“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.” Demikianlah bunyi hadis yang cukup populer untuk memotivasi siswa-siswi dari beragam jenjang untuk terus belajar (menuntut ilmu). 

Biasanya guru atau ustaz kita akan mengutip hadis tersebut bebarengan dengan hadis lain yang mungkin sudah sangat sering kita dengar. Hadis tersebut berbunyi, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.”

Semula saya agak tidak paham dengan maksud hadis tersebut, lebih tepatnya sih bingung. Dalam hati saya selalu bertanya-tanya, kok bisa-bisanya ya Rasulullah menyuruh kita untuk belajar ke negeri yang secara ideologis berhaluan komunis? 

Harusnya, kalau Rasulullah menghendaki umatnya memiliki akidah yang lurus dan taat dalam bersyariat, tentu opsinya bisa saja Makkah atau Madinah. Secara, kedua kota ini adalah kiblat bagi peradaban Islam dunia.

Dulu ketika di pesantren, kiai saya pernah mencoba membeberkan isi kandungan hadis di atas. Merujuk beberapa referensi berbasis kitab kuning, kiai saya menyebut bahwa kelak di China akan hidup seorang ulama (wali) besar dan cukup terkenal. 

Barangkali Rasulullah mengimbau kita untuk menimba ilmu agama kepada wali besar itu. Lebih jauh mungkin Rasulullah menginginkan kita untuk memperdalam Islam di daratan China sebagai bekal menyongsong akhir zaman.

Penjelasan kiai saya dengan serta merta saya terima karena pada saat itu dalam kepala saya percaya betul, tidak mungkin Rasulullah menitah umatnya sampai jauh-jauh berangkat ke China kalau tidak ada kaitannya dengan Islam. Dan penuturan kiai saya cukup membuat hati saya terpuaskan karena bukan tanpa alasan Rasul meminta agar kita belajar sampai ke negeri China. Sebab, ternyata dari rahimnya akan lahir seorang wali besar.

Berbeda dengan penjelasan Pak Kiai, beberapa ustaz justru memberi alternatif tafsir yang kurang lebih begini: maksud “sampai ke negeri China” bukan berarti harus ke China dalam arti yang sebenar-benarnya. “Sampai ke negeri China” hanya alegori untuk menyebut tempat paling jauh. 

Artinya, Rasulullah sebenarnya mengimbau kita untuk belajar Islam ke mana pun, sampai ke negeri-negeri terjauh tidak masalah. Menjadi “musafir ilmu” kalau menurut syair-syair Imam Syafii. Kenapa ustaz saya memberi alternatif tafsir demikian? Ya karena aneh saja kalau misalnya orang Islam disuruh belajar sama negara yang mayoritas penghuninya kafir.

Hati saya semakin mantab mengamini bahwa konteks menuntut ilmu dalam hadis tersebut adalah ilmu-ilmu ke-Islaman setelah tanpa sengaja saya membaca bukunya Anton Kurnia yang berjudul Mencari Setangkai Daun Surga. 

Dalam buku tersebut, persisnya pada bagian yang berjudul Kuda Kayusaya menemukan kalimat yang berbunyi, ‘Nabi Muhammad mengatakan sebuah hadits yang amat terkenal, “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Tiongkok (nama lain China)”.

Pada abad keenam, saat itu di Tiongkok hidup seorang sufi bernama Hui Neng yang amat dihormati karena kedalaman ilmunya dan terkenal hingga jauh ke negeri-negeri seberang.” Tidak salah lagi, sudah fiks bahwa munculnya tokoh-tokoh besar Islam di China itulah yang melatar belakangi Rasulullah bersabda demikian.

Belum lagi dengan teori-teori masuknya Islam ke Nusantara yang saya kutip dari Prof. Azyumardi Azra. Salah satu teori yang termasyhur mengenai masuknya Islam ke Nusantara  yaitu “Teori China”. Teori ini menyebut kalau pedagang dari China memiliki andil besar dalam poros Islamisasi di Nusantara. 

Salah satu contoh yang umum, katakanlah Sunan Ampel yang merupakan keturunan asli China. Ini semakin menegaskan bahwa China adalah masa depan Islam.

Seiring berjalannya waktu, dan karena persinggungan saya dengan beberapa komunitas, persepsi saya tentang hadis tersebut bergeser sedikit ke arah liberal. Saya mulai berani menyebut kalau maksud sabda Rasul itu tidak hanya berhenti pada urusan ke-Islaman belaka. Hati kecil saya membantah karena mustahil Nabi Agung kita berpikir sedemikan sempit untuk urusan dunia yang sebegini macam.

