Minggu pertama bulan September 2019, saya menemani kawan-kawan waria Yogyakarta untuk “konser”-bahasa khusus untuk komunitas waria yang bermakna mengamen. Mengamen adalah aktivitas waria yang biasa dengan mudah kita temukan di kota-kota besar di Indonesia.

Kawan-kawan waria dengan percaya diri sambil membawa pengeras suara dan menyanyikan lagu dangdut keluar masuk antarwarung ke warung. Aktivitas ini dimulai dari sepanjang jalan bawah jembatan Janti kemudian menuju sepanjang jalan Babarsari hingga sampai ke sepanjang jalan Seturan.

Receh demi receh dimasukkan ke dalam tas dari jam 18.00 (waktu makan malam) hingga pukul 22.00 WIB. Waktu konser selama 4 jam dengan jarak tempuh yang tidak sedikit, apalagi jalan kaki, merupakan perjuangan luar biasa dari kawan waria.

Apalagi sepanjang perjalanan tersebut kawan-kawan waria lebih banyak fokus dengan mengikuti alunan dan irama lagu yang berputar. Kadang sambil berjoget kadang sambil bergurau. Saya melihat banyak dari para “lelaki” yang mengabadikan momen waria konser tersebut melalui ponsel masing-masing.

Tepat ketika pukul 23.00 WIB ketika sudah sampai di ujung jalan Seturan, kawan-kawan waria mengajak saya untuk duduk di sebuah warung kecil di pojok pohon beringin. Saya baru tahu, ternyata warung ini adalah tempat “mangkal”nya para kawan-kawan waria setelah konser.

Sambil menikmati segelas kopi panas dengan semburan asap rokok yang membumbung tinggi dengan sesekali menghitung uang saweran hasil konser, saya bertanya kepada kawan waria, “Mengapa kamu mengamen?”.

Dengan nada suara yang lembut, dia menjawab bahwa “mengamen adalah melawan”.

Tulisan ini merupakan catatan obrolan dengan kawan waria pasca mengikuti “konser” di tiga sudut kota di Yogyakarta.

Rully, Waria Hebat dari Makasar 

Rully adalah nama kawan waria saya. Dia berasal dari Makasar Sulawesi Selatan. Saya biasa memanggil dengan nama panggilan “Bunda”-bunda Rully tepatnya. 

Bunda Rully lahir dari keluarga militer. Kakeknya adalah pejuang NKRI era pra kemerdekaan dan ayahnya adalah tentara yang memperjuangkan hak hidup muslim minoritas di daerah Sulawesi. Bahkan banyak saudara dan keponakannya berprofesi sebagai tentara dan polisi.

Bunda Rully lahir dan besar dari keluarga kelas ekonomi menengah ke atas. Pendidikan terakhir bunda Rully adalah sarjana seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dalam sejarah hidupnya, Bunda Rully mengawali karier sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu guru Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur.

Karena alasan tertentu, setelah 6 tahun menjadi pegawai negeri. Bunda Rully mengabdikan dirinya sebagai Wakil Dewan DPRD di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam rentang perjalanan hidupnya, bunda Rully beralih profesi sebagai penari tradisional di sanggar tari di Yogyakarta.

Skill bunda Rully dalam menari, ditambah kualifikasi keilmuwannya sebagai sarjana seni dan kecakapannya dalam berbicara bahasa Inggris menjadikan Bunda Rully diundang ke beberapa negara di dunia seperti Belanda sebagai perwakilan Indonesia untuk menampilkan tari tradisional Indonesia.

Karier bunda Rully yang cemerlang terpancar dari cara bunda Rully berbicara, bersikap dan berpenampilan. Pertama kali saya mengenal bunda Rully tahun 2016, beliau adalah sosok waria yang tidak biasa.

Dalam cerita sesama waria dan cerita dari Bunda Rully sendiri, bunda Rully sering kali menghadiri forum-forum nasional maupun internasional terkait pemberdayaan untuk kelompok marginal seperti waria.

Bahkan ketika tragedi penutupan paksa pondok pesantren waria di Yogyakarta awal tahun 2016, bunda Rully merupakan satu-satunya waria yang datang menghadiri undangan Walikota Yogyakarta. Bunda Rully dikawal oleh ratusan anggota kelompok Front Jihad Islam (FJI), Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) dengan teriakan suara Allahu Akbar.

Bunda Rully merasa kala itu sebagai tahanan teroris yang dikawal oleh ratusan orang menggunakan sorban dan pedang di tangan sambil sesekali berteriak “Bunuh setan ini”.

Dengan santai bunda Rully masuk ke auditorium Walikota dan berdiri di depan para audiens dari perwakilan Aisyiah Muhammadiyah, Muslimah NU, FJI, FPI, GPK, Kapolda, tentara dan pejabat pemerintah.

Bunda Rully menyampaikan bahwa ia dan waria yang lain tidak mau lahir menjadi waria yang selalu berada dalam tekanan sosial, pelecehan dan kekerasan. Menjadi waria bukan keinginan bunda Rully, tetapi diskriminasi, marginalisasi dan streotipe sebagai waria kerap kali ia dapatkan, padahal waria memiliki kontribusi nyata ketika terjadi bencana alam Tsunami di Aceh tahun 2004 dan meletusnya gunung merapi di Yogya tahun 2016.

