1 tahun lalu · 1086 view · 3 menit baca · Politik 14702.jpg

Mengapa Anies-Sandi Tak Mau Debat?

Pertanyaan itu bukan untuk mencari alasan ketidakmauan paslon Anies-Sandi ikut #DebatDiRosi. Pertanyaan itu jauh lebih mengarah kepada wujud penyesalan saya lantaran ketidakmauannya justru bisa menjadi boomerang tersendiri untuk paslon yang bersangkutan.

Sebenarnya saya tidak terlalu mau peduli dengan eksistensi paslon usungan para pembenci Ahok ini. Mau kalah, itu justru lebih baik buat saya. Hanya saja, saya tak bisa menahan rasa peduli, meskipun kecil, untuk melontarkan nada penyesalan seusai #DebatDiRosi yang berakhir dengan hashtag #AhokDjarotDiRosi.

Sebelum acara dimulai dan disiarkan live oleh Kompas TV, di media sosial seperti Twitter sudah ramai terhembus kabar soal ketidakhadiran Anies-Sandi dalam debat. Selain diwarnai dengan hashtag #AniesTakutDebat, adapula hashtag yang menyatakan bahwa #AniesUnoTakutBadja, yang kesemuanya menjelaskan ihwal ketidakhadiran Anies-Sandi di hadapan Rosiana Silalahi selaku moderator debat.

Awalnya saya berharap bahwa #DebatDiRosi ini akan jauh lebih memberi pelajaran penting dari debat antar kandidat pemimpin Ibukota Jakarta itu daripada di debat-debat sebelumnya yang juga telah dilangsungkan. Tapi apa mau dikata. Selaku tuan rumah, the show must go on menjadi pilihan terakhir Rosi.

Ya, meski terpaksa harus dan hanya menampilkan paslon petahana Ahok-Djarot—yang jadinya bukan debat, tapi semacam talkshow calon pelayan rakyat Jakarta untuk lima tahun ke depan ini.

Tentu suatu kerugian yang teramat besar ketika paslon Anies-Sandi memilih untuk tidak datang dan mengikuti ajang #DebatDiRosi. Sebaliknya, yang mendapat untung besar, tentu saja adalah paslon Ahok-Djarot yang mau memilih untuk ‘taat’, memenuhi undangan sang tuan rumah.

Mengapa yang hadir bisa untung dan yang tidak malah merugi? Lihatlah hasil-hasil survei sebelum dan sesudah debat di momentum Pilkada DKI putaran pertama kemarin. Tampak jelas bahwa semakin tinggi evaluasi pemilih terhadap kandidat dalam debat, tentu akan semakin besar peluang kandidat yang bersangkutan untuk dipilih. Pun begitu sebaliknya. Bahwa perubahan secara signifikan masih sangat mungkin terjadi sampai Pilkada benar-benar diadakan di bilik-bilik TPS.

Di survei terakhir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) misalnya, menemukan adanya fluktuasi dalam trend dukungan terhadap masing-masing paslon. Fluktuasi ini terjadi pasca debat publik yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) pada 13 Januari 2017 lalu.

Jika dibanding dengan hasil survei SMRC sebelumnya pada Desember 2016 silam, terjadi peningkatan dukungan yang cukup tajam terhadap Ahok-Djarot, yakni 28,8 persen menjadi 34,8 persen. Pun begitu dengan paslon Agus-Sylvi (secara terbalik), dari angka 30,8 persen menjadi 22,5 persen. Sementara untuk paslon Anies-Sandi terkesan masih stabil.

Yang jelas, pasca debat, siapa yang berhasil unggul (berdasar penilaian publik) dalam debat, dia lah yang akan mengantongi elektabilitas tertinggi. Dan survei SMRC telah memperlihatkan itu di mana Ahok-Djarot naik sekitar 6 persen, Agus-Sylvi turun 8,3 persen, dan Anies-Sandi naik 2 persen.

Selain SMRC, Media Survei Nasional (Median) juga memperlihatkan efek debat terhadap elektabilitas masing-masing paslon. Ini lagi-lagi membuktikan bahwa hasil debat punya efek signifikan dalam hal mempengaruhi pilihan politik pemilih yang menontonnya.

Semisal, ditunjukkan oleh Median, jika range undecided voters yang menonton acara debat berkisar 45 sampai 54 persen, maka separuh dari swing voters berpotensi akan terpengaruh oleh penampilan paslon yang berdebat. Jika undecided voters berkisar 15 sampai 20 persen, maka akan ada sekitar 8 sampai 10 persen suara tambahan yang diperebutkan oleh kandidat.

Meski bukan satu-satunya media pendobrak elektabilitas, tapi setidaknya debat memberi efek nyata; positif bagi yang penampilannya menarik, dan negatif bagi yang berpenampilan sebaliknya.

Memang, plus-minus dari efek debat terang akan membuat dilematis bagi para paslon. Dan hal ini berlaku, tidak hanya ketika paslon terlibat di dalam debat, terlebih ketika paslon tertentu memilih untuk tidak terlibat, seperti kasus Anies-Sandi tadi malam.

Jika terlibat (ikut debat), yang tampil secara menarik di hadapan publik lah yang lagi-lagi akan mendapat nilai positif dari calon pemilih. Apalagi warga Jakarta relatif lebih cerdas (berpendidikan/rasional) ketimbang warga dari provinsi lainnya. Itu sebabnya debat menjadi media utama dalam menilai paslon sebelum akhirnya benar-benar menjatuhkan pilihannya di bilik pencoblosan suara.

Tapi jika tidak terlibat, pun begitu ketika kalah dalam debat, wajar kiranya jika pemilih di Jakarta akan banyak yang melarikan dukungannya ke paslon yang lebih mampu menjelaskan rencana-rencana program kerjanya secara seksama daripada yang tidak/kurang mampu.

Bagaimana mungkin warga pemilih mau menilai jika debat saja harus dihindari? Memang akan terkesan aman jika memilih untuk menghindar debat daripada ketahuan bahwa program yang ditawarkan hanyalah program yang awuk-awukan, tidak jelas ujung-pangkalnya. Hanya saja, melihat keramaian di media sosial Twitter, tak ikut debat ataupun kalah dalam debat, sama-sama berefek negatif terhadap elektabilitas paslon yang bersangkutan.

Dan untuk diingat-ingat saja, adalah jauh lebih berharga ketika kalah dalam perang daripada harus menghindarinya; lebih baik bertarung meski kalah daripada tidak bertarung sama sekali hanya karena takut kalah. Yang terakhir inilah yang disebut sebagai pecundang.

 Apakah Anies-Sandi pecundang, takut kalah?