Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Yang Terhormat, selain miskin prestasi, juga miskin inovasi. Tidak heran jika mereka mengunjungi Sukamiskin. Mungkin anggota DPR memang menggemari segala sesuatu yang berbau miskin.

Pertama, Anggota DPR sepertinya menjadikan miskin sebagai gaya hidup yang trendy dan kekinian. Layaknya anak-anak milenial yang nongkrong di warung kopi kekinian, mengambil foto selfie dan meng-upload di Instagram untuk mendapatkan banyak like yang banyak sebagai wujud eksistensi mereka, anggota DPR menjadikan miskin sebagai bentuk prestasi kekinian yang membuat foto mereka hadir di berbagai media dengan harapan mendapat banyak like. Eh, tauhnya malah dapat banyak dislike!

Kedua, Miskin prestasi DPR bisa dilihat dari pencapaian target mereka. Sampai pertengahan 2017, target untuk menyelesaikan 50 RUU ternyata baru berhasil dua, yaitu RUU Perbukuan dan RUU tentang Pemajuan Kebudayaan. Cuma berhasil bikin 2 UU selama 6 bulan kerja? Terlalu! Miskinnya terlalu bingit!

Anggota DPR periode 2009-2014 di tahun ketiganya mampu menghasilkan lebih dari 40 RUU. Jadi anggota DPR 2014-2019 prestasinya cuma 1/20. Kebangetan, bukan?

Ketiga, Anggota DPR Yang Terhormat miskin ide dan inovasi. Di saat teknologi berkembang makin maju, mereka malah memilih jalan mundur serentak menuju ke zaman batu. Saat berbagai industri, kegiatan sosial, dan interaksi manusia memanfaatkan internet, media sosial dan telepon genggam untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas, anggota DPR justru sibuk menyembunyikan dan menutup dirinya dari konstituen pemilihnya.

Lihatlah bagaimana buruknya perilaku dan pelayanan supir taksi di era sebelum adanya Uber dan kawan-kawan. Pelanggan yang komplain perilaku jelek supir dan pelayanannya tidak akan pernah tahu nasib keluhannya apakah akan ditindak-lanjuti atau tidak.

Semenjak kehadiran Uber, pelanggan dengan mudah bisa menilai seorang supir. Supir yang baik bisa mendapatkan bintang lima sementara supir jelek bisa mendapatkan bintang satu.

Penilaian langsung dari pelanggan ini akan menentukan nasib supir tersebut. Mereka yang mendapatkan bintang di bawah 3 atau 4 dipastikan tidak akan bisa menjadi supir Uber. Begitulah layaknya hubungan antara orang yang melayani dan dilayani; transparan, efektif, dan cepat!

Sementara rakyat yang memilih wakilnya untuk duduk menjadi Anggota DPR malah tidak bisa menilai wakilnya secara langsung. Selama 5 tahun, pemilih membiarkan partai melakukan penilaian.

Yang memilih adalah rakyat, kok yang menentukan adalah partai? Bagaimana rakyat tahu kalau wakilnya benar-benar bekerja? Atau sedang tidur di ruangannya? Atau bahkan sedang membahas anggaran-anggaran yang bisa “diatur” untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya?

DPR dan anggota-anggotanya harus berani meng-Uber-kan dirinya atau rakyat harus memaksa mereka untuk itu. DPR harus belajar untuk melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi sederhana. Cukup dengan telepon genggam dan koneksi internet yang dimiliki oleh hampir seluruh penduduk Indonesia

Bagaimana kalau suatu saat ada aplikasi “UBERDPR” yang berisi daftar 560 anggota DPR beserta nama, dapil yang diwakili, profil, tupoksi, target, komisi, dan jadwal harian mereka dari pagi sampai malam.

Warga masyarakat dari setiap dapil bisa langsung berkomunikasi dengan wakil rakyat yang telah dipilihnya setiap detik, menit, dan jam. Masyarakat bisa memberikan penilaian untuk setiap hal yang dikerjakan anggota DPR, misalnya membahas sebuah RUU, apakah warga di dapil tersebut merasa puas dengan kerja anggota DPR yang dipilihnya.

Mereka bisa memberikan bintang lima jika merasa anggota DPR benar-benar bekerja dan sebaliknya bintang satu jika anggota DPR bersangkutan justru memperjuangan RUU yang tidak pro rakyat dan pro dapil.

Warga juga disediakan berbagai emotikon atau stiker untuk menumpahkan perasaan mereka kepada anggota DPR yang dipilih. Bisa disediakan emotikon atau stiker tomat, telur atau tauco. Jadi, kalau warga kecewa akan langsung mengirim emotikon tersebut. Sebaliknya bisa disediakan emotikon atau stiker jempol, emas atau bahkan kavling surga untuk dikirim ke anggota yang bekerja membela rakyat dan dapilnya.

Melalui aplikasi UberDPR, anggota DPR bisa langsung melakukan live streaming saat sedang melakukan rapat komisi, rapat paripurna, dan bahkan rapat di ruangannya sendiri. Rakyat bisa langsung melihat bagaimana mereka bekerja, apa yang didiskusikan, dengan siapa dan membahas apa sambil memberikan jempol, senyuman atau cemoohan.

Rakyat bahkan bisa memberikan respons secara real-time terhadap rapat yang sedang dijalankan. Rakyat mungkin ingin memberikan saran terhadap permasalahan yang sedang dibahas anggota DPR atau sebaliknya menyampaikan keberatan. UberDPR menjadikan wakil rakyat benar-benar bekerja untuk rakyat secara real-time, transparan, dan produktif. Sah!

Tukang ojek sudah berani inovasi dengan aplikasi, supir taksi juga ikutan inovasi. Penjual gudeg sampai penjual celana dalam sudah berinovasi. Anggota DPR kapan? Tunggu sampai Raisa jomblo lagi?