69289_48757.jpg
Pexels
Budaya · 3 menit baca

Mengakrabi Budaya dalam Bahasa

“Ketika saya berusia 16 tahun, ayah saya mati.” Tawaku meledak setelah mahasiswaku yang paling santun dan selalu mengangguk takzim setiap kali masuk atau meninggalkan kelas itu menyelesaikan kalimatnya. Siang itu kami belajar penggunaan “ketika” yang merujuk  pada masa lampau dalam bahasa Indonesia. Mendapatinya tersipu- sipu menahan malu, aku segera meminta maaf atas spontanitasku.

“Maaf, saya tidak kuasa menahan tawa, Berth. Kalimat yang kamu buat secara gramatikal sudah benar dan sempurna. Kekurang-pas-an kalimatmu terjadi karena kita memang belum membahas 'die' dalam bahasa Indonesia.”

“Jadi dalam bahasa Indonesia, 'die' bukan mati?" Kuambil marker warna merah kesukaanku untuk menuliskan “die” dan menuliskan lima artinya dalam bahasa Indonesia dengan marker warna lain. “Waaaaah…….banyak sekali.” Mereka bergumam dan terkikik lirih karena menyadari bahwa mengandalkan google memang jauh dari kata cukup untuk belajar bahasa asing karena mempelajari bahasa kedua atau ketiga adalah satu paket dengan mendalami konteks budaya.

Dan sayangnya google yang supertahu segalanya itupun takluk tanpa daya. Mereka pun beringsut menegakkan posisi duduknya saat aku mulai menjelaskan kapan mati, meninggal, tewas, wafat, dan gugur mewakili kata "die" dalam bahasa Inggris digunakan dalam konteks yang berbeda.

“Kalimat saya seharusnya ketika saya berusia enam belas tahun, ayah saya meninggal.” Simpul Berth menyempurnakan kalimat yang dibuatnya. Aku mengangguk dan tersenyum senang melihat kepuasan yang nyata tergambar di wajah Berth. 

Satu mahasiswa usil berkomentar bahwa bahasa Indonesia ribet karena memiliki beberapa kata hanya untuk mengatakan “die” dalam bahasa Inggris. Sambil tersenyum mendengarkan protesnya, kembali kumainkan marker merahku dan menuliskan honey, darling, sweetheart, baby, babehun, yang cukup terwakili dengan kata “sayang” dalam bahasa Indonesia.

Kejadian serupa terjadi saat aku mengajar Bahasa Indonesia di Lawrence, Kansas. Mahasiswa Amerika yang cenderung sangat kritis saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung sering mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat aneh. 

Seperti yang terjadi saat mereka mempelajari topik keluarga. Istilah-istilah dasar tentang kekerabatan yang tidak hanya mempunyai satu tapi beberapa istilah berdasarkan suku masing-masing cukup membuat mereka menggaruk- garuk kepala di waktu yang sama. 

Kuberikan empat contoh dari suku yang lumayan besar di Indonesia: mas, sapaan yang digunakan untuk memanggil saudara laki-laki yang lebih tua serta mbak untuk fungsi sama yang dipergunakan di Jawa Tengah dan Yogya.

Suku Sunda menggunakan istilah akang untuk laki-laki dan teteh digunakan untuk perempuan. Di Bali, pulau yang mereka anggap bukan bagian dari Indonesia, beli adalah istilah yang harus digunakan untuk pria yang lebih tua yang berpasangan dengan mbok yang digunakan untuk perempuan. Tidak kujelaskan di saat yang sama bahwa beli juga secara “literal” berarti “buy” dalam Bahasa Inggris, karena bisa-bisa mereka akan memutuskan berhenti belajar bahasa Indonesia. 

Sedangkan di wilayah Sumatra Utara, orang Batak memanggil pria yang lebih tua dengan sebutan abang dan kakak untuk perempuan. Di Padang, yang berada di wilayah barat Sumatra, mereka memanggil saudara laki-laki yang lebih tua dengan panggilan uda serta uni untuk saudara perempuan mereka.

Untuk memanggil orang tua pun ada beberapa versi di mana salah satu istilah yang dipakai juga merupakan istilah umum untuk menyapa guru atau orang yang lebih tua, selain fungsinya dalam istilah kekerabatan. Bapak, selain dipergunakan sebagai sapaan yang diperuntukkan orang tua laki-laki, juga dipergunakan untuk memanggil guru, orang yang lebih tua, bos, atau pimpinan. 

Fungsi yang sama juga disandang ibu untuk kata pengganti paggilan orangtua perempuan. Belum selesai aku menjelaskan, mereka sudah memohon-mohoh agar istilah-istilah tadi tidak aku jadikan bahan ujian karena mereka pasti akan pusing jika harus mengingat satu per satu. Aku hanya terkikik geli melihat dahi mereka berkernyit untuk melafalkan dan mengingat satu per satu istilah kekerabatan yang baru saja mereka pelajari

Warna yang sama saat mengajar bahasa Indonesia, baik di negeri sendiri ataupun Amerika, adalah respons mahasiswa saat mereka terlalu bersemangat dengan budaya baru yang mereka pelajari dan merasa sangat heran karena ternyata banyak hal yang selama ini mereka tidak pernah menyadari sebelumnya mereka akan berkelakar mengatakan, “Crazy Indonesian…..why do you all guys make things so complicated. That’s weird.” 

Jawaban yang selalu aku berikan adalah tidak ada yang pernah salah dalam sebuah budaya. Hal yang aneh bagi kalian menjadi sesuatu yang lumrah bagi kami. Sedangkan sesuatu yang kami anggap tidak lazim, menjadi satu hal yang biasa untuk kalian. Dan posisi kita bukan untuk menghakimi apakah budayaku atau budayamu yang benar, tetapi yang kita bisa lakukan adalah mengambil yang terbaik dan merayakan ‘pertemuan’ kita dengan semua perbedaan yang ada.