Advocate Assistant
2 tahun lalu · 211 view · 4 min baca menit baca · Hiburan 29454.jpg
Flickr

Mengampanyekan Hak untuk Malas

Hari ini adalah hari malas yang kesekian. Bangun dengan wajah pas-pasan dengan bau sampo yang masih melekat di rambut. Hal pertama yang saya lakukan ketika bangun tidur adalah memastikan bahwa saya dalam keadaan tidak bermimpi.

Kekecewaan pertama yang terasa ketika terbangun adalah saat menekan tombol home pada ponsel tapi layarnya tidak mengeluarkan cahaya. Bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi tiba-tiba lapar. Sekiranya begitulah cara mengisi libur yang efektif bagi mahasiswa indekos. Tidak gemuk mencerminkan libur yang gagal.

Habis gelap terbitlah terang, sederet kata yang mewakili keadaan sekarang. Hari-hari sebelumnya yang dipenuhi dengan rutinitas yang mungkin bisa dikatakan abnormal oleh mahasiswa  sekarang pada umumnya. Dalam masa libur yang sebenarnya sangat kurang ini saya berusaha agar tetap “produktif”. Saya ingin sedikit berbangga mengatakan bahwa saya adalah orang kampung yang diutus ke kota untuk menambah deretan nama di KTP.

Ada pertanyaan yang seolah-olah telah menjadi keputusan rapat orang-orang di kampung yang tidak bisa diganggu gugat, mereka sangat kompak menanyakan, kenapa sekarang saya terlihat kurus. Untuk menghadapi pertanyaan mereka, ada sepenggal wejangan yang saya pegang teguh dari salah seorang senior yang mengatakan, “Apabila ada yang memberikanmu pertanyaan yang seketika membuatmu kesal maka balaslah dengan senyuman.”

Jadi sewaktu ditanya, demi menghindari perdebatan seperti yang dianjurkan Nabi maka spontan saya senyum sampai pada puncak termanis. Menghindari debat dan menebar senyum pahalanya jadi berlipat ganda.

Pertanyaan itulah yang menjadi motivasi untuk sedikit menaikkan bobot tubuh. Niat untuk menambah bobot tubuh tiba-tiba membawa saya pada ingatan ketika berkunjung ke rumah salah seorang teman yang gendut. Jadi waktu itu Ibunya menyapu ruang tamu sambil mengoceh, “Bagaimana mau kurus kalau kerjamu hanya makan dan tidur.”

Nah, jika dari ocehan tersebut kemudian ditarik negasinya maka hasilnya adalah "bagaimana mau gendut kalau kamu jarang makan dan tidur". Saya pikir itu adalah pekerjaan yang amat menyenangkan menuju suatu capaian misi. Barangkali tidak perlu saya pertegas misinya apa. Ya, Gendut.

Di rumah yang sederhana ini ada seekor kucing bernama Tom. Kenapa namanya Tom? Sebelum saya menjawab, saya beri waktu 2 menit silakan flashback di masa kecil kalian dan mengingat karakter Tom yang ada di film serial kartun untuk generasi anak 90-an. Barangkali 5 sampai 10 tahun ke depan para remaja akan bingung tentang karakter Tom yang ada hanya sikap aktor/aktris FTV ketika mobil ingin menabraknya.

Jadi jawabannya seperti yang kalian pikirkan, karena sikapnya yang sangat malas, cuek dan kadang berkonspirasi dengan tikus ya kurang lebih mirip sikap Tom yang ada dalam serial kartun Tom & Jerry. Tom kebetulan setiap malam tidur sekasur dengan saya dan kami berdua kemudian diidentikkan. Agak miris sebenarnya diidentikkan dengan Kucing gemuk yang malas. Kami berdua baru meninggalkan kasur apabila ada panggilan untuk makan, setelah makan kami kembali ke kasur untuk bermalas-malas ria.

Kadang saya mengambinghitamkan Karl Marx jika ada yang mencemooh dengan kata malas biar alasan pembelaannya cukup berintelektual. Karl Marx pernah mengatakan bahwa orang berhak untuk malas tidak mesti selalu bekerja seperti mesin untuk melanggengkan Kapitalisme. Buruh dan para pekerja seringkali melupakan atau bahkan tidak diberi hak untuk malas dan itu melanggar hak mendasar dari diri manusia.

Barangkali konotasi malas yang sangat buruk menjadikan kita untuk takut mencap diri sebagai orang yang merayakan kemalasan. Kita harus terus bekerja demi kelangsungan hidup yang berkualitas dan seolah mengeyampigkan hal mendasar dalam diri. Sementara tulisan ini berlanjut, saya tiba-tiba teringat dengan salah seorang kawan yaitu Sigmund Freud dalam Teori Psikoanalisisnya yang mengklasifikasikan kepribadian menjadi 3 yaitu Id, ego dan superego.

Id lebih ke arah hal mendasar secara biologis, ego lebih ke arah hasrat yang tumbuh dari dalam diri dan superego lebih ke arah hal yang dilakukan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Apa hubungannya antara Karl Marx dan Sigmund Freud? Hubungan mereka baik-baik saja jadi jangan khawatir, mereka tidak saling membenci kok.

Jadi begini, Karl Marx yang mengatakan sebenarnya kita punya hak untuk malas namun hak tersebut tidak pernah kita akui keberadaanya karena superego kita yang tadi dikatakan oleh Sigmund Freud. Kita sangat diikat oleh identitas lingkungan yang memberi stigma pada kata malas.

Negara kita tidak begitu menghargai hak untuk malas. Kita terlalu dihipnotis oleh doktrin Kapitalisme yang matrealistis untuk terus bekerja, menimbun dan mengakumulasi modal sehingga melupakan nikmatnya ngopi di beranda sore, bersandar tanpa tenaga menahan dan memeluk guling yang baunya begitu-begitu saja. Saya salut pada negara Kolombia karena demi menghargai Malas negara tersebut meluncurkan Hari Malas Sedunia.

Jadi Hari Malas Sedunia ini pertama kali diluncurkan pada tanggal 11 Agustus 1984 di Kolombia. Hari itu merupakan hari penutupan festival industri, perdagangan, dan budaya. Betapa indahnya menyisikan waktu untuk bermalas-malas ria. :D

Untuk klarifikasi, saya tidak menganjurkan kalian terlebih pada diri saya untuk jadi pemalas karena dalam ajaran agama saya pemalas adalah karakter setan dan sangat berpotensi merusak diri. Biar lebih afdal saya ingin mengutip hadis (Baihaqi) yang menganjurkan untuk tidak menjadi pemalas, "Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan meninggal besok."

Namun sekali lagi saya ingatkan, kita punya hak untuk malas tapi bukan menjadi pemalas. Demi menghargai hak saya untuk malas, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pesan, "Banyak cara menuju kebahagiaan, salah satunya ingat hak kalian." Sekian dulu ya, sampai bertemu di tulisan selanjutnya.

Artikel Terkait