Tak dapat dimungkiri kalau dulu saya pernah tak menganggap keberadaan Laila Fariha Zein. Pasalnya waktu itu saya sedang merasa antipati dengan orang yang tampak mengesankan dirinya sebagai sosok relijius.

Namun, itu dulu, ketika saya belum tahu tentangnya. Sekarang, bukan hanya tak diabaikan, Laila menjelma menjadi sosok idola yang saya kagumi, seorang yang tutur katanya senantiasa dinanti.

Kekaguman pada Laila menyadarkan satu hal, bahwa saya tak bisa menjadi diri sendiri. Pasalnya Laila turut memberi pengaruh tersendiri.

Saya baru bisa menyebut bahwa saya menjadi diri sendiri jika bisa membuang pengaruh itu seluruhnya. Bisakah saya melakukannya? Yang jelas sampai saat ini dan saat nanti saya tidak bisa mengembalikan air susu Ibuk yang saya tetek ketika balita.

Pengaruh-pengaruh itu terus bertumbuhkembang sepanjang mengayuh perjalanan. Pengaruh yang bertumbuhkembang tak selalu sama atau serupa malahan bisa juga berlawanan.

Tentu sudah mafhum «المفهوم» bahwa meski saya sangat kagum, tak seluruh yang melekat padanya harus serta merta dipraktikkan sepanjang perjalanan. Beberapa yang bisa klop dengan nurani layak dilantan selaras dengan perkara lain yang merisak nurani patut ditanggalkan.

Laila sendiri jauh-jauh hari sudah mengungkapkan, “Mata kebenarannya kalah dengan rasa kagum.” Ungkapan yang memberi peringatan agar kekaguman tak membutakan mata dari kebenaran—bagaimanapun kebenaran itu dimaknai.

Mengungkapkan sekaligus mengabadikan kekaguman dengan cara yang bisa dilakukan adalah perilaku wajar dari pengagum terhadap sesuatu yang dikaguminya. Dari banyak cara yang tersedia, menulis adalah salah satunya.

Setelah beberapa kali menulis tentang Laila, seperti di:
1. https://www.qureta.com/post/laila-fariha-zein-febi
2. https://www.qureta.com/post/ketika-saya-memuja-laila
3. https://www.qureta.com/post/laila-fariha-juga-manusia-2

kini saya berusaha untuk dapat menuliskan tuturan perempuan kelahiran 4 Februari 1992 ini.

Banyak tuturan Laila yang sayang kalau dibiarkan begitu saja. Keluasan dalam membentangkan peta serta kedalaman dalam menyingkap makna berpadu laras dengan kesabaran mengungkap kata.

Apalagi sejauh yang saya dengar, tuturan Laila bukan hanya membincangkan tentang dirinya seorang. Alih-alih memberi informasi diri, Laila justru memberikan kesempatan bagi saya untuk memperoleh wawasan yang tak biasa.

Menuliskan tuturan Laila juga menjadi sarana menguji ketepatan pemahaman saya dengan kehendak Laila. Tidak semua yang disampaikan olehnya dapat saya cerna. Sebagian besar malah hanya dapat saya dengar saja, laiknya sebuah lagu yang dilantunkan oleh suara serak khasnya. Tak jarang pula saya justru salah memahami tuturan yang disampaikan Laila.

Sulit untuk mengelak dari kenyataan bahwa dalam beberapa perkara, Laila dan saya memiliki titik temu serta pada beberapa perkara lainnya kami juga memiliki titik pisah.

Kalau ada satu titik yang bisa menemukan, untuk apa titik-titik pisah dianggap terlampau menjadi masalah? Sejauh-jauhnya kami berpisah pada beberapa perkara, kami sama-sama manusia, meskipun dirinya tentu lebih mulia daripada saya.

Mungkin Laila tak semenawan Aspasia dalam membimbing Socrates. Barangkali Laila tak segagah Sayyidah Nafisah yang menjadi gurunya Imam as-Syafi'i. Walau begitu, Laila tetap layak menempati kapling permanen dalam kalbu.

Kita bisa berbeda pandangan, tak dimungkiri kadang berlawanan, namun Laila tetap manusia yang laras, perempuan yang tegas, panutan yang pantas. Buat Laila, semoga keteladanan darimu membuahkan riḍhā Allah selalu.


Tambahan:

Mohon maaf kalau dari awal hanya menyapa ‘Laila’, yang kesannya tak sopan. Cara menyapa tersebut ditiru dari kisah pewayangan ketika Burisrawa menyapa Dewi Subadra. Burisrawa yang notabene raksasa tak memandang dewi dari Mandura berbeda dengannya meski dia mengerti Putri Banoncinawi itu bersemayam di lingkaran yang jauh di atas tingkatannya.

Melalui sapaan kurang ajar seperti ini, saya merasa lebih bisa mencapainya secara apa adanya. Artinya tak menjadikannya sebagai sebuah berhala yang menghalangi diri dari Ilāhi-Robbi.

K.Sb.Lg.08092018.03:04