(Maha) siswa
5 bulan lalu · 78 view · 3 menit baca · Lainnya 66533_19203.jpg
Dokpri

Mengakarlah di Bumi, Menjulanglah ke Langit

Surat teronggok di kamar

Berapa kali anda gagal cinta? Gagal mengutarakannya? Atau awalnya jadian ujungnya bubar jalan. "Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi dengan cinta yang lain," tulis Boy Candra.

Ya, manusia memang tak mungkin hidup sendiri. Teori yang mengatakan bahwa manusia mahluk sosial itu ada benarnya. Tidak ada yang akan menang melawan sepi dan sendiri. Gugur menghantam kecemasan dan kekhawatiran. "Jika sendiri, mampus juga dikoyak-koyak sepi," ucap temanku yang memparafrasakan puisinya Chairil Anwar.

Cinta sebagaimana kata pemikir islam, Ahmad Wahib di bukunya pergolakan pemikiran islam adalah kudus dan syahdu. 

Dikatakan kudus karena kemurniannya dan keuniversalannya. Ia tak dapat dibatasi ruang dan waktu. Syahdu karena mampu menarik imajinasi bagi penyair. Cinta selalu menemukan cara mengekspresikan dirinya.

Perempuan dan cinta dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Lebih-lebih, perempuan selalu diidentikkan dengan perasaan. Meskipun sebenarnya, hal ini tak sepenuhnya benar dan salah. Cinta dan perempuan cukup imajiner. 

Berapa pengalaman sudah dinarasikan, peran perempuan menabur cinta seperti petani menabur benih jagung saat musim hujan.

Saya anggap kamu di pihak korban, karena cinta seperti perang. Ada dua orang, dua kubu sama-sama menjaga batas sekaligus meleburnya. Menjaga batas dimana kamu dan dia-dulu- untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Hal ini dimulai ketika kamu menyomasinya, " jika kamu serius, datangi orang tuaku"ucapmu.

Laki-laki yang serius, berani mendatangi meski dengan tangan gemetar dan hati dag dig dug.

Rupanya, cinta menjadikan orang tangguh. Tak membuatnya merengek. Kira-kira begitulah kata Buya Hamka, Ulama penulis novel Tenggelamnya Kapal Van der wijck. 

Tapi, tahu kah. Dalam ceritanya, Zainuddin yang dikisahkan tersiksa sebab cintanya pada Hayati dihadang oleh adat dan tradisi. Selama dua bulan, Zainuddin terkapar. Meski pada akhirnya, Zainuddin dalam kisah Tenggelamnya Kapal Van der wijck itu bangkit memulai kehidupannya yang baru.

Ia sukses di perantauan. Meninggalkan kenangan. Ya, meskipun sebenarnya, tidak ada kata lapuk pada kenangan.

Ada sebuah puisi yang digubah Sapardi Djoko damono, bunyinya:

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput

Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini

Ada yang masih ingin ku pandang

Yang selama ini senantiasa luput

Sesaat adalah abadi

Sebelum kau sapu taman setiap pagi.

Cukup dalam maknanya dengan kata-kata sederhana. Seolah-olah mendeskripsikan bagaimana ungkapan seorang yang sedang gagal cinta. Maaf, saya bukan kritikus sastra. Yang saya pahami bisa jadi salah.

Puisi itu, saya kira cocok untukmu yang kalah dalam pertarungan. Korban dari peperangan yang selalu ada penghianatan. " alasan saya bubar, karena orang ketiga" tambahmu ketika berbincang-bincang.

Persamaan cinta dan peperangan ada pada pertahanan. Siapa bertahan dan menahan, ia akan menang. Sedangkan bila menyerang dengan pertahanan yang kuat, ia menang dua kali lipat. Cinta begitu juga. Siapa yang mampu memberi kepercayaan pada kekasihnya, ia akan memiliki sepenuh hatinya.

Demikian Sebaliknya, jika tidak maka persis seperti penggalan puisi Sapardi: " hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput"

Tetapi, hati tetaplah hati. Ia berbolak-balik. Tidak ada yang tetap pada dirinya kecuali ada bukti. Kisah Ibrahim as yang bertanya pada Tuhan, bagaimana caranya menghidupkan orang mati. Setelah ditanya oleh-Nya. Ibrahim mengatakan, hal itu dilakukan demi menenangkan hatinya. Demikian, berlaku pada pada cinta. Sebab, tempatnya adalah hati.

Saya tidak menyalahkan yang kalah. Sebab faktor menjadikan seseorang gagal dalam cintanya, kadang ada pada orang ketiga. Jika ada pertanyaan, kenapa ada orang ketiga. Kalau bukan kita sendiri yang membuka pintu.

Saya kira, tidak demikian, sebab bagaimana pun, orang ketiga selalu jeli melihat peluang menghancurkan. 

Menyamakan buka pintu dengan kesetiaan seseorang tidak seperti itu. Sebab, hati sifatnya bolak-balik. Oke lah, hati yang satu masih menahan. Bagaimana dengan hati kekasihnya. Ibrahim yang percaya pada Tuhannya saja, sedikit goyang hatinya.

Rencana menikah setelah wisuda, kandas diterjang badai. Banyak yang mengatakan, untuk sampai pada tujuan, jangan takut melewati badai. Betul pernyataan ini.

Hal itu pernah dialami oleh K.H. Ahmad Dahlan yang diceritakan dalam novel " sang pencerah". Melawan pikiran mainstream kaum tua saat itu, yang kemudian mencapai tujuannya, pencerahan bagi masyarakatnya.

Tetapi, ada kesemangatan yang muncul kembali, itu terbukti dari ceritamu. " karena saya ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, saya kursus bahasa inggris dulu, kak. sambil lalu menunggu wisuda" ucapmu. 

Cara bertahan dan bangkit adalah kemenangan. Cinta rupanya mencipta pemenang setelah kalah.

Ada pesan menarik dari Kahlil Gibran : " ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya. Bangkitlah hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu dalam nyanyian fajar".

 Bukankah kebahagiaan tidak ada pada semua yang kamu miliki? Ketika hati mampu menerima, maka selesai urusannya. 

Peperangan, persaingan yang menggencet karena tidak adanya rasa bersyukur dan berempati. Dimanakah empati? Hati.

Jika namamu mengisyaratkan cinta bak rembulan maka bagaimana bisa hatimu berlumur duka. Saya hanya membaca dari luar, barangkali orang tuamu memberikan nama " Hubbatul Qomariyah" agar nanti, cinta tumbuh seperti dedaunan di musim hujan. Mekarlah bunga-bunganya. Kuat pohonnya.

Bijaklah, pijaklah dan menjulanglah ke langit. Di kolong langit yang sama, manusia mempunyai keinginan dan kesempatan yang sama.