Sepanjang tahun 2019-2020, Big Hit Labels mengakuisisi tiga perusahaan, yaitu Source Music Entertaiment, Pledis Entertaiment, dan KOZ Entertaiment. Ketiga perusahaan yang diakuisisi Big Hit Labels merupakan perusahaan yang memiliki artis kenamaan di Korea Selatan.

Sebut saja Gfriend, girlgroup pertama yang diluncurkan Source Music Entertaiment, pastinya sudah tidak asing di telinga pecinta K-Pop. Dengan lagu "Me Gusta Tu" yang sangat sukses di Korea Selatan maupun internasional.

Selanjutnya, boygroup dari Pledis Entertaiment, yaitu Seventeen dan NU’EST. Seventeen sendiri telah mencapai berbagai macam prestasi, salah satunya tercatat pada album yang bertajuk; (Semicolon) berhasil menembus 1.1 juta keping pre-order. Luar Biasa!

NU’EST grup yang lebih senior dibanding seventeen juga tidak kalah dalam segi prestasi, dalam comebacknya pada Mei lalu, lagu “I’m in Trouble” menempati posisi pertama dalam chart iTunes di lima negara, yaitu Jepang, Singapura, Chili, Uni Emirat Arab, dan Vietnam. Lalu, menempati posisi 10 besar dalam chart iTunes di 21 negara, salah satunya di Indonesia.

Agensi yang minggu lalu baru saja diakuisisi BigHit Labels, yaitu KOZ Entertaiment yang menaungi artis hip-hop dan RnB kenamaan, yaitu Zico dan Dvwn.

Lagu "Any Song" milik Zico mendapatkan Perfect All Kill terlama yaitu 210 jam dan menggeser rekor sebelumnya yang dimiliki oleh "Love Scenario" dari IKON. Zico sendiri merupakan anggota Block B yang memimpin KOZ Entertaiment. Tidak hanya sebagai idol, Zico juga seorang rapper dan produser yang telah merilis banyak lagu hits.

Dapat dilihat bahwa agensi-agensi yang diakuisisi oleh Big Hit Labels merupakan agensi yang memiliki artis-artis yang sangat potensial

Sekarang bahas dulu yuk, apa sih akuisisi itu?

Akuisisi yang berasal dari bahasa Latin acquisitio, di dalam terminologi bisnis memiliki arti pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan lain, dan di dalam peristiwa ini baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah.

Akuisisi memiliki perbedaan dengan merger, karena akuisisi tidak menyebabkan pihak lain bubar sebagai entitas hukum. Sampai sini paham?

Oke kita lanjut, beberapa alasan memungkinkannya sebuah perusahaan mengakuisisi perusahaan lain adalah meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan jangka panjang, agar perusahaan tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan, memaksimalkan kemakmuran atau kesejahteraan bagi pemilik atau pemegang sahamnya.

Bisa dilihat dahulu sebelum Big Hit Labels terbentuk, awalnya hanya ada BigHit Entertaiment yang menaungi BTS dan TXT. Setelah kesuksesan BTS yang sangat luar biasa di dunia, ditambah tahun ini BTS masuk dalam nominasi Grammy yang sangat prestisius bagi para musisi.

Tidak dapat dimungkiri kesuksesan BTS ini memengaruhi besarnya pendapatan yang didapat oleh BigHit Entertaiment. 

Berdasarkan rilis laporan finansial di 2019, Big Hit Entertainment memperoleh total pendapatan 587,2 miliar Korea Won atau 480 juta dollar AS. Jika dirupiahkan, penghasilan Big Hit dalam setahun itu mencapai Rp7,8 triliun.

Nilai tersebut lebih besar dibandingkan jumlah pendapatan dari tiga agensi raksasa di Korea Selatan, yaitu JYP Entertaiment, YG Entertaiment, dan SM Entertaiment.

Kesuksesan tersebut juga didorong oleh keberhasilan TXT sebagai pemegang 10 piala Rookie of The Year pada tahun 2019. Setelah enam tahun BigHit hanya fokus kepada BTS, akhirnya hadir artis-artis lain entah dari project BigHit itu sendiri atau hasil akuisisi.

Kesuksesan ini pasti menarik minat investor untuk menaruh sahamnya di BigHit Entertaiment, akhirnya BigHit Labels terbentuk dengan beragam perusahaan di dalamnya.

Begitu ambisius setiap target yang ingin dicapai BigHit tiap tahun. Bahkan dalam dua tahun berturut-turut, BigHit mendebutkan dua boygroup, yaitu TXT pada tahun 2019 dan ENHYPEN yang akan debut minggu depan. Padahal, setiap agensi memiliki jeda beberapa tahun untuk mendebutkan setiap artisnya.

Tidak lama lagi para member BTS akan melakukan wajib militer, yang mana wajib bagi setiap laki-laki kewarganegaraan Korea Selatan. Tentunya, hal itu tidak bisa dihindari.

Maka dari itu BigHit memilih strategi mengakuisisi agar memiliki banyak artis yang dinaunginya tanpa harus memulai dari nol kembali.

Dimulai mengaudisi calon trainee, membuat pelatihan untuk trainee yang tidak bisa hanya sekitar 1-2 tahun, lalu membuat project debut, semua itu memakan waktu yang tidak singkat.

Mengakuisisi ini salah satu strategi yang tepat, karena BigHit memilih artis yang potensial di Korea Selatan bahkan di dunia.

Kekhawatiran Para Fans

Saya melihat sendiri di sosial media, banyak fans yang kurang setuju  dengan adanya akuisisi ini. Berbagai alasanpun timbul, salah satunya adalah para fans takut ciri khas grup kesukaannya hilang.

Saling beradu argumen di sosial media setelah BigHit meresmikan berita akuisisi tersebut, tidak ada yang dapat berubah. Kita seharusnya sebagai fans mendukung apa yang menjadi keputusan agensi, saya rasa tidak mungkin agensi-agensi yang diakuisisi akan setuju apabila yang didapat hanya kerugian.

Dalam hal ini fans juga harus sadar bahwa yang terlibat disini tidak hanya tentang musik, tetapi adapula peran bisnis. Semua agensi pasti berlomba-lomba untuk mencari keuntungan, karena target pasar K-Pop tidak hanya dalam lingkaran Asia, tetapi sudah mendunia.

Semakin menarik jika dilihat strategi BigHit mengakuisisi disaat para member BTS mendekati jadwal wamil. Saya rasa BigHit sangat mengantisipasi apapun yang akan terjadi pada BTS, dari sisi manapun BTS memang sebuah grup yang sangat fenomenal saat ini. Keren!

Sementara adiknya, TXT yang diharapkan memiliki potensi yang sama dihadapan dunia seperti BTS. Kita nantikan saja, semoga dengan strategi bisnisnya BigHit dapat lebih melambungkan nama-nama grup besar ke kancah dunia.

Untuk kelanjutan dari akuisisi ini mari kita sama-sama lihat, apakah ada yang berubah dari sebuah grup setelah agensinya diakuisisi?

Mari kita nantikan bersama, selanjutnya agensi mana yang akan diakuisisi BigHit Labels.