2 tahun lalu · 163 view · 2 menit baca · Ekonomi politikus-pdip-sebut-trump-jadi-presiden-as-bikin-lesu-ekonomi-ri.jpg
Foto: merdeka.com

Mengantisipasi Kebijakan Ekonomi Protektif Trump

Donald Trump yang minim pengalaman di dunia politik secara mengejutkan mengalahkan pesaingnya, Hillary Clinton, dalam pemilihan Presiden Amerika ke-45. Hillary Clinton yang tercatat pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di Era Presiden Barack Obama hanya memperoleh 218 electoral vote. Tertinggal dari Trump yang memperoleh 289 suara.

Sosok Donald Trump dengan janji-janji politik dan pidatonya yang kontroversial sempat menuai berbagai macam kecaman, bahkan setelah dia ditetapkan sebagai presiden terpilih. Beberapa janji politiknya seperti mencegah masuknya muslim ke Amerika dan rencana pembangunan tembok di perbatasan Amrika-Meksiko adalah yang paling sering dibicarakan. Namun, yang perlu diwaspadai bagi pemerintah Indonesia adalah janji politik Trump di bidang perdagangan.

Trump berjanji akan melindungi warga Amerika Serikat dari berbagai macam ancaman dari luar maupun dari dalam negeri, termasuk di bidang perdagangan. Dalam pidato kampanyenya, Trump berjanji akan membatalkan segala perjanjian perdagangan yang dianggap merugikan Amerika Serikat. Jika hal tersebut terealisasi, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling terkena dampaknya.

Pasalnya, neraca perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat mengalami surplus. Pada semester pertama tahun ini, pasar ekspor Indonesia mencapai US$ 2,38 Miliar (Rp. 31,15 T). Negara lain yang paling menderita jika janji politik Trump terealisasi dalah China, karena selama ini Amerika Serikat bak sapi perah bagi negeri bambu tersebut.

Meskipun presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kemenangan Trump tidak akan bepengaruh terhadap hubungan perdagangan Indonesia-Amerika Serikat, namun jika melihat realitas di atas sangat patut bagi Indonesia untuk berwaspada. Pemerintah perlu mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Kebijakan ekonomi ala Trump yang diperkirakan akan lebih protektif dan konservatif sebenarnya memang cukup sulit direalisasikan. Seperti pembatasan perdagangan bebas yang akan menemui banyak benturan jika benar-benar diterapkan. Jika Trump membatasi ekspor yang masuk ke Amerika Serikat, negara-negara lain akan memberikan balasan sebaliknya.

Indonesia dalam hal ini masih cukup beruntung karena pangsa industri nasional masih 63-65 % ke pasar domestik. Maka ketika ingin mewaspadai kebijakan ekonomi protektif Amerika Serikat, pemerintah Indonesia harus menjaga daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat rendah, maka produk industri dalam negeri tidak akan terserap secara maksimal sehingga akan terpuruk ketika nilai ekspor indonesia menurun.

Kedua, iklim investasi di Indonesia harus diperbaiki. Selama pemerintahan Joko Widodo, arus investasi sebagian besar berasal dari China, terutama di bidang infrastruktur. Seperti disebutkan sebelumnya, China merupakan negara yang akan paling terkena dampak kebijakan ekonomi protektif Amerika Serikat. Jika ekonomi china terpuruk, Indonesia diperkirakan akan terkena dampak yang signifikan.

Indonesia dalam hal ini perlu menjadi penengah jika kebijakan ekonomi protektif Trump benar-benar terealisasi. Selain itu, Indonesia harus mampu menciptakan iklim investasi yang lebih baik dan membuka kerja sama di bidang ekonomi dengan berbagai negara. Ketergantungan investasi Indonesia pada segelintir negara akan berbahaya bagi stabilitas ekonomi nasional.