Harapan bunda Rully yang disampaikan kala itu adalah masyarakat secara luas melihat bahwa eksistensi waria nyata adanya. Bahwa waria adalah warga negara yang sama haknya dengan warga negara yang lainnya.  

Sosok bunda Rully yang tegar dan tidak takut dengan ancaman teror menjadikan bunda Rully populer di mata komunitas waria Yogyakarta dan orang-orang yang yang mengenalnya sebagai pribadi waria yang cerdas dan bijaksana.

Mengamen Adalah Melawan   

Di usia Bunda Rully yang ke-58 tahun, bunda Rully bekerja sebagai staf pendamping waria yang mengidap HIV AIDS di Yayasan Viesta Indonesia di Yogyakarta, juga sebagai pengurus pondok pesantren waria bidang koordinator pemberdayaan waria. Di samping itu, juga sebagai pengurus di Yayasan Kebaya (perkumpulan untuk komunitas waria Yogyakarta).

Di usianya yang tidak lagi muda, bunda Rully adalah sosok waria yang aktif dan energik. Berangkat dari tempat tinggalnya di daerah Maguwo mulai pukul 06.00 WIB hingga sore hari. Di sisi yang lain, bunda Rully memiliki aktivitas layaknya waria pada umumnya, yaitu mengamen di malam hari. 

Hasil pengamatan saya ketika mengikuti bunda Rully mengamen di tiga sudut kota di Yogyakarta. Bunda Rully berposisi sebagai pemegang “kecer/tamborin” dan waria yang lain memegang pengeras suara dan menyanyi.

Kecer atau tamborin adalah salah satu alat yang biasa digunakan oleh waria ketika mengamen di jalanan. Alat ini ketika dimainkan oleh tangan akan mengeluarkan suara kersengan. Seperti suara penutup botol Coca-Cola ditabuh antarsesama penutup botol. Kalau di Sumenep, botol Coca-Cola disebut “cepleng”; saya kurang tahu jika di Yogyakarta disebut apa.  

Sambil menambahkan bedak di pipi dan lipstick di bibir agar lebih terlihat mencolok. Bunda Rully menjelaskan kenapa ia masih mengamen di saat seharian penuh pekerjaannya sudah padat merayap.

Menurutnya, mengamen adalah salah satu aksi yang bisa dilakukan oleh seorang waria seperti Rully sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang “abai” terhadap eksistensi waria. Hanya dengan mengamenlah, masyarakat secara umum, baik dari kalangan anak muda hingga orang tua, dari pedagang kaki lima hingga pengusaha kuliner, dari preman hingga kalangan mahasiswa, melihat, tahu, dan mengenal sosok waria.

Pengabaian pemerintah terhadap eksistensi waria menurut bunda Rully bisa dilihat dari pelayanan pemerintah seperti kesehatan yang tidak ramah terhadap waria, tidak adanya alokasi dana khusus untuk pemberdayaan ekonomi waria, dan aturan-aturan daerah yang “bias” terhadap waria, seperti penangkapan Satpol PP dengan cara kekerasan di jalan-jalan terhadap waria.

Bunda Rully melihat bahwa tragedi penutupan paksa pondok pesantren waria di tahun 2016 merupakan bukti nyata bagaimana negara “absen” dalam kasus kekerasan terhadap waria. Waria sebagai warga Negara menuntut kesamaan hak atas perlakuan yang adil tanpa melihat perbedaan identitas gender.

Absennya negara dalam tragedi tersebut, menurut bunda Rully, dapat dilihat dari tidak dicatatnya pelaporan kekerasan yang dialami oleh waria yang dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran ke Kapolsek Banguntapan Bantul, penghakiman sepihak oleh aparat desa setempat terhadap waria, tidak diberinya ruang untuk waria berbicara di forum rapat pengambilan keputusan, dan diamnya pihak kepolisian ketika melihat anggota FJI, FPI, dan GPK menggeruduk pondok pesantren waria.

Pengalaman saya bergaul dengan waria ketika sedang mengamen di malam hari dan mendengar penuturan bunda Rully alasan memilih mengamen, membuat cara pandang saya terhadap waria berubah. Bahwa mengamen tidaklah merupakan satu-satunya alasan waria untuk bertahan hidup.

Saya dan mungkin persepsi mayoritas masyarakat beranggapan bahwa waria adalah pengamen, bahwa mengamen adalah pekerjaan yang nista, buruk, dan kumpulan orang-orang yang tidak berpendidikan.

Tetapi bersama bunda Rully, cara pandang itu berkebalikan, bahwa mengamen adalah salah satu bentuk perlawanan yang bisa dilakukan oleh waria dengan cara yang sangat sederhana.

Jika akademisi melawan bentuk-bentuk penindasan dengan penelitian dan presentasi di forum-forum ilmiah, jika wartawan yang peduli dengan Hak Asasi Manusia (HAM) melawan dalam bentuk tulisan di media massa, jika seorang pemuka agama (Ustaz/Kiai) melawan bentuk-bentuk kezaliman dengan cara berkhotbah di mimbar-mimbar masjid, maka mengamen adalah bentuk perlawanan dari seorang waria yang “haus” perlindungan dari negara.