Sebelum saya menyelesaikan artikel ini, seharusnya saya sadar bahwa tidak seharusnya tulisan ini dipublikasikan di sini. Dan patutnya, ia ditulis saja pada laman komunitasnya, caknun.com. Namun, karena beberapa hari ini saya sudah terlanjur berlangganan menulis di sini, maka saya kira tidak masalah untuk menuangkannya di sini saja. Toh, artikel ini pun tidak bermuatan SARA.

Langsung saja, saya mungkin bukanlah seorang Jamaah Maiyyah yang selalu menghadiri kegiatan belajarnya di sepanjang malam itu. Namun, saya mengakui bahwa saya adalah seorang penggemar, fans dari Cak Nun.

Kekaguman saya pada sosok Cak Nun ini jelas beralasan. Mulai perkenalan saya dengan salah satu karya fenomenal beliau, yakni album 'Jaman Wis Akhir', pada saat saya masih duduk di bangku MI dulu.

Setelah menyaksikan lagu beliau yang pernah hits pada salah satu televisi swasta itu, dalam batin saya ada angan-angan untuk memiliki kasetnya. Dan rupanya, kesempatan saya untuk memiliki kaset itu terpenuhi pada saat saya ikut ziarah wali.

Waktu itu, selepas berziarah di makam Sunan Kudus, Jawa Tengah, saya mendatangi salah seorang penjual kaset. Dan saya pun melihat kaset Jaman Wis Akhir itu terpajang pada rak penjualan. Saya merengek pada ibu saya agar dibelikan kaset itu sebagai jajan saya saat pergi berziarah ke makam wali. Dan alhamdulillah, beliau pun mengiyakan permintaan saya itu.

Perjalanan ziarah ke makam wali di Jawa Tengah menjadi terasa begitu panjang bagi saya. Lantaran saya tidak sabar untuk segera tiba di rumah supaya bisa menyetel lagu Jaman Wis Akhir ini.

Akhirnya, perjalanan ziarah ini telah usai. Saya bergegas pulang ke rumah untuk memutar lagu kesukaan saya itu pada tape music player. Begitu sukanya saya dengan lagu ini hingga saya memutarnya berkali-kali. Menyanyikannya di sela-sela bermain bersama teman-teman saya. Dan, teman saya pun pasti paham dengan lagu yang sedang hits pada zamannya itu.

Gambaran yang Cak Nun nyanyikan dalam lagu Jaman Wis Akhir itu terefleksi begitu kuat dalam imajinasi saya. Saya membayangkan betapa ngerinya keadaan yang akan terjadi pada akhir jaman nanti.

Di sana-sini terjadi kezaliman, manusia saling berebut kekuasaan, musnahnya rasa kepedulian antar sesama manusia, bencana alam datang silih berganti.

Imajinasi saya tentang akhir jaman ini kian menguat setelah saya menyaksikan film Walisongo yang waktu itu dibintangi oleh Deddy Mizwar. Dalam film itu juga digambarkan proses terjadinya kiamat yang menurut saya tampak begitu nyata. Angin bertiup kencang, gunung-gunung meletus bersamaan, bumi dan planet saling bertabrakan. Sungguh ngerinya!

Kepanikan saya pada hari kiamat ini kian menjadi setelah saya mendengar isu kiamat yang akan terjadi pada tanggal 9-9-1999. Entah siapa yang telah meniupkan isu keji itu. Dan betapa bodohnya saya yang sempat mempercayainya.

Waktu terus berlalu. Sejujurnya, saya tidak mengikuti sepak terjang Cak Nun di negeri ini sebab masyghul oleh rutinitas saya sebagai seorang pelajar. Setelah sekian lama ini, saya sama sekali tidak menyadari bahwa beliau ternyata telah menerbitkan beberapa buku.

Saya baru tahu salah satu buku Cak Nun ini pada saat mampir ke kompleks pesantren teman saya, Mas Erwin, di Pondok Gading Malang. Waktu itu, saya melihat di kamarnya dua buku karangan Emha Ainun Nadjib, yang saya lupa apa nama judulnya.

Dari membaca tulisan pada sampulnya saja, saya langsung dibuat penasaran untuk membaca daftar isinya dan membaca beberapa halaman di dalamnya. Barulah sejak saat itu saya mulai paham tentang kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Cak Nun. 

Saya setengah menyesal, kenapa saya bisa tertinggal sebegitu jauhnya dari akses pemikiran-pemikiran bernasnya selama ini? Kenapa orang se-brilian itu tidak terdeteksi sama sekali oleh saya? Dan kenapa setelah sekian lama ini saya hanya mengenal lagunya saja yang ada di kaset Jaman Wis Akhir itu?

Mungkin saja, seperti umumnya anggapan banyak orang, bahwa cinta biasanya datang terlambat. Bahkan, untuk mencintai Gus Dur pun saya juga terlambat. Dan karena keterlambatan itulah, maka saya tidak boleh berputus asa untuk terus belajar dari mereka. Entah bagaimana pun caranya.

Bisa saja, saya belajar dari mereka dengan mendatangi komunitas dan forumnya, menyimak videonya, atau membaca artikelnya.

Dan sampai saat ini, entah sudah berapa ribu artikel yang telah beliau susun? Berapa video yang telah beliau buat? Berapa audio yang telah beliau rekam? Berapa puluh ribu kajian-kajian begadang di malam hari itu yang telah beliau hadiri?

Artikel-artikel yang beliau susun semuanya sangat berbobot. Yang mungkin karena saking berbobotnya, jika ia dikirimkan ke media massa sekelas Kompas sekali pun pasti akan langsung dimuat. Mengingat besarnya kontribusi artikel beliau ini pada penjualan oplah koran.

Kekaguman saya berikutnya pada Cak Nun adalah tentang kondisi fisik beliau yang sangat prima untuk usianya. Bahkan, saya menggambarkan fisiknya lebih prima dibandingkan CR7 digabung Lionel Messi sekali pun. 

Bermalam-malam telah beliau lewati untuk menemani warga Maiyyah sinau bareng. Tanpa mengantuk, tanpa rasa pegal, dan tanpa rasa sakit. Mungkin saja, itu adalah fadhilah karunia Allah untuk beliau sebab perhatian dan pengabdian beliau untuk negeri ini.

Dalam hati kecil saya, saya pun sebenarnya ingin dapat meniru apa yang telah Cak Nun lakukan itu. Namun, jika menengok pada keadaan diri saya secara pribadi, seakan hal itu adalah ibarat api yang jauh dari panggang.

Meskipun saya tidak dapat meneladani beliau secara  seutuhnya, namun setidaknya beliau telah banyak menginspirasi saya dalam berkarya, mengeksplorasi cara pandang saya sendiri, dan bahkan membuat karya tulis.

Semoga di usianya yang ke-67 itu, beliau senantiasa sehat wal 'afiyat dan mendapat rahmat Allah selalu.