Sudah sedekade lebih Gus Dur meninggal dunia, meninggalkan bangsa Indonesia yang mewarisi orde paling baru, walaupun Gus Dur menjabat Presiden Republik Indonesia tidak lama karena dilengserkan oleh orang-orang yang jelas memiliki banyak kepentingan. 

Gus Dur difitnah dengan berbagai tuduhan dan konspirasi yang sangat tidak berdasar. Gus Dur diserang dari berbagai sisi oleh lawan politiknya. Tetapi Gus Dur dengan legawa mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Gus Dur pernah berkata, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian.”

Walaupun Gus Dur sudah wafat sudah sebelas tahun yang lalu, tetapi setiap tahun selalu diadakan acara haul memperingati wafatnya Gus Dur di berbagai pelosok Indonesia; di Pesantren Tebuireng, Ciganjur, dan lain sebagainya. 

Hal ini sangat penting sebagai pengingat bahwasanya ada seorang pejuang orang-orang lemah dan pembela hak-hak orang yang dizalimi, baik oleh pemerintah maupun lainnya. Gus Dur akan senantiasa hidup dalam sanubari orang-orang yang mencintainya. 

Sosok yang sangat menginspirasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pahlawan demokrasi dan pluralisme yang merangkul semua golongan yang ditekan dan dilemahkan secara brutal dan tanpa belas kasihan.

Gus Dur juga telah mewariskan 9 nilai yang dapat dijadikan parameter dan pedoman utama dalam menghadapi arus globalisasi, kapitalisme, dan materialisme yang jelas sangat menyengsarakan bangsa Indonesia. 9 nilai Gus Dur adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan lokal. 

9 nilai yang harus dipegang erat generasi milenial yang sedang menghadapi orde paling baru. Kekuasaan oligarki yang merusak sumber daya alam secara besar-besaran hanya untuk memperkaya diri dan sanak famili, belum lagi mengalih-fungsikan lahan produktif untuk proyek nasional berupa jalan tol atau bandara yang jelas hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Gus Dur sebelum dan selama menjabat sebagai sosok yang humoris, sindiran bergaya satire khas Gus Dur sangat menusuk hati. Guyonan Gus Dur menyasar segala golongan, baik kaum elitis, politisi, tukang becak atau kaum sarungan. Bahkan Presiden Bill Clinton saja sampai tertawa terbahak-bahak mendengar joke Gus dur.

Guyonan Gus Dur tak lapuk oleh waktu dan tak lekang tergerus zaman. Sampai saat ini pun guyonan Gus Dur senantiasa relevan untuk menyindir para anggota DPR, polisi maupun persoalan lainnya.

Humor Gus Dur yang pernah membuat panas telinga anggota dewan adalah opini Gus Dur, "DPR itu seperti Taman Kanak-Kanak yang gemar rebutan kursi." Selang beberapa waktu, Gus Dur merevisi opininya, "DPR tidak pantas disamakan dengan anak TK. Anak TK itu hati dan pikirannya masih jernih dan bersih."

Kelakar khas Gus Dur yang terkenal lainnya adalah tentang 3 polisi jujur di Indonesia. Gus Dur pernah berkata, "Hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia; patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng."

Untuk humor tentang 3 polisi jujur inilah yang beberapa hari kemarin sempat ramai di media sosial karena sampai harus membuat orang yang mengunggah humor tersebut ke Facebook berurusan dengan kepolisian.

Pengunggah humor Gus Dur tentang 3 polisi jujur bernama Ismail Ahmad, seorang ASN di Pemkot Kepulauan Sula sampai harus dipanggil Polres Kepulauan Sula untuk mengklarifikasi unggahannya di Facebook.

Pada akhirnya permasalahan ini sudah selesai setelah Ismail Ahmad meminta maaf secara terbuka di Polres Kepulauan Sula. Walaupun masalah ini sudah selesai, tetapi hal ini sampai harus membuat Kapolda Maluku Utara memanggil dan menegur Kapolres Kepulauan Sula beserta jajarannya.

Sampai-sampai 4 putri Gus Dur ikutan berkomentar atas permasalahan ini. Para anggota polisi yang bertugas di Polres Kepulauan Sula terkesan sensitif dan baper, padahal Mantan Kapolri yang sekarang menjabat Menteri Dalam Negeri Indonesia juga pernah berhumor dengan guyonan ini.

Yenny Wahid sendiri berkomentar, harusnya yang ditangkap itu yang membuat joke. Sementara itu, Alissa Wahid selaku Ketua Koordinator Jaringan Gusdurian ikut berkomentar pada akun Twitter dengan mengunggah humor Gus Dur ketika ada Intel pada masa orde baru yang menyelinap saat Gus Dur, kiai sepuh, dan para warga NU melaksanakan muktamar.

Humor adalah salah satu metode autokritik yang harusnya ditanggapi dengan introspeksi dan kontemplasi. Kalau alat kritik sosial dengan humor saja sudah dibungkam, terus harus pakai alat apalagi untuk mengkritik pemerintahan yang semena-mena? Indonesia sedang darurat humor.

Hanya dengan humorlah manusia bisa menertawakan dirinya sendiri. Tergantung manusianya bisa peka atau tidak dengan kritik yang dibungkus humor satire. 

Harusnya polisi di Polres Kepulauan Sula lebih humanis dan dewasa dalam menyikapi guyonan Gus Dur ini. Apakah memang demokrasi di Indonesia seolah berjalan di tempat atau malah berjalan mundur?

Sebagai konklusi, mengutip guyonan satire Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil Cak Nun (cendekiawan sekaligus sahabat baik Gus Dur):

"Di negara kapitalis, rakyat boleh mengkritik pemerintah tetapi uang harus cari sendiri. Di negara sosialis atau komunis, semua kebutuhan rakyat dicukupi tetapi tidak boleh mengkritik pemerintah. Di Indonesia, dua hal tersebut digabung. Rakyat tidak boleh mengkritik pemerintah tetapi uang harus cari sendiri."