Mahasiswa
5 bulan lalu · 212 view · 2 menit baca · Hukum 31474_60671.jpg

Mengagungkan Toa
Kecacatan Toleransi di Indonesia

Masih belum pulih rasa nyeri melihat keputusan Pengadilan Negeri Medan yang dengan lantang menjatuhkan hukuman 18 bulan pendekaman di penjara untuk wanita paruh baya; seorang ibu yang "katanya" menista agama.

Kecacatan hukum dipertotonkan lagi. Setelah Ahok seorang Tionghoa, tibalah Meiliana yang juga seorang Tionghoa dieksekusi atas dugaan yang sama. Banyak yang sedih atas putusan ini, tapi juga tak sedikit yang bergembira dan menganggap hal ini adalah suatu kewajaran.

Contohnya saja, kerabat saya, warganet, dan bahkan segelintir keluarga saya juga senang atas putusan ini. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh Meiliana adalah pencorengan dan intimidasi pada agama dan sudah sepatutnya dijeruji besi.

Entah mengapa, bagaimana legitimasi dan stempel penista agama itu sangat mudah sekali diutarakan. Agama tak akan pernah bisa dinista, sebab esensinya agama itu suatu yang abstrak. Tak bisa dilihat, tetapi mudah sekali dirasakan, yakni dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih.

Banyak sekali sekarang beragama tapi tak membawa dua pilar itu. Konsekuensinya, tentu saja, lahirnya manusia yang beringas dalam menganulir anutan agama. Menghardik mereka yang tak seiman dengan seenaknya, memusuhi, bahkan membenci, apalagi kalau ia berprestasi di dunia politik. Bisa diduga.

Banyak yang salah dalam mengilhami garis besar minoritas. Mereka menganggap kalau mayoritas ialah penggerak semuanya, termasuk dalam hal toleransi. Minoritas wajib tunduk atas kesewenangan mereka dan kalau tidak, bersiaplah menerima konsekuensi terpahitnya. 

Menjadi kaum dengan jumlah yang kecil juga harus mempunyai hak yang kecil pula. Begitulah dalil mereka.

Azan ialah pengingat, bukan penggerak. Ketaatan murni Anda dalam beribadah adalah dorongan dari jiwa/batin, bukan sekadar suara yang diperdendangkan ke rumah-rumah. Toa diciptakan untuk memberitahu, bukan untuk menjadikan ia seperti berhala yang selalu dijunjung sisi fungsionalnya.

Saya tertegun dengan banyak reaksi yang saya tangkap dari orang yang dengan vulgar menyoraki kezaliman yang tertuju pada Meiliana. Bagi mereka, menindas kaum yang lemah lebih terasa puas dibanding berusaha mengerti apa yang minoritas rasakan selama ini. Bahkan hanya meminta untuk mengecilkan volume toa azan. Sungguh ironi.

Sebagian banyak dari negara ini sudah darurat akal sehat. Banyak yang mengaku paling bertoleransi, tetapi mereka pulalah yang memprovokasi dan menciptakan huru-hara yang pelik.

Sulit sekalikah rasanya bagimu untuk bersikap bersahaja, lembut, tak beringas, dan berhenti merasa paling benar? Saya rasa bisa, runtuhkan dulu egomu.

Beribadahlah dengan hati yang tulus, sehingga perspektif kebenaran pasti terpancar ke segala arah. Mempersoalkan complaint suara azan bukanlah suatu sikap yang dewasa. Kematangan kita sebagai umat beragama diuji di sini.

Membakar belasan rumah ibadah ialah kecacatan perilaku yang sudah mempermalukan kalian dan kita sebagai "mayoritas".

Kalau toa saja yang bisa dibeli dengan harga sedemikian ekonomis itu kalian anggap sakral, patut dijaga kesuciannya dan lebih penting daripada menjaga kerukunan dengan manusia lain, saya pikir Anda perlu menyucikan kebencian yang mengakar di relung hati Anda.

Beragamalah dengan santun. Prinsip agama sesungguhnya adalah sunyi nan kokoh. Bukan ribut tetapi hampa.

Semoga hukum Indonesia segera memulih dari ujung barat ke ujung timur. Tak ada sistem tebang pilih. Harapan kita semua, semoga Bu Meiliana bebas dari tuduhan pasal receh ini.