Pandemi Covid-19 telah membawa perubahan-perubahan yang sangat signifikan, sadar maupun tidak bahwa pandemi ini menggiring kita pada persoalan-persoalan yang menguras energi baik bagi penyintas maupun mereka yang saat ini tidak terpapar oleh virus Covid-19 ini (semoga tidak akan terpapar sehingga sebarannya semakin sempit).

Bahwa ada sebuah fakta yang kemudian ini menjadi tanggung jawab bersama, tentang persoalan yang akhirnya memaksa kita semua untuk mengurangi mobilitas dalam bekerja atau bahkan harus menutup gerai usaha untuk sementara waktu (waktu yang belum kita ketahui kapan pandemi ini benar-benar berakhir)

Di tengah kondisi yang demikian, ternyata masih banyak diantara kita yang memanfaatkan momentum untuk membesarkan ego, tanpa terbesit nilai-nilai kemanusiaan dan kesadaran bahwa perlunya nilai-nilai ta’awun (saling menolong) antar sesama.

Mereka yang dengan sengaja menjual produk-produk tertentu (baik produk kesehatan maupun kebutuhan pokok) dengan nilai yang tinggi jauh diatas harga pasar. Mencari laba dengan memanfaatkan kondisi sebagaimana situasi darurat dalam lonjakan angka covid-19 yang semakin tinggi dengan bebrbgai varian.

Kondisi ini menjadi ancaman tersendiri bagi para penyintas yang saat ini masih berjuang untuk melawan virus Covid-19 yang bersarang dalam tubuhnya. Tentunya dalam hal ini mereka perlu sebuah dukungan pasar yang mampu memfasilitasi mereka untuk mengakses harga yang terjangkau serta kemudahan untuk mendapatkan kebutuhan tersebut tanpa perlu menunggu dikemudian hari.

Kewajaran Harga dan Laba dalam Islam

Harga menjadi persoalan yang akhir-akhir ini tampak sebagai sesuatu beban tersendiri bagai masyarakat, tentunya bagi para penyintas Covid-19. Tentang lonjakan harga dan kelangkaan pada kebutuhan obat-obatan, alat kesehatan dan juga kebutuhan pokok yang digunakan untuk suplai kebutuhan para penyintas yang melakukan isolasi mandiri.

Pada prinsipnya harga akan terbentuk oleh besarnya permintaan dan penawaran atas suatu barang tersebut, masalah kenaikan harga timbul karena ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketidaksesuaian itu terjadi karena adanya persaingan yang tidak sempurna di pasar.

Persaingan menjadi tidak sempurna apabila jumlah penjual dibatasi atau terjadi perbedaan hasil produksi yang tentunya dengan berbagai factor yang melatar belakangi hal tersebut. Yang kemungkinan besar justru terjadi praktik-praktik menyimpang seperti penimbunan barang.

Dalam konsep ekonomi Islam, harga didefinisikan sebagai nisbah pertukaran barang dengan uang, yang dalam masyarakat modern, nilai harga barang tidaklah dinisbahkan kepada barang sejenis tetapi dinisbahkan dalam bentuk uang. Sehingga hal ini akan menimbulkan sebuah interaksi antara permintaan dan penawaran yang membentuk harga. 

Meninjau makna harga dalam bahasa arab berasal dari kata tsaman atau si’ru yaitu nilai sesuatu dan harga yang terjadi atas dasar suka sama suka (an-Taradin) pemakaian kata tsaman lebih umum dari pada qimah yang menunjukkan harga ril yang telah disepakati, Sedangkan si’ru adalah harga ditetapkan untuk barang dagangan.

Sebagai kajian tentang bagaimana menyikapi harga yang terjadi pada masa darurat sebagaimana yang terjadi pada masa saat ini, tentunya perlu adanya sebuah pandangan Ulama fiqih tentang persoalan dalam menetapkan harga yang adil.

Ulama Fiqh membagi harga dalam pengertian as-si’ru menjadi dua macam. Pertama, harga yang berlaku secara alami, tanpa campur tangan pemerintah. Dalam hal ini, pedagang bebas menjual barang dengan harga yang wajar, dengan mempertimbangkan keuntungannya.

Pemerintah, dalam harga yang berlaku secara alami, tidak boleh campur tangan, karena campur tangan pemerintah dalam kasus ini dapat membatasi kebebasan dan merugikan hak para pedagang ataupun produsen. Tentunya hal ini menjadi sebuah harapan yang dapat terjadi, sehingga pasar dengan persaingan sempurna dapat tercipta secara utuh.

Kedua, harga suatu komoditas yang ditetapkan pemerintah setelah mempertimbangkan modal dan keuntungan   wajar   bagi  pedagang   maupun produsen  serta  melihat keadaan ekonomi yang riil dan daya beli masyarakat.

Perkara kedua ini menjadi sebuah acuan dimana kondisi yang terjadi pada saat ini, ditengah ketidakpastian ekonomi, ditengah pergulatan pandemi, pemerintah harus hadir dalam menyelamatkan masyarakat baik dalam tekanan wabah maupun tekanan laba. Sebagaiman yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam memberikan kebijakan pada harga tertinggi sehingga akan adanya sanksi bagi produsen maupun agen apabila menjual barang tersebut melewati batas.

An-Taradin dalam Mencapai Harga

Islam memiliki pandangan dalam keputusan penetapan harga sehingga Al-quran telah menetapkan rambu-rambu dalam berbisnis yang harus dapat menguntungkan kedua belah pihak. Sebagimana nash dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 29:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecualai dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka-sama suka (An-Taradin) di antara kamu. Dan jangnlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Selanjutnya Rasulullah Saw. menekankan dalam hadist bahwa apabila “Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya benar dan jelas maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka. Jika mereka menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual beli mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejalan dengan itu Afzalurrahman (1997) dalam bukunya yang berjudul Muhammad Sebagai Seorang Pedagang menyatakan bahwa salah satu dari delapan prinsip perdagangan adalah harus didasarkan atas kesepakatan bersama.

Hal tersebut di atas memosisikan an-Taradin sebagai prinsip yang memiliki derajat tinggi sebagai suatu value dalam mencapai keberkahan dalam urusan jual beli, maka tentunya prinsip ini harus senantiasa menjadi dasar dalam proses menentukan harga dan dalam meraih laba, baik dalam kondisi yang terjadi dalam pasar yang terbentuk secara alami maupun setelah adanya kebijakan dari pemerintah pada masa-masa darurat.