2 tahun lalu · 1363 view · 3 menit baca · Perempuan girls_power.jpg
http://www.publicdomainpictures.net/view-image.php?image=76001

Mengapa GADIS Ahok Lebih Jantan daripada Pria-Pria Berdaster?

Deklarasi wanita-wanita umur 17-35 tahun dengan nama GADIS AHOK (Gerakan Aksi Srikandi Coblos Ahok) baru-baru ini dilakukan di Cilandak, Jakarta Selatan. Mereka adalah salah satu relawan tim sukses Ahok yang secara khusus ingin menyasar demografis wanita muda usia 17-35 tahun. Mereka berencana melakukan sosialisasi di kantong-kantong pemilih yang kurang meminati Ahok dan menyasar pemilih perempuan.

Harapannya, mereka bisa menyumbang minimal 50 suara perempuan di setiap TPS, sehingga targetnya adalah menyumbang minimal 750.000 suara untuk Ahok-Djarot."Kami ingin perempuan dengan usia 17-35 untuk datang ke TPS. Kalau tidak datang ke TPS, tidak keren. Kalau tidak datang ke TPS dan coblos Ahok itu tidak kece," kata penanggung jawab gerakan, Miriam Haryani.

Deklarasi GADIS Ahok ini adalah bentuk kejantanan pemilih perempuan di Jakarta untuk berani turun ke lapangan memperjuangkan nasib mereka ke depan. Kejantanan ini diwakili dengan secara rasional menggunakan strategi kampanye kreatif dan persuasi. Mereka mengharapkan pertarungan yang sebenarnya di bilik TPS dimenangkan melalui pemilih perempuan.

Pergerakan GADIS Ahok tentu dimulai dari nikmatnya kebijakan Ahok-Djarot yang sudah bisa dinikmati oleh para pemilih perempuan. Berikut adalah beberapa kebijakan yang sudah dan akan menguntungkan pemilih perempuan:

1.       Kebijakan Kartu Jakarta Pintar, yang menguntungkan para ibu agar semua anaknya bisa sekolah. Tentu, dalam ranah domestik perempuan banyak berperan mengelola keuangannya. Dengan diangkatnya beban keuangan sekolah, calon pemilih perempuan bisa mengalokasikan anggarannya untuk kebutuhan lain.

2.      Program Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang memiliki ruang khusus laktasi ber-AC. Bagi pemilih ibu-ibu yang setiap hari harus merawat anak-anaknya, keberadaan RPTRA ini sudah sangat menguntungkan. Mereka bisa bersosialisasi dengan tetangga sembari membiarkan anak bermain outdoor dengan fasilitas lengkap. Bagi para ibu yang juga harus merawat lansia, mereka bisa ikut membawa lansia untuk ikut berolah raga dan menikmati fasilitas RPTRA ini. Apalagi bagi ibu menyusui. Keberadaan ruang laktasi ber-AC ini tentu sangat berguna.  

3.      Transjakarta yang menyediakan bis umum Pink khusus perempuan. Dengan kata-kata yang mengambil dari semangat Ibu Kartini, “Habis Gelap, Terbitlah Terang,” bis ini mengakomodir pekerja perempuan yang harus berangkat pagi dan pulang malam. Beroperasi dari pukul 5 pagi hingga 11 malam, bis ini mengakomodir pekerja perempuan agar tidak diganggu oleh laki-laki yang iseng atau tindak perkosaan. Daripada menyalahkan perempuan pulang malam sebagai korban pemerkosaan, kebijakan ini sangat membantu perlindungan pada perempuan tanpa penghakiman.

4.      Pembangunan pasar tradisional. Perempuan sebagai salah satu pengguna pasar tradisional tentu diuntungan dengan pasar tradisional yang rapi, bersih, dan teratur.

5.      Pembangunan rumah susun dilengkapi dengan taman bermain anak, perpustakaan, dan dokter. Ini tentu melegakan para ibu dari keluarga miskin, yang tadinya harus tinggal di rumah kumuh bersanding dengan para tikus yang ginuk-ginuk. Kini bisa tinggal di rumah susun yang lengkap. Setara dengan apartemen mewah seharga 400 jutaan di Jakarta.  

Itu hanya beberapa kebijakan Ahok-Djarot yang cukup menonjol untuk pemilih perempuan. Selama ini, di Jakarta belum ada kebijakan yang cukup memanjakan perempuan seperti jaman Ahok-Djarot ini. 

GADIS Ahok pun memiliki strategi dalam berkampanye untuk para pemilih perempuan yang selama ini selalu dianggap kelas kedua. Perempuan dulu pernah mendapat fatwa haram untuk dipilih menjadi pemimpin. Ini terjadi saat dulu Megawati akan dipilih menjadi Presiden. Kejadian Ahok difatwa haram tentu tidak asing diingatan para perempuan, karena kaum perempuan pun pernah mengalaminya sebagai minoritas. 

Juga, berbagai perkataan menyakitkan bagi perempuan seperti ketika ada kejadian pemerkosaan. Kata-kata itu misalnya, “Kalau tidak mau diperkosa, jangan pakai rok,” “Kalau tidak mau diperkosa jangan pulang malam,” dan seterusnya. Kalimat dari para laki-laki penguasa itu seolah menyalahkan perempuan atas segala kejadian perkosaan. Alih-alih memberi solusi untuk mencegah perkosaan seperti pengadaan bis khusus wanita ala Ahok-Djarot, banyak pria-pria yang hanya berkomentar seenak jidatnya saja.

Saatnya Srikandi bangkit dari tidur. Saatnya perempuan siap berjuang dan berperang untuk kebaikan bagi banyak orang. Saatnya pemilih perempuan bangkit untuk memilih. Tinggalkanlah cerita Cinderella dan Putri Tidur yang menunggu lelaki berkuda putih untuk menyelamatkan perempuan. Saatnya menjadi Pocahontas, Mulan, atau Merida yang melawan otoritas pria-pria yang hanya ingin berkuasa tanpa memperhatikan kesejahteraan perempuan dan anak-anak. 

Paling tidak GADIS Ahok lebih jantan dengan turun ke jalan menyuarakan visi misi Ahok-Djarot. Mengumandangkan program-program yang sudah menguntungkan perempuan. Mengkampanyekan perempuan untuk berkontribusi yang benar melalui memilih di TPS. Mengkampanyekan program kerja dan festival gagasan, seperti cita-cita demokrasi di negara yang bhineka.

Ini jauh lebih jantan, daripada pria-pria berdaster yang takut menghadapi kenyataan tentang kebaikan kerja Ahok-Djarot. Habib Riziq telah melarang selebaran program kerja yang sudah dilakukan Ahok yang menguntungkan umat Muslim. Ia takut pemilih akan berpindah hati. Ia hanya berani mengobarkan emosi dan sentiment SARA yang sensitif. Membuat banyak pendukungnya ikut-ikutan marah tanpa argumen jelas, persis seperti kalau perempuan PMS.

Jadi siapa yang lebih jantan?

GADIS Ahok yang mengandalkan pemikiran rasional dan persuasif di era demokrasi atau pria-pria berdaster yang mengandalkan emosi dan ngamuk-ngamuk. Mungkin pria-pria itu otaknya sedang menopous, sehingga cara berpikirnya agak lambat. Kasihan!

Artikel Terkait