Aktivis
1 bulan lalu · 688 view · 4 min baca menit baca · Politik 73232_47451.jpg

Mengadili Prabowo secara Adil

"Tragedi kehidupan adalah apa yang mati di dalam diri seorang pria saat ia hidup - kematiaan perasaan yang tulus, kematian respons yang diilhami, kesadaran yang memungkinkan untuk merasakan sakit atau kemuliaan pria lain." - Norman Cousins

Masih pekat duka dalam benak publik, terutama dalam pribadi seorang Susilo Bambang Yudhoyono yang baru saja dipisahkan oleh waktu dengan sosok mendiang yang terkasih, Ibu Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono). Tiba-tiba rasa itu berbalik sangka akibat sikap yang, bagi Pak SBY, 'tak elok' dari seorang teman sekarier dengannya: Prabowo Subianto.

Prabowo yang terlambat datang menemani temannya yang dirundung duka berbeda dari yang lain. Ia datang sehari setelah pemakaman dilangsungkan; menyampaikan rasa belasungkawa, tetapi berujung pada sikap yang mengejutkan. 

Bagaimana tak mengejutkan? Di hadapan awak media, ia katakan bahwa Ibu Ani Yodhoyono sejak 2014 hingga 2019 memilih dirinya dalam proses pemilihan presiden.

Dari sikap Prabowo itu, yang mengungkapkan preferensi politik Ibu Ani Yudhoyono kemudian memunculkan kesesalan dan kemarahan publik terhadap dirinya. Itu wajar, karena Prabowo adalah publik figur. Ia memang benar-benar salah. Prabowo mungkin lupa bahwa di mana kaki berpijak di situ langit mesti dijunjung. Pun tak memahami etika perpolitikan.

Pihak BPN telah melakukan klarifikasi, tetapi bagi saya itu tak membuahkan hasil apa-apa. Pada awak media, Andre Rosiade menyampaikan:

"Beliau menyampaikan itu tanpa maksud mempolitisasi, lalu memperkeruh suasana dalam suasana duka, ini hanya spontan saja. Menurut pendapat saya, pernyataan itu dikeluarkan Pak Prabowo karena beliau merasa senang bahwa Bu Ani memilih beliau, suatu kebanggaan bagi beliau. Tidak ada maksud lain."


Bayangkan, bukannya berupaya menghangatkan persepsi atau anggapan publik, pernyataan BPN itu malah makin mengukuhkan antipati, memperkeruh suasana, sekaligus membenarkan bahwa sikap Prabowo itu ceroboh dengan mengatakan "itu spontan, karena beliau merasa bangga Ibu Ani memilih beliau". 

Sekali lagi saya katakan, itu membenarkan bahwa Prabowo tak menjunjung langit di mana kakinya berpijak.

Memandang secara Adil

Tadinya saya berharap mendapati klarifikasi yang menjernihkan dari BPN dan pembelaan para pendukung-pendukung Prabowo. Itu saya harapkan bukan berarti saya membela sikap Prabowo, tetapi demi kehangatan percakapan di ruang publik, sekaligus menawarkan keberagaman cara pandang kepada publik.

Beberapa teman saya menuliskan pandangannya terhadap sikap Prabowo di berbagai platform media sosial mereka masing-masing. Saya membacanya semua sampai selesai. Cara pandang mereka seragam, sama seperti pandangan pada umumnya; sudah saya utarakan di atas tadi: Prabowo salah, mempolitisasi, dan tak dewasa.

Kepada mereka saya katakan, "Tidak mengapa melihat sudut pandang yang berbeda, bukan untuk membela, tetapi demi menawarkan konklusi yang adil diambil oleh pihak ketiga (di luar dari cebong dan kampret)". 

Namun teman-teman saya enggan melakukannya. Bagi mereka, mengikuti persepsi dominan tidaklah salah. Pun itu memang proporsional dengan apa yang digambarkan oleh Prabowo sendiri.

Saya tidak pernah melupakan anggapan Soe Hok Gie tentang pribadi Prabowo. Bagi Gie, Prabowo itu terlalu naif. Ini yang membuat dirinya jauh berbeda dengan sosok Jokowi di mata publik. 

Pun bagi saya juga iya: Prabowo memiliki kecerdasan intelektual, tetapi tidak dengan spiritual. Sedangkan Jokowi adalah pribadi yang sebaliknya: Jokowi mendulukan etis, ketimbang logis.

Saya kira apa yang sudah saya katakan cukup menggambarkan apa yang dominan dan lazim dikemukakan.

Saya percaya segala perbuatan senantiasa kembali kepada niat. Dan niat saya mengajukan tulisan ini adalah menawarkan persepsi yang belum saya dapatkan; aksioma alternatif demi keadilan konklusi pihak ketiga. Maka perlu ulang dipertanyakan apa maksud Prabowo melakukan itu? Apakah Prabowo tak berduka atau paling tidak berempati pada sahabat sekarier dengannya?

Bagi saya, rasanya tak mungkin Prabowo tak berduka dan antipati. Sedangkan ia telah begitu lama mengenal sosok Ibu Ani Yudhoyono semenjak ia berada di dunia kemiliteran.


Saat ini Prabowo sangat menyadari banyak pendukungnya juga sedang mengalami duka, dan ada di antara pendukungnya yang tidak bertenggang rasa atas kepergiaan Ibu Ani Yudhoyono ke hadapan sang Pencipta. 

Maka tidak menutup kemungkinan lewat pernyataannya yang mengungkapkan preferensi politik Ibu Ani, Prabowo sedang berupaya memulihkan cinta terhadap diri Ibu Ani di hati para pendukungnya. Mungkin bagi Prabowo, cinta yang terbelah karena pilihan politik hanya bisa dipulihkan oleh pilihan politik pula.

Saya kira, lewat Jokowi dan Prabowo kita bisa belajar dua kecerdasan sekaligus (IQ dan EQ). Dari mereka berdua inilah bisa kita simpulkan: "Spiritualitas dan Intelektualitas mesti seiring berjalan. Logis dan Etis adalah dua hal yang saling terkait dan tak bisa dilepas-pisahkan."

Ibu Ani Yudhoyono baru saja hidup melampaui waktu. "Kehidupan orang mati ditempatkan dalam memori orang hidup. Dan mereka tidak pernah benar-benar mati," kata Marcus Tullius Cicero.

***

Sekali lagi saya katakan, pandang ini saya ajukan demi keadilan konklusi pihak ketiga, bukan untuk membela Prabowo (jadi jangan dipolitisasi). Pun saya sangat membenci totalitarianisme (bukan sifat, tetapi watak), keseragaman berpikir. 

Dengan demikian, bagi siapa yang tak adil sejak dalam pikiran, silakan lakukan apa pun dalam hal berkepentingan, tapi jangan mengotori jalan beradab peradaban umat manusia.

Ingat[!], kakek-nenek moyang kita adalah pelaut. Bukan penggosip yang tak etis memahami ruang.

Artikel Terkait