Gerakan takfiri sebenarnya sudah muncul sejak pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, di mana gerakan ini dipelopori oleh kelompok yang menamakan diri kahawarij. 

Kelompok tersebut pada mulanya adalah kelompok pendukung setia Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang kemudian kecewa dengan keputusan beliau atas arbitres yang dilakukannya bersama Mu’awiyah tanpa sepengetahuan dan persetujuan pendukungnya.

Dan mereka menganggap Sayyidina Ali bin Abi Thalib telah melakukan keputusan yang salah, dan bahkan kufur karena telah memutuskan sesuatu tidak dengan hukum Allah SWT. Dengan berlandaskan pada ayat ومن لم يحكم بما أنزل. الله فألآءك هم الكافرون yang artinya, barang siapa menggunakan hukum selain hukum Allah SWT. maka mereka kafir. Sungguh keputusan yang sangat ekstrem. 

Kelompok khawarij itulah yang menjadi cikal bakal tumbuh suburnya gerakan takfiri dewasa ini. Mereka dengan mudah mengeklaim kelompok yang berbeda sebagai kelompok yang kafir dan otomatis akan masuk neraka. Mereka memosisikan diri sebagai juru kunci surga dan neraka. Sungguh menyebalkan.

Mereka acap kali memaksakan pemahaman agamanya yang kaku itu kepada kelompok lain. Semacam ingin menyeragamkan pemahaman satu kelompok dengan kelompok yang lain. Mereka terjangkiti virus truth claim (klaim kebenaran). Hanya dirinya yang benar, sedangkan yang lain salah. Mereka meyakini keselamatan hanya ada di dalam diri dan kelompoknya.

Mengafirkan kelompok lain yang berbeda merupakan konsekuensi dari virus truth claim tersebut. Tidak hanya sampai pada taraf mengafirkan, tetapi lebih jauh, mereka berpandangan bahwa wajib hukumnya membunuh dan memerangi orang dan kelompok yang dianggap kafir.

Baca Juga: Balada Takfiri

Kafir-mengafirkan menjadi fenomena dalam dialektika keberislaman kita dewasa ini. Gerakan takfiri ini menjelma ke dalam beragam kelompok islamisme, salah satunya kelompok Jihadi. Buku Tathbiq Syariah: Menimbang Penguasa yang Menolak Syariah karya Abdul Qodir bin Abdul Aziz yang diterbitkan media Islamika ini adalah salah satu buku rujukan kelompok Jihadi. 

Buku ini gencar mengampanyekan ide-ide takfir. Buku ini menyebut kewajiban pemerintah Muslim untuk menerapkan syariat. Segala produk hukum dan undang-undang harus sesuai dengan syariat. 

Bagi mereka, jika pemerintah tidak melaksnakan kewajiban tersebut, maka terancam menjadi kafir dan menjadi pengikut thagut. Dalam kondisi ini, umat Islam harus melepaskan diri dari pemerintah tersebut (Lihat: Literatur Keislaman Milenial: Transmisi, Apropriasi, dan Kontestasi; Pasca Sarjana UIN Suka Press, 2018).

Juga kelompok takfiri ini menjelma ke dalam gerakan Salafi-Wahabi. Gerakan ini acap kali menuduh kelompok lain bidah, sesat, dan kafir. Titik tolak pandangan mereka adalah bidah. Menurut mereka, setiap sesuatu (ibadah) yang tidak pernah ada pada zaman Rasul disebut bidah, setiap bidah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Ritual yang mereka yakini bidah adalah tahlilan, maulid Nabi, siarah kubur, tawasul kepada para ulama, dan ritual-ritual lainnya, sebagaimana dipraktikkan oleh kelompok Asy’ariyyah di Nusantara, misalnya Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliah atau yang masyhur dengan Nahdlatul Ulama.

Gerakan Takriri adalah golongan yang juga gampang menuduh kelompok lain yang berbeda taghut dan kafir. Gerakan tahriri ini dipelopori oleh seorang ideolog Islamisme, Taqiyuddin an-Nabani dari Mesir.

Gerakan ini berhasil masuk dan berkembang di Indonesia pasca tumbangnya rezim Orde Baru, Soeharto pada 1998. Di mana pada saat itu kran demokrasi menjadi terbuka. 

Di situlah, siapa pun berhak berbicara, berpendapat, dan berserikat. Kemudian gerakan ini berhasil menancapkan pengaruhnya dan menamakan diri dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dan sekarang dilarang beroperasi oleh pemerintah.

Gerakan Tahriri memimpikan tegaknya Negara-Khilafah, subuah kekuasaan yang dipimpin seorang khalifah dan syariat Islam sebagai undang-undangnya. Negara-Khilafah ini melampaui Negara-Bangsa yang kita anut hari ini. Kekuasaannya meliputi semua wilayah Islam.

Menurut mereka, sistem pemerintahan selain khilafah adalah sistem kufur dan taghut, karena tidak menjadikan hukum Allah sebagai undang-undangnya. Jadi sistem demokrasi, sebagaimana kita anut hari ini, adalah sistem kufur karena ia diadopsi dari Barat yang kafir. Klaim ini nyaris sama dengan pandangan kelompok Khawarij.

Fenomena semacam ini tentu menjadi sangat menghawatirkan bagi pluralitas yang menjadi ciri bangsa ini dan mengancam kerukunan antargolongan dan kelompok yang berbeda pandangan akan ajaran-ajaran Islam, secara khusus, dan kerukunan antarumat secara umum.

Saya cukup kebingungan dengan kelompok semacam ini. Di satu sisi mereka berteriak-teriak akan pentingnya syiar Islam, tetapi di sisi yang lain gemar mengafirkan kelompok lain yang berbeda. Orang yang sudah jelas-jelas Islam malah dikafirkan. Benar-benar edan.

Berbeda dengan kelompok moderat, kelompok yang mensyiarkan Islam dengan santun dan lemah-lembut dan tentu tidak doyan mengkafar-kafirkan kelompok lain ini gencar melakukan islamisasi (mengislamkan yang kafir, bukan malah mengafirkan yang Islam).

Moderatisme Islam merupakan paham keislaman yang menerima dan mengakomodasi perbedaan dan keragaman, meneguhkan komitmen kebangsaan, dan melestarikan pandangan dan tradisi keagamaan yang ramah terhadap budaya lokal. Dan tentu tidak doyan menuduh yang lain bidah dan sesat.

Kelompok ini bersikap inklusif terhadap setiap perbedaan, terbuka terhadap kritik dan saran. Bagi mereka, setiap perbedaan dapat didialogkan sehingga terjalin harmoni di antara perbedaan-perbedaan tersebut. Kelompok ini memandang perbedaan sebagai rahmat. Ia selalu bisa dikompromikan guna mencapai kedamaian dan kerukunan.

Bagi kelompok moderat ini, Islam dimaknai tidak sekadar aturan-aturan formil dan ritual-ritual wajib, tetapi ia merupakan nilai yang universal dan bersifat substantif. Sederhananya begini, Islam itu adalah substansi bukan institusi.

Aturan, tata nilai, sistem pemerintahan, undang-undang, dan seterusnya yang dianggap tidak lahir dari Islam, seperti demokrasi pancasila, diislamkan oleh mereka. Dicarikan benang merahnya, dikompromikan sehingga sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Dalam konteks keindonesiaan kita yang majemuk, gerakan-gerakan takfiri merupakan gerakan yang berbahaya dan mengkhawatirkan bagi terciptanya Indonesia yang rukun dan damai.