Penulis
5 bulan lalu · 16268 view · 3 min baca menit baca · Politik 94521_52118.jpg

Mengapa Gatot Nurmantyo Dukung Jokowi

Nama Gatot Nurmantyo sempat digadang-gadang sebagai capres maupun cawapres 2019. Mantan Panglima TNI tersebut mulai dikenal luas sejak aksi umat Islam dan pemutaran film dokumenter gerakan 30 September.

Proses selanjutnya kita semua tahu, Gatot Nurmantyo mulai tenggelam pasca lengser dari jabatan Panglima TNI. Meski sempat didekati beberapa parpol, Gatot kini hanya jadi penonton dalam pilpres 2019.

Gatot bukan tim pemenangan dan bukan pula kader parpol manapun. Perjalanan karier politik Gatot yang diramalkan bahkan hebat ternyata malah sebaliknya.

Relawan pendukungnya kini berada di dua kubu, sebagian memilih Golput. Lalu diamkah Gatot dengan situasi ini? Apakah karier politik Gatot sudah habis?

Bisa dikatakan Gatot tidak berdiam diri apalagi apatis. Gatot sedang mempertimbangkan posisi yang pantas dimainkan. Menjadi tim pemenangan secara terbuka tidaklah menguntungkan.

Gatot memilih senyap apalagi ia bisa jadi mendukung petahana. Baginya, mendukung Jokowi-Ma'ruf lebih rasional untuk perjalanan karier politiknya.


Gatot lebih punya peluang berkarier bila mendukung Jokowi-Ma'ruf. Mengingat tahun 2024 Jokowi dan partai politiknya butuh kandidat capres maupun cawapres. 

Sementara dari kubu Prabowo-Sandi pada tahun 2024 memiliki cukup banyak kandidat. Sebut saja Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Agus, dan tokoh lain yang berelektabilitas.

Gatot bisa menjadi titik temu parpol-parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf hari ini. Tidak ada komentar negatif tentangnya selama ini. Peluang inilah yang sedang diambil Gatot Nurmantyo.

Klarifikasinya soal wajahnya di baliho cukup menjadi landasan bahwa ia tidak berada di kubu Prabowo-Sandi. Itu merupakan pukulan telak bagi Prabowo-Sandi sekaligus sinyal ia siap bergabung dengan Jokowi-Ma'ruf.

Jenderal Gatot sedang bermain 'cantik' dan ini menyangkut peluangnya pada pilpres selanjutnya. Jalurnya sudah benar, Gatot bermain aman. 

Ia sepertinya sangat paham dengan hiruk-pikuk pilpres 2019. Ia tak mau terlibat langsung namun harus mendukung salah satu pasangan tanpa mengurangi kredibilitasnya. 

Gatot sangat paham bahwa berpolitik harus rasional, penuh perhitungan bukan emosional tanpa hitungan. Karenanya, mendukung Jokowi menjadi pilihan rasional serta penuh perhitungan. 

Tak peduli apa pun hasil pilpres, peluang Gatot mencalonkan diri pada pilpres 2024 lebih besar bila tahun ini mendukung Jokowi-Ma'ruf ketimbang mendukung Prabowo-Sandi. 

Gatot membaca peluang ini sejak tak dilirik kubu Jokowi maupun Prabowo. Target terdekatnya pastilah menjadi Menteri siapapun pemenang pilpres. Jalan ini bisa memblokir elektabilitas Anies.

Anies Baswedan memang kandidat terkuat pada pilpres 2024 selain Sandiaga Uno. Gambaran ini memaksa Gatot lebih memilih dekat dengan Jokowi meski ia tidak pula menjaga jarak dengan Prabowo.


Gatot juga dikenal dekat dengan pengusaha Tomy Winata. Ini merupakan modal sekaligus bukti bahwa Gatot cenderung dukung Jokowi-Ma'ruf. 

Dukungan Tomy Winata untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf diperbincangkan setelah beredar sebuah foto pada Ahad, 25 November 2018. 

Tidak ada makan siang gratis, begitu bila para bohir ikut dalam kontestasi pilpres. Begitu pula dengan Tomy Winata yang dikenal dekat dengan Gatot Nurmantyo. 

Gatot juga dikenal dengan pemegang suara mayoritas sejak aksi umat Islam di Jakarta. Gatot dianggap sebagai idola baru bagi umat Islam dalam perpolitikan nasional.

Bila Gatot mampu mempertahankan ritme ini; mendukung Jokowi, menjaga hubungan dengan Tomy Winata, dan umat Islam, bukan mustahil ia akan menjadi capres pada 2024 mendatang.

Politik elegan yang dijalani Gatot sejauh ini cukup berhasil. Gatot dianggap netral, bisa diterima kedua kubu termasuk oleh umat Islam. Ia juga dianggap nasionalis.

Kekuatan ini sekaligus modal yang akan dibawa kemanapun ia pergi. Amunisinya semakin bertambah bila Jokowi-Ma'ruf menang dan ia menjadi menteri. Tentu pencitraan selama 5 tahun cukup baginya.

Bagi PDIP maupun Golkar, Gatot bisa menjadi jalan keluar bila nanti menemui jalan buntu pasca Jokowi lengser. Gatot memang dianggap cukup mampu membendung Anies, Sandiaga maupun AHY.

Tokoh lain sudah tidak layak jual, sebut saja Puan, Airlangga, Muhaimin, Romy, bahkan Mahfud MD sekalipun. Mereka bisa dijadikan cawapres mendampingi Gatot Nurmantyo. 

Kalaupun hasil pilpres nanti Prabowo-Sandi yang menang, Gatot dipastikan masih bisa berperan. Para pendukung Prabowo-Sandi pasti tidak menolak bila Gatot diberi jabatan sebagai Menteri.


Skenario kedua ini sudah dipikirkan Gatot Nurmantyo. Kalaupun skenario ini gagal, Gatot bisa menjadi petinggi parpol. Pilihan terakhir terpaksa diambil bila Jokowi kalah dan tak menjadi menteri.

Namun sekarang, Gatot masih mencoba menjalankan skenario pertama. Mendukung Jokowi-Ma'ruf tanpa harus publikasi dan tetap dekat dengan Prabowo-Sandi.

Tidak ada yang pasti dalam politik, kepastian dalam politik adalah ketidakpastian. Tidak ada kawan dan lawan politik abadi, dan kepentingan politik yang menyatukan sekaligus menceraikan politisi. 

Gatot memang cerdas, politik elegan yang sedang dimainkan akan diterima semua pihak. Namun bisa pula ditolak semua pihak terutama parpol yang berpikir pragmatis.

Bagi parpol sikap tak jelas merupakan upaya berkhianat pada saatnya. Gatot tidak diam, dia mendukung Jokowi-Ma'ruf meski tak dipublikasi, itu menurut saya bagaimana menurut anda?

Artikel Terkait