Tentu masih kita ingat bagaimana perdebatan sengit antara Kivlan Zen dan Andi Arief. Mereka saling berbalas pantun sampai menyerang masa lalu pribadi.

Bermula dari pernyataan Andi Arief mengenai “Setan Gundul”, lalu pernyataan Kivlan Zen yang menduga SBY tidak menginginkan Prabowo menjadi Presiden. Selanjutnya, Andi Arief mengatakan Kivlan Zen berbisnis Galang Massa di tahun 1998.

Dan, hingga akhirnya akun @kivlan46 pada Kamis (16/5) menulis: "Andi arif itu PRD. PRD berideologi Marxist. Sealiran dengan PKI. Jadi wajar dia benci saya. Karena saya benci PKI."

Akun @kivlan46 kembali menulis: "Banyak yang tidak tahu kalau PRD itu teroris. Mereka pernah merencanakan pengeboman untuk bikin kekacauan. Khas PKI.

Setelah Budiman ditangkap, Andi Arif menggantikan Budiman sebagai ketua. Andi Arief berotak teroris! Kamu tidak bisa menghapus masa lalumu, Andi. Saya tahu segalanya tentangmu!" (mediaindonesia.com, 16/5).

Serangan-serangan dari kedua tokoh tersebut menimbulkan geger di ruang publik dan di media sosial. Serangan demi serangan itu memberikan hasil banyaknya nyinyiran dan komentar negatif mengenai pernyataan dari tokoh tersebut serta menyimpulkan bahwa soliditas di antara koalisi BPN Prabowo-Sandi benar-benar sudah pecah.

Memperolok-olokkan Koalisi

Begitu sangat disayangkan bahwa koalisi yang seharusnya solid, tetapi perlahan harus hancur karena ulah kader koalisi itu sendiri. Apalagi sampai membongkar rahasia pribadi dan masa lalu dari teman koalisi. Itu sangat memalukan sekali!.

Apa yang dihadirkan oleh Kivlan Zen dan Andi Arief adalah bentuk perusakan nama baik dari koalisi kedua tokoh tersebut. Mereka berdua berada pada atap yang sama, yaitu BPN Prabowo-Sandi. Jadi, ketika berperang lidah atau berperang kata-kata di media sosial maupun di ruang publik, berarti nama koalisi ikut tercoreng.

Dapat dikatakan, kedua tokoh tersebut telah memperolok-olokkan koalisinya sendiri. Mungkin mereka tidak sadar. Tak perlu kita melihat siapa yang duluan mencari masalah, tetapi realistis saja. Namanya koalisi, harusnya damai dan berjuang untuk atas nama calon yang mereka pilih, hasil dari konsensus bersama.

Ini malah kedua tokoh tersebut asyik saling serang sampai menimbulkan anggapan koalisi benar-benar tidak solid lagi.

Begitulah memang politik kita. Serangan demi serangan dilancarkan hanya untuk kepentingan semata. Andi Arief menyerang Kivlan Zen terkait ucapannya terhadap SBY dan Kivlan tak senang saat Andi Arief menggunakan diksi “Setan Gundul”. Begitu pun saat Demokrat kemungkinan dilihatnya menyimpang dan ada rasa terhadap kubu sebelah.

Adegan yang dilakukan Andi Arief dan Kivlan Zen itu memang biasa dalam perpolitikan kita. Mungkin kita tahu bahwa selama menonton politisi berdebat, sering kali kata-kata keras dan kasar terlontar. 

Akan tetapi, pernyataan politisi yang biasa keras dan kasar itu tak menjadi zat bergizi bagi masyarakat. Yang terjadi, masyarakat ikut marah dan ikut memperolok-olokkan salah satu politisi. Edukasi politik yang biasa kita lihat di ruang publik dan televisi sungguh tak bergizi bila kata-kata kasar terlontar dari bibir manis politisi kita.

Tengoklah kata Kivlan Zen yang sangat kasar kepada Andi Arief, yaitu “berotak teroris”. Berarti Andi Arief terdampak radikalisme kalau seperti itu.

Bila melihat sejarah yang disampaikan Kivlan, membuat kita paham bahwa dalam diri Andi Arief ada unsur intoleran dan radikalisme. Tentu ini akan menjadi perdebatan lagi. Masyarakat akan beranggapan seperti itu, sehingga membuat masalah makin besar dan Andi Arief akan makin kecewa dan tidak nyaman dengan itu.

Kata “berotak teroris” itu sungguh sangat kasar, meski itu terkait perpolitikan saat ini, namun sangat tidak bergizi dikonsumsi oleh publik. Diksi dan narasi yang disampaikan tidak tepat. Apalagi disorot oleh media dan dibaca oleh publik begitu banyak.

Tentu akan menjadi dampak buruk bagi perpolitikan kita. Kita terus mengatakan edukasi politik kepada masyarakat agar tidak ada penyimpangan di bidang politik, tetapi politisi itu sendiri tidak mengajarkan hal baik mengenai politik. 

Katanya, politik itu adalah seni dan ilmu untuk membangun bangsa dan negara, tetapi narasi dan diksinya begitu tidak etis kita dengar. Bagaimana bisa masyarakat pintar politik kalau politisinya saja mempertontonkan diksi dan narasi yang keras dan kasar?

Bagaimana kita mau mengajarkan agar masyarakat mampu menolak politik uang, kampanye hitam, dan ujaran kebencian jika politisi saja mengucapkan ujaran kebencian, memainkan politik uang dan kampanye hitam?.

Ini sebenarnya sudah lari dari apa yang seharusnya. Kata-kata tidak sesuai realitas yang ada. Semua seperti retorika politik yang indah, tetapi realitas nol.

Koalisi saja sudah saling serang. Koalisi sudah saling mengolok-olok satu sama lain. Pantas saja politik kita tidak bisa maju ke depan karena dihadirkan makanan yang tidak enak dan tidak bergizi. 

Jadi, sadarlah, para politisi kit,a untuk mengubah politik lebih baik ke depan. Sajikan makanan lezat untuk rakyat melalui politik cerdas, bukan “berotak teroris” yang begitu kasar.

Semoga politisi memahaminya dan segara berbenah agar perpolitikan lebih indah dan lezat ke depan.