Menaksir peran strategis investasi dari perspektif ekonomi dan industri kerja sesungguhnya bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Terlebih tidak adanya standar baku untuk menguji derajat keberhasilan suatu investasi, terutama terkait posisinya dalam kancah perekonomian nasional maupun pengaruhnya terhadap sektor riil tertentu.

Hal ini menyebabkan perbincangan perihal sejauh mana investasi berkontribusi terhadap geliat ekonomi, baik pada tingkatan mikro maupun makro, menjadi lumayan rumit dijelaskan; lebih-lebih jika dituntut penjabarannya dalam teks diskursif yang panjang dan terperinci.  

Alih-alih ditopang dengan membuat ikhtisar estimasi pertambahan devisa bagi APBN, kemanjuran investasi harus dilihat secara lebih seksama dan komprehensif. Apakah benar kapitalisasi yang tengah dijejalkan akan berhasil mengatrol kesejahteraan dalam struktur sosial, terutama di wilayah terpencil? Atau justru kontra-produktif dengan target yang sudah ditetapkan?

Membangun dari pinggir Indonesia melalui investasi di kawasan terpencil dengan demikian menjadi sangat relevan untuk menguji peran investasi ini, terutama kedudukannya dalam menyangga perekonomian desa serta untuk menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal.

Baca juga: Anak Desa dan Kacung Kapitalis

Namun, prediksi keberhasilan proyek permodalan ini tidak bisa diasumsikan hanya dengan bertumpu pada proyeksi nilai kapital yang akan masuk ke desa, atau melandaskannya pada kuantitas industri yang terus bertambah menginvasi kampung dan dusun, atau bahkan hanya melirik dari grafik pertumbuhan ekonomi mikro yang mencuat naik, melainkan perlu melibatkan persepsi dari sejumlah variabel, termasuk dari aspek sosiologis yang berproses di tengah masyarakat.  

Harus disadari bahwa jagat investasi merupakan sebuah entitas yang tidak memiliki ekses definitif yang jelas dalam kalkulasi ekonomis-sosiologis, sebab banyak hal yang berjalin-kelindan dan terikat satu sama lain. Namun, kita bisa membuat assessment awal dengan cara meringkas variabel-variabel yang saling terpengaruh tersebut sehingga bisa dipakai sebagai rujukan untuk mendiskusikannya secara lebih tematis dan mendalam. 

Sebagai kerangka telaah untuk membuat pintasan diskursus mengenai investasi di kawasan pinggiran ini, maka penjabarannya dapat kita mulai dari dua perkara mendasar yang paling sering dituntut atas hadirnya intervensi penyertaan modal ini.  Pertama soal bagaimana serapan tenaga kerja dan yang kedua tentang bagaimana dinamika ekonomi yang timbul.

Pertama soal tenaga kerja. Serapan tenaga kerja adalah salah satu tolok ukur yang lumrah dipakai para analis maupun ekonom untuk menilai imbas investasi yang diinjeksi sebagai stimulan ke dalam sistem industri potensial. Tetapi ini tidak semata-mata menjadi standar idealitas yang mengkualifikasi berhasil tidaknya sebuah investasi, sebab banyak faktor yang ikut mendeterminasi. 

Indikasi meningkatnya angka serapan kerja setelah masuknya investasi tidak secara otomatis menjadi simpulan bahwa pendanaan sumber daya domestik yang masuk telah berhasil mengentaskan pengangguran di level internal.

Meskipun kehadiran industri selama ini sepintas banyak meraup tenaga kerja lokal, tetapi dari dekat nampak seperti mensubordinasi kedudukan rakyat tempatan hanya menjadi kelas pekerja, bukan sebagai inisiator kemandirian desanya.

Sehingga yang terjadi adalah invasi ekonomi pihak luar yang dominatif terhadap potensi lokal, di mana padat bermunculan golongan “neo feudal” yang menguasai lahan-lahan domestik serta mengikat penduduk lokal dengan kontrak kerja ber-upah murah. Menurut saya, ini sangat jauh dari idealisme kedaulatan rakyat yang tertuang dalam inisiatif nawacita.

Baca juga: Kembali Ke Desa, Perangi Masalah Kemiskinan Dan Kemanusiaan

Kedua, denyut ekonomi di kawasan pedesaan yang dipicu beroperasinya pabrik-pabrik pengolahan sumber daya alam secara kasat mata memang terlihat potensial. Namun, hal tersebut hanya berlangsung di permukaan belaka.  

