Energi merupakan bidang vital bagi keberlansung kehidupan kehidupan manusia. Kebutuhan akan energy menjadi tanggung jawab pemerintah sebuah negara. Maju mundurnya senuah negara sangat tergantung kepada pemenuhan dan cadangan energy yang dimiliki oleh negara tersebut.

Mengabaikan aspek energi berarti mengabaikan keberlanjutan sendi keberlansungan negara tersebut. Negara negara di dunia berlomba untuk menguasai energi. Persetruan antar negara atau infasi suatu negara ke negara lain tidak jauh jauh dari persoalan penguasaan terhadap cadangan energy untuk memnuhi kebutuhan energi di dalam negri.

Dasawarsa ini kita bisa melihat setiap konflik yang terjadi antar negara, bagaimanpun argument awalnya, apatah itu soal ideologi, soal Ham, teroris atau apapun ujung ujungnya adalah menguasai cadangan energy. Sebagai contoh infansi USA terhadap Afghanistan, Irak maupun Libya. Perang terhadap terorisme dan penegakan demokrasi hanya kedok semata, dimana ujung ujungnya penguasaan minyak sebagi sumber energy primer.

Keterikatan dunia terhadap sumber energy primer masih tergantung kepada energy fosil. 84% konsumsi energi dunia di pasok oleh energy fosil baru selebihnya di pasok dari energi terbarukan(data dewan energy 2014). Di Indonesia, konsumsi energy nasional di pasok 96% nya dari energy fosil (Minyak bumi 48%, Gas Alam 18% dan 30% batu bara) selebih 4% baru di pasok oleh energy terbarukan(DEN 2014).

Besarnya ketergantungan terhadap energy fosil dipengaruhi oleh pemamfaatan energy terbarukan tidak berjalan dengan baik serta enrgi fosil yang disubsidi oleh pemerintah, sehingga harga energy murah dan masyarakat terkesan boros dalam penggunaan energy.

Di balik itu pemenuhan energy fosil Indonesia banyak di pasok dari luar atau impor. Hal ini disebabkan oleh penurunan cadangan Minyak bumi Indonesia tidak di imbangi oleh penemuan cadangan baru serta tata kelola Migas yang berorinetasi pendapatan. Kondisi ini menjadikan Indonesia rentan akan pemenuhan kebutuhan energinya di pusaran ekonomi global saat ini.

Kondisi Energi Indonesia

Kondisi energi Indonesia bisa kita urai dari aspek konsumsi dan produksi energi. Dari sisi konsumsi energi, data DEN menguraikan konsumsi energi nasional tahun 2013 adalah sebanyak 134 juta TOE. Dilihat perkembangan konsumsi energy Indonesia dari tahun 2003 sampai 2013, konsumsi energi meningkat dari 79 jta TOE tahun 2003 menjadi 134 juta TOE di tahun 2013 atau naik sekitar 5,5% pertahunnya.

Dari sektor konsumsi energi nasional sektor industry menempati urutan teratas terhadap konsumsi energi yaitu ebensar 33%, di ikuti oleh konsumsi rumah tangga sebesar 27% serta konsumsi sektor transportasi sebesar 27%, seterus sektor komersial, sektor lainnya dan penggunaan bahan baku sebesar 13%. Dari konsumsi energy nasional diatas, pemenuhan Konsumsi energy nasioanal dilihat dari jenis energinya  dimana BBM menyumbang 48%, batu bara 19%, Gas Alam 14%, LPG 5% serta Listrik 14%.

Penyedian energy nasioanal di pasok dari Minyak bumi, Batu bara, Gas  dan kelistrikan. Kondisi minyak bumi Indonesia, produksi minyak bumi pada tahun 2013 adalah sebesar 300,83 juta barel, jauh menurun dari produksi di tahun 2003 yaitu sebesar 419,27 juta barel.

Penurunan produksi ini dipengaruhi oleh menurunnya cadangan minyak Indonesia serta investasi di sektor minyak yang menurun. Dari gas alam produksi gas Indonesia pada tahun 2013 sekitar 3,07 MMSCF. Di sektor batu bara produksi batu bara Indonesia pad tahun 2013 mencapai 449 juta ton. Sektor kelistrikan Indonesia, produksi listri indoneia dari PLN 163.965,17 Gwh.

Tantangan dan Proyeksi EnergI Indonesia 2045

Melihat kondisi pengelolaan energy Indonesia yang masih jauh tertinggal dari negara negara maju dunia tentu meliliki tantangan bagi pemerintahan Indonesia. Tantangan pengelolaan energy Indonesia dapat dilihat dari sisi perubahan paradigma pembangunan energi nasional, dengan keharusan mengurangi dan menghentikan ekspor energi fosil, sehingga harus mencari pengganti peran sektor energi di dalam struktur APBN; harga energi yang terjangkau oleh masyarakat dan mengurangi subsidi yang ada pada harga tersebut; pemanfaatan energi baru terbarukan belum optimal; kondisi infrastruktur yang belum optimal.

Selain itu pengelolaan energy sesungguhnya mencakup kepada ,pertama tercapainya kemandirian pengelolaan energi, kedua  terjaminnya ketersediaan energi dalam negeri, baik dari sumber di dalam negeri maupun di luar negeri, ketiga  tersedianya sumber energi dari dalam negeri dan/atau luar negeri untuk pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri, pemenuhan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri dan peningkatan devisa Negara, keempat  terjaminnya pengelolaan sumber daya energi secara optimal, terpadu, dan berkelanjutan, kelima  termanfaatkannya energi secara efisien di semua sektor, keenam  tercapainya peningkatan akses masyarakat yang tidak mampu dan/atau yang

tinggal di daerah terpencil terhadap energi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata dengan cara menyediakan bantuan untuk meningkatkan ketersediaan energi kepada masyarakat tidak mampu, membangun infrastruktur energi untuk daerah belum berkembang sehingga dapat mengurangi disparitas antardaerah, ketujuh tercapainya pengembangan kemampuan industri energi dan jasa energi dalam negeri agar mandiri dan meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, kedelapan terciptanya lapangan kerja, dan kesembilan  terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Dewan energy Indonesia (DEN) dalam dokumen outlook energy mengurai proyeksi kebutuhan energi Indonesia pada tahun 2045 adalah 665 TOE atau naik sekita 4% setiap tahunnya.untuk memenuhi kebutuhan energi nasioanal dan ketersedian energy pada tahun 2045 dibutuhkan kerja keras dan sistem pengelolaan serta kebijakan energi yang progersif karena ketersediaan energi yang berkesinambungan, handal, terjangkau, dan ramah lingkungan merupakan hal yang fundamental dalam membangun industri energy yang bisa mendukung perkembangan ekonomi dan sosial suatu negara.

Kita berharap dan mendukung penuh kebijakan pemerintah yang berdaulat dan berorientasi kemandirian energy nasioanal. Semoga cita cita Bung Hatta atas kemerdekaan Indonesia “Indonesia Merdeka adalah untuk memenuhi Cita Cita rakyat untuk hidup bahagia dan makmur dalam pengertian Jasmani dan Rohani” (Bung Hatta- proklamator RI)