Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, persoalan identitas merupakan salah satu isu yang paling khas dibicarakan di Indonesia. Pasalnya, banyak umat Islam di Indonesia berada dalam dilema, yaitu antara menempatkan diri sebagai seorang Muslim atau sebagai warga negara Indonesia.

Aksi “kebangkitan” umat Islam yang banyak menguras energi bangsa akhir-akhir ini sedikitnya menjelaskan dua hal, yaitu keinginan untuk meninjau-ulang identitas dan keinginan untuk bisa bertahan di tengah modernitas.

Menarik untuk dibahas sampai sejauh mana sebenarnya Islam menjadi unsur penting dalam pribadi masyarakat Indonesia serta mampu menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi Indonesia.

Modernitas telah membawa tantangan sekaligus pengaruh serius bagi umat Islam di Indonesia. Ia turut melahirkan isu-isu baru, seperti industrialisasi, pluralisme, kesetaraan gender, dan sebagainya.

Namun, arus modernitas ini ternyata tidak dibarengi dengan meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Banyak umat Islam di Indonesia masih relatif tertinggal dalam, misalnya, pendidikan dan kesejahteraan hidup.

Sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk menemukan jawaban atas ketertinggalan sebagaimana disebut di atas. Al-Quran secara terang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (Q.S. 13: 11).

Maka, suka tidak suka, harus kita akui bahwa semangat untuk memperbaiki keadaan diri umat Islam di Indonesia masih belum terlihat.

Melihat catatan sejarah, ketertinggalan yang dialami oleh umat Islam di dunia saat ini bisa dibilang baru. Nyatanya, hingga Abad Pertengahan, umat Islam selalu unggul dalam perdagangan, ilmu pengetahuan, dan peradaban.

Pemikir dan ilmuwan Islam seperti Ibnu Rush, Ibnu Shina, Farabi, dan Ibnu Khaldun telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan Yunani Kuno dengan semangat Islam.

Namun, memasuki abad keempat belas, banyak ulama cenderung bersikap regresif, yaitu menentang rasionalisme kelompok ilmuwan, dan memilih jalan teologi dogmatis.

Penolakan atas rasionalisme inilah yang perlahan menyebabkan kemunduran umat Islam dan hingga kini belum tersembuhkan. Perbaikan kualitas hidup dan kemajuan yang dijanjikan oleh Islam di bawah arahan kaum agamawan tidak kunjung datang kembali.

Kesejahteraan Sosial

Di akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, modernitas mulai merambah ke negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Indonesia.

Gagasan modernitas yang diperkenalkan oleh Barat ini lebih dekat dengan semangat rasionalisme dibandingkan teologi dogmatis. Melalui kekuasaan negara, modernitas juga menjanjikan perbaikan kualitas hidup dan kemajuan bagi umat Islam.

Di Indonesia, kebijakan negara dalam industrialisasi yang bertumpu pada kekuatan modal dan telah mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran dari desa ke kota ternyata tak kunjung meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Pejabat negara yang korup dan tidak berprestasi, serta hukum yang masih tumpul ke atas tajam ke bawah juga turut memicu ketidak-percayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Negara sebagai pengusung modernitas dianggap tidak berhasil dalam mewujudkan mimpi-mimpi masyarakat bawah.

Kegagalan ini kemudian turut dimanfaatkan oleh kelompok reaksioner di Indonesia untuk menggerakkan aksi yang melibatkan banyak orang, terutama mereka yang memiliki semangat tinggi dalam beragama namun tidak dibarengi dengan penguatan wawasan dan pemahaman tentang agama tersebut.

Karenanya, aksi-aksi besar umat Islam saat ini bisa dipahami sebagai respon atau protes umat Islam yang tergerak oleh rasa bosan-menanti atas janji-janji kesejahteraan hidup dan keadilan sosial.

Aksi protes ini tidak semata-mata disebabkan oleh oknum atau kelompok tertentu yang sengaja ingin memanfaatkan kelengahan negara, namun lebih karena kualitas hidup umat Islam di Indonesia yang tidak kunjung membaik.

Artinya, kekurang-tersediaan lapangan kerja, menurunnya kualitas pendidikan, masih tingginya angka kriminalitas, serta melemahnya perekonomian negara sebenarnya adalah jawaban mengapa aksi-aksi besar oleh umat Islam di Indonesia akan mudah terjadi. Masyarakat dengan kualitas hidup yang rendah akan mudah dimobilisasi untuk kepentingan tertentu.

Sebaliknya, hidup yang berkualitas dan sejahtera akan menjauhkan mereka dari hasrat akan kekerasan dan main-hakim sendiri. Hidup yang demikian ini cenderung senang berkompromi, berhati-hati, luwes, dan jarang mengambil cara-cara ekstrim.

Ia menyiapkan orang agar mandiri dalam urusannya sendiri dan menghindari isu-isu pasaran; ia menyiapkan masyarakat menjadi pendengar yang selektif dan kritis.

Pada dasarnya masyarakat Muslim di Indonesia adalah rasional, dengan tetap memegang teguh keimanan pada Islam. Mereka memiliki orientasi kuat untuk terus memperbaiki standar hidup di era modern ini.

Namun, orientasi ini juga disertai dengan keyakinan bahwa kekayaan alam yang diberikan Tuhan semestinya dinikmati secara bersama, tidak hanya untuk kepentingan beberapa orang atau kelompok saja.

Aksi-aksi besar akan sulit terjadi ketika kesejahteraan dan keadilan sosial telah jelas dirasakan oleh masyarakat, khususnya umat Islam.

Mereka juga tidak akan merasa berada dalam dilema; mereka tidak akan membenturkan status diri sebagai seorang Muslim dan warga negara, karena mereka yakin bahwa agama dan negara telah berfungsi saling melengkapi dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Semoga aksi-aksi besar yang selama ini terjadi bisa menjadi penyemangat bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.