Pendek kata, menurut hemat saya loh ya, bahwa kita diperintah Rasulullah untuk menimba ilmu apa saja dari China, tanpa terkecuali. Mau ilmu politik-pemerintahan, sains, seni dan sastra, atau apapun itu terserah. Karena dengan begitu kita bakal menjadi umat yang maju. Yang relijius tapi juga berdaya guna. 

Terlepas dari apa pandangan ideologis yang China anut, yang Rasul kehendaki adalah bagaimana kita menimba sebanyak-banyaknya ilmu dari negeri komunis tersebut.

Belakangan, persepsi saya semakin melebar menyusul fakta-fakta baru yang saya dapatkan. Pertama, merujuk dari Republik Rakyat China-nya Michael Wicaksono, disebutkan betapa China adalah negara yang gigih dan optimistis. 

Mereka jatuh berkali-kali dan berkali-kali pula mencoba bangkit dan bertahan. Terbukti setelah terpuruk dan menjadi bulan-bulanan negara imperialis pada dekade 60-an, China mampu unjuk gigi menjadi kekuatan besar pada gelanggang percaturan global hingga saat ini.

Kedua, tentu yang teranyar adalah comeback­-nya pasca bencana Corona. Yang saya salut dari China adalah, China seolah menerapkan falsafah Jawa-nya Sosrokartono (kakak kandung RA. Kartini): ngelurug tanpa bala menang tanpa ngasorake. Makna sederhananya: bertarung sendirian, tapi tak pernah jumawa saat menang. Ya, itulah yang coba ditunjukkan China kepada dunia hari ini.

Manakala China terpuruk pada dekade 60-an, mereka tidak merepotkan negara manapun untuk membantu mereka bangkit. Dan saat mereka sudah di atas angin, bukannya sesumbar China malah membuka pintu kerjasama dengan negara-negara yang mungkin salah satu di antaranya pernah membuatnya terluka. 

Begitu juga dengan baru-baru ini. Manakala dunia mengutuk China sebagai penyebar wabah, saat negara kita khususnya menganggap China mendapat azab dari Tuhan, China jutru menghadapi semua tudingan itu secara jantan.

Hari demi hari mereka lalui dengan terus bangkit dan berbenah. Lagi-lagi secara mandiri, tanpa merepotkan negara manapun. Kini, China sudah berhasil meredam Corona. Mereka seharusnya layak untuk jumawa dan sombong kepada negara-negara lain yang hari ini kena tulahnya. 

Negara-negara yang kelimpungan dan mengharapkan uluran tangan agar virus di negara mereka bisa segara diredam, Ternyata tidak, China tidak serta merta jumawa. Mereka lebih memilih fokus untuk menyongsong babak baru yang akan mereka hadapi.

Saya jadi yakin, kalau titah Rasulullah dalam hadis di atas bukan semata-mata menuntut ilmu pengetahuan dari China, tapi juga tentang ilmu kehidupan. Tentang bagaimana kita bangkit setelah terjatuh, bagaimana kita bersikap saat direndahkan, dan tentang segala kegigihan dan kerendah hatian.

Sudahkah kita belajar dari China? Kalau belum, sungguh keterlaluan, sebab itu adalah titah Nabi kita. Oke, China adalah negera komunis, tidak bertuhan, tapi toh Nabi menganjurkan kita belajar dari negara kafir tersebut. 

Belajar sebagai manusia dengan sesama manusia. Lagi pula, ada satu kutipan berbahasa arab yang berbunyi, “Hudz al-hikmah walau min kafirin,” (ambillah hikmah walau itu dari orang kafir.)

Ah, sudah terlalu banyak yang para pengamat dan para pakar di beragam bidang menuliskan opininya mengenai mega virus tersebut. Dari sudut pandang ekonomi, agama, lingkungan, hubungan bilateral, sampai yang mengerikan: perihal sebuah konspirasi yang merekayasa ini semua. Saya tidak berada dalam kapasitas untuk menambahi atau bahkan memberikan komentar atas narasi-narasi yang sudah ada. 

Saya hanya ingin menyampaikan, memang semestinya kita harus mengais ibrah di balik wabah. Dalam hal ini, adalah bagaimana kita dapat mengambil pelajaran dari negeri tempat Tembok Raksasa berdiri tersebut.

Sampai ketika tulisan ini terbit, kabarnya virus lain bernama Hantavirus tengah melanda China. Tidak menutup kemungkinan korban akan terus berjatuhan dan virus tersebut pada akhirnya berdampak secara global. Ah, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di sisa hari ke depan. Semoga kita masih bisa belajar dari China. Semoga tragedi ini segera berlalu.