Teologi mengajarkan setiap penyakit ada penawarnya. Juga menuntun agar manusia berikhtiar untuk mendapatkannya. Dalam kerangka ini, Covid-19 yang tengah mengguncang dunia sejatinya telah diisyaratkan potensi kemunculannya, sekaligus adanya solusi untuk mengakhirinya.

Sebagai pandemi global, persoalan Covid-19 memang tidak ringan. Bayangkan, negara adidaya dan maju dengan kekuatan ekonomi dan teknologinya, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Italia saja kewalahan dalam mengatasinya.

Worldometers (20/11/2020) merilis kasus infeksi Covid-19 di dunia telah mencapai 57.260.061. Angka kematian mencapai 1.365.998. Angka kesembuhan sendiri cukup tinggi, yakni 39.749.228.

Amerika Serikat masih menjadi negara kasus tertinggi, yaitu mencapai 12.070.712 kasus, 7.243.488 sembuh dengan 238.628 kematian. Kedua, India dengan total kasus konfirmasi 9.004.365, 8.428.409 sembuh, dan 132.202 orang kematian.

Indonesia, meskipun tidak masuk dalam 10 besar negara terpapar Covid-19, sepatutnya seluruh anak bangsa untuk bersatu dalam menangani penyakit tidak kasat mata ini. Tantangan menghadang karena jumlah terpapar Covid-19 yang masih terjadi dan terdapat klaster penularan di tengah masyarakat dan berbagai tatanan tempat kerja.

Wabah penyakit Covid-19 telah mengoyak berbagai sendi kehidupan, melampui semata aspek kesehatan. Menjadi barang wajib dalam menggerakan roda perekonomian. Termasuk dalam aktivitas fundamental keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Langkah Strategis

Setidaknya ada tiga langkah strategis yang harus diperkuat implementasi dan spiritnya dalam penanganan pandemi Covid-19. Pertama, pendisplinan penerapan protokol kesehatan.

Kedisplinan mematuhi aturan masih menjadi problem masyarakat Indonesia. Masyarakat belum sepenuhnya patuh menerapkan protokol kesehatan, khususnya menggunakan masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan. Untuk itu, pentingnya terus menerus dilakukan kampanye secara terstruktur, massif, dan sistematis.

Pakar kesehatan masyarakat, Green mengurai determinan munculnya perilaku. Yaitu, faktor predisposing (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai), faktor enabling (ketersediaan dan keterjangkauan sarana prasarana) dan faktor reinforcing, seperti dari keluarga, petugas, tokoh masyarakat.

Perilaku merupakan sesuatu yang kompleks sehingga keberhasilan konsistensinya membutuhkan pendekatan berbagai faktor di atas dan intervensinya dari semua pihak terkait.

Kedua, peningkatan perlindungan kelompok rentan, seperti para petugas kesehatan yang menangani secara langsung penderita, imunitas, dan kebugaran masyarakat. Data pada Satgas Penanganan Covid-19 menunjukan tingkat kesembuhan pasien rata-rata secara nasional di atas 50%.

Provinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tenggara dan Kepulauan Riau bahkan di atas 80%. Petugas kesehatan sebagai garda utama penanganan pasien berperan penting dalam menekan bertambahnya dan meningkatnya pasien sembuh.

Pengaturan jam kerja, peningkatan asupan gizi dan olahraga guna peningkatan kebugaran bagi seluas-luasnya para pekerja medis, petugas kesehatan dan masyarakat umumnya sangat penting.

Ketiga, menggelorakan gerakan tanpa stigma terhadap Covid-19. Menghentikan stigmatisasi dapat mendorong pemutusan mata rantai penularan. Mengedukasi terus menerus di kalangan grassroot adalah hal penting sehingga penolakan ataupun perebutan jenazah Covid-19 tidak terjadi lagi.

Agama menempatkan korban Covid-19 di posisi yang sangat mulia sebagai syuhada. Maka protokol pemakaman harus diterima dan menjadi kehormatan layaknya wafat syahid. Demikian pula penolakan mengikuti pemeriksaan kesehatan deteksi Covid-19 tidak perlu terjadi.

Langkah preventif merupakan level utama dalam kesehatan dan sejalan dengan ajaran agama. Bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, dan gunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. 

Virus sebagai penyebab Covid-19 tentulah bersifat netral yang dapat mengena kepada siapa saja. Tidak pandang bulu. Tidak ada relevansi dengan jabatan ataupun tingkat kesalehan seseorang. Korban bukanlah sesuatu yang aib dan ditakuti secara berlebihan. Yang terpenting adalah berupaya menjaga diri dan orang lain. 

Sektor kesehatan sebagai arus utama dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19 telah dan terus berupaya seoptimal mungkin melakukan ketiga langkah strategis di atas. Melalui inisiasi regulasi dan penetapan kebijakan serta berbagai bentuk kegiatan dengan segenap kemampuan yang dimiliki sesuai tugas pokok dan fungsi.

Memperkuat dan mengawal penerapan protokol kesehatan di berbagai sektor dan kelompok masyarakat serta pelayanan kesehatan secara teknis di fasilitas kesehatan dan di masyarakat. Keberhasilan melawan Covid-19 mengharuskan adanya kelaborasi, kerja sama para pemangku kepentingan dan peran serta semua pihak. 

Bola Salju

Perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia dari pandemi Covid-19 bukanlah sekadar mengakhiri wabah penyakit mematikan ini. Terkandung makna yang lebih luas dan futuristik. Bergulirnya bola salju merupakan pelajaran berharga dari Covid-19 dari pembiasaan langkah strategis di atas.

Pertama, benar-benar dapat mengakhiri pandemi dengan kehidupan berbangsa dan bernegara tetap berjalan stabil tanpa ada gejolak ekonomi dan politik yang berarti. Dengan berharap pula proporsi angka korban jiwa tidak sebanyak negara dengan jumlah kematian tinggi.

Dengan mempertahankan angka kematian akibat Covid-19 di bawah 1 juta sampai dengan pandemi Covid-19 dinyatakan berakhir, adalah sebuah pencapaian yang baik. Menjadi bukti ketahahan bangsa dari pandemi yang diakibatkan oleh virus.

Kedua, penguatan disiplin dan mendorong pembudayaan Gerakan Maysarakat Hidup Sehat (Germas) untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan produktifitas kerja. Dalam situasi normal penggunaan masker sebagai alat pelindung diri untuk kesehatan dan keselamatan tetap terus diperlukan.

Ketiga, menghentikan stigma terhadap berbagai penyakit. Stigmatisasi terhadap suatu penyakit seringkali masih terjadi. Upaya menghentikan stigma terhadap Covid-19 diharapkan dapat terjadi pula penyakit lainnya. Misalnya penghentian pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa, stigma penyakit HIV/AIDS dan sebagainya. 

Bola salju peran dan arti pentingnya kesehatan yang begitu massif di situasi pandemi Covid-19 diharapkan terus bergulir pasca Covid-19. Memperkuat pilar pembanguan bidang kesehatan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.