kita akan merasa kecil dan kerdil, namun tetap harus menulis!

Optimisme untuk tetap harus menulis laiknya stamina atau impuls dari mereka yang telah menggelutinya selama puluhan tahun. Seperti bagaimana pertanyaan Hamid Basyaib yang, juga adalah seorang penulis ketika memberikan pengantar dalam Catatan Pinggir Goenawan Mohamad (12). Catatan Pinggir adalah kumpulan esai-esai yang berkisar 100 judul dari Goenawan Mohamad.

"Mengapa stamina penulisnya sedemikian tangguh, hingga ia mampu merawatnya setiap pekan selama lebih dari 40 tahun tanpa henti?"

Apa yang dimaksud dari pertanyaan Hamid Basyaib di atas. Secara filosofis memberikan "penegasan" bahwa menulis adalah sebuah proses yang rumit dan bahkan panjang. Proses yang dalam ikhwal ini merepresentasikan sosok Goenawan Mohamad atau yang akrab disapa mas Goen dan kakek Goen. 

Singkatnya, Goenawan Mohamad adalah seorang penulis kaliber, esais, seniman dan salah satu pendiri Tempo, juga Salihara. Seorang pemikir-filosof dari kerja-kerja literernya dalam menuju "perubahan sosial" sejak era Orba hingga kini.

Sehingga itu, perihal menulis adalah sebuah langkah konkret dan konsisten atau bagaimana mengasahnya terus menerus. Sekaligus repetisi yang syarat dengan berbagai konsekuensi: kegagalan, pengabaian dan bahkan penolakan yang kurang sedap.

Namun, kembali pada ikhwal betapa pentingnya menulis. Dengan maksud, peradaban manusia ditentukan dari sumber literatur. Pendeknya, apa yang ingin saya sampaikan adalah, seandainya tidak ada peradaban menulis, maka bisa jadi tidak ada peradaban saat ini, dan kemungkinan terburuknya, adalah peradaban manusia yang diselubungi kegelapan.

Selain itu, menulis, bagi saya, adalah sebuah "ajaran" tentang membangun peradaban manusia, dan sebuah observasi terhadap pengetahuan (pemikiran) yang kontras dengan realita.


Tabik


Khadafi Moehamad