Mahasiswa
2 tahun lalu · 343 view · 3 menit baca · Buku 22120.jpg
Dokumen Pribadi

Mengais Kearifan Lokal Ranah Minang

Resensi Buku "Filsafat Cinta dari Ranah Minang"

Jika pernah menyaksikan film "Tenggelamnya Kapal Vander Wijk", Anda akan merasakan bagaimana membedakan seseorang dengan harta dan keturunannya. Membedakan inilah yang menjadi prihatin di mata Buya Hamka, ketika melihat adat Minang. Hamka merasa harus meluruskannya bahwa setiap orang punya hak sama untuk dihargai sebagai manusia.

Film ini menampilkan perjuangan cinta seorang bernama Jayadi yang merindukan bernama Hayati. Di akhir ceritanya, Hayati meratapi dirinya tidak diterima cintanya karena menikah dengan orang lain lebih kaya dari Jayadi.

Meski Hayati menyadari kesalahannya setelah suaminya bunuh diri, Jayadi tetap dendan dengan memulangkan Hayati ke ranah minang. Naik kapal Vander Wijk, tenggelam hingga tewas yang didapai Jayadi yang menyadari dirinya keliru mementingkan dendan. Drama cinta sarat kritik sosial dan berhasil menyuguhkan anti klimaks kekuatan cinta.

Hamka adalah deretan penyair Minang yang dibahas buku ini. Selainnya, ada Moh Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir dan lainnya. Penulis membahas Moh. Hatta dengan judul "Hatta dan Politik Non-Kooperasi"; suatu ulasan singkat bagaimana sikap politik Hatta yang tegas dan berani atas pemerintahan kolonial (hal-195).

Selain itu, ada pejuang hak kesetaraan laki-laki perempuan bernama Hajjah Rangkoyo Hayati Rasuna Said yang sering dijuluki sebagai singa betima atau singa podium dengan tulisan "Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Singa Podium dari Sumatera Barat" (hal-165).

Dia memiliki cita-cita yang serupa dengan Kartini untuk kesetaraan perempuan. Menginginkan perempuan mengerti persoalan politik. Rasuna adalah perempuan yang cerdas dan bernau, di usia 22 tahun sudah dijebloskan ke penjara oleh pemerintahan kolonial Belanda atas tuduhan ujuran kebencian.

Karena ini menyuguhkan kearifan lokal, seperti diakui sendiri oleh penulisnya, buku juga membahas Rumah Gadang yang terkenal itu. Lewat sebuah tulisan apik di halaman 165 dengan judul "Rumah Gadang Masyarakat Minangkabau". Penulis secara jeli melihat bagian-bagian arsitektunya bernilai fungsional dan mengandung makna atau filosofi tertentu.

Penulis menyuguhkan tema secara cak sepanjang menyangkut kearifan lokal "Ranah Minang". "Semua ulasan yang ada dalam buku ini -ulasan singkat dalam keseluruhan tulisan mencakup kearifan lokal dan sebagian tokoh- tak lain bagian dari menampilkan satu hal, yang saya sendiri namai "Filsafat Cinta Dari Ranah Minang" (hal-xvi).

Alumni Alzhar Kairo ini mengatakan bahwa kebudayaan yang di dalamnya mencakup petuah-petuah hidup, kebijaksanaan moral atau bimbingan nilai-nilai ideal-abstrak-universal, tak lain hadir dana kemudian menjadi praktik kehidupan sehari-hari berhulu pad cinta para pendahulu. "...adalah satu bukti bagaimana para pendahulu telah membangun ikhtiar untuk kebaikan generasi berikutnya" (hal-xvii).

Kekurangan buku ini terletak pada pembahasan secara sistematis (hal-xvi), karena kompilasi tulisan yang berusaha mengangkat beberapa kearifan lokal dan sebagian tokoh pendek dan sederhana. Meski begitu, niatan penulis dengan ulasan tidak rumit tapi narasinya ringan, ditujukan untuk menyasar pembaca saecara luas.

Kekurangan itu saya kira sengaja lahir karena  "pembuka pertama" sang penulis untuk karya selanjutnya. Melihat dari latar ilmu tafsir dari S1 Alazhar Kairo Mesir-1998, S2 Universitas Ummul Qura Mekah Arab Saudi-2000 dan S3 Universitas Syaikh Al-Rasyid Maroko, tema-tema lepas di buku saya kira akan diperluas. Sebuah cara taktis untuk melanjutkan karya selanjutnya.

Mirip yang terjadi dengan M. Quraish Shihab, ahli tasfir terkemuka tanah air. Sebelum lahir karya besar "Tafsir Al-Misbah", Quraish muda adalah penulis produktif dengan tema lepas dengan tulisan tidak rumit dan narasi ringan. Direktur Pusat Sudi Alqur'an ini menjalani nulis lepas itu lebih dari sepuluh tahun, hingga berketetapan hati melahirkan magnum opus Tafsir Al-Misbah.

Walhasil, penulis berhasil menggiring pembaca pada lautan kearifan lokal Ranah Minang, sekaligus meyakinkan dirinya tidak terburu-buru menyuguhkan karya sistemis dan rumit. Sabar menitik tangga pengabdi pada masyarakat adalah pilihan bijak untuk mengamalkan ilmu di masa  mendatang. Seperti pepatah arab; "Alilmu bila amal, kasysyajar bila tsamar"_ilmu yang tidak diamalkan adalah pohon yang tidak akan pernah berbuah!.

Yakin Usaha Sampai!

Judul: Filsafat Cinta Dari Ranah Minang

Penulis: Dr. H. Sima Lc, MA, NBA

Editor: Ramdhany

Penerbit: Young Progressif Muslim

Cetakan: Pertama 2017

Resensi Buku Oleh: Muhtar S. Syihabudin [Pengasuh Pesantren Assalam Plered Purwakarta]


Artikel Terkait