Profit ekonomi mayoritas masih dikuasai secara oligarkis oleh kumpulan perusahaan, kecuali hanya sedikit yang tersisa sebagai pemasukan ke desa, entah sebagai insentif CSR, atau hanya sekadar paket uluran tangan sebagai bentuk siasat “politik etis”. Pendapatan masyarakat lokal pun banyak yang tidak merata. Memang, terjadi kenaikan pendapatan, tetapi nilainya tidak ekuivalen; tingkat konsumsinya pun juga cenderung berkurang.  

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kapitalisasi sumber daya alam lokal pada akhirnya lebih sering memenangkan pihak pemodal dengan keuntungan finansial yang tinggi.

Namun, di saat yang sama, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah sumber daya tidak mendapat manfaat ekonomi yang setara. Investasi dengan demikian kehilangan tuah untuk mengatrol derajat ekonomi masyarakat bilamana hanya bertopang pada kegiatan ekonomi yang digerakkan dari sektor industri ekspansif.

Sebab perputaran uang hanya terjadi pada jalur distribusi pendek yang dikuasai oleh segelintir pihak yang mengendalikan perangkat infrastruktur investasi; tidak sepenuhnya mengalir langsung ke dalam struktur ekonomi lokal yang berada di bawahnya.

Dalam tulisan ini, saya ingin menekankan bahwa narasi investasi kita dengan demikian jangan melulu berujar soal pengagungan terhadap tingginya serapan tenaga kerja lokal yang ujung-ujungnya hanya terkonsentrasi di sektor-sektor industri ekspansif, atau mendewakan angka-angka pertumbuhan ekonomi makro yang cenderung delusif.

Melainkan harus lebih banyak berisi tentang elaborasi manfaat investasi bagi penciptaan lapangan kerja yang mandiri dan otonom, berorientasi kreasi inovatif, mendorong invensi produk-jasa modern, serta menumbuhkan animo wirausaha di kalangan masyarakat, terutama pada lapisan demograsi penduduk yang produktif.

Baca: Desa dan Pembangunan Masyarakat Adat Inklusif

Saya pikir sudah semestinya investasi lebih di aksentuasi kepada konstruksi ekonomi kreatif yang tidak terlalu terpaku atau mengandalkan ketersediaan stok sumber daya alam lokal seperti migas dan tambang sebagaimana target investasi yang sudah-sudah.

Ia harus lebih didesain sebagai formula yang di injeksi dalam bentuk insentif wirausaha, kegiatan vokasional, atau edukasi teknologi untuk membangkitkan kreativitas individual maupun kelompok demi menghasilkan karya-karya komersil yang mampu berdaya saing global.  

Inilah yang harus menjadi pusat tenaga baru pelecut ekonomi kita; sebuah kebangkitan ekonomi mutakhir yang bertumpu pada potensi dan kekuatan cipta karya berbasis teknologi dan kearifan lokal sehingga daulat rakyat atas ekonomi  benar-benar terwujud.

Mengalihkan Investasi Asing ke Ekonomi Digital: Langkah Cerdik Membalik Posisi

Di tengah tingginya eskalasi kompetisi dan mandegnya perekonomian global, penciptaan lapangan kerja baru sebagai upaya menggerakkan kehidupan ekonomi domestik adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan. Untuk menghadapi tantangan yang berat ini, maka kita memerlukan cara-cara yang tidak hanya baru, tetapi juga revolusioner.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan mengintroduksi ekonomi digital sebagai platform baru ekonomi kita secara lebih massif; bila perlu sampai ke kawasan kampung dan dusun demi membuka potensi-potensi ekonomi baru yang ada di pedesaan.  

Tentunya, dengan dukungan infrastruktur modern yang mumpuni sebagai supporting device-nya. Ekonomi digital diharapkan bisa memperlihatkan kontribusinya dalam kancah perekonomian nasional. 

Ekonomi digital yang menitikberatkan pada keterjangkauan transaksi antar ruang adalah kekuatan baru yang harus di perkuat landasannya, baik dari sisi regulasi maupun dari sisi infrastruktur pendukung, terutama fasilitas jaringan internet yang handal sebagai basis kekuatan penopangnya.

Dengan ekonomi digital ini, haluan kebijakan ekonomi negara tidak lagi diarahkan kepada bagaimana menyediakan lapangan kerja tetapi berubah menjadi bagaimana menciptakan lapangan kerja (from providing to creating).

Dalam kaitannya dengan penciptaan lapangan kerja, investasi pada sektor ekonomi kreatif berbasis digital (digital economic) adalah opsi kebijakan yang sangat relevan untuk didorong secara konsisten, sebab sektor ini tidak memiliki batas apa pun, kecuali pada kreativitas itu sendiri. 

Investasi diperlukan untuk membesarkan bisnis ini, mulai dari pemberian modal, penyiapan infratsruktur, sampai pada pembantuan merakit start up lokal, sehingga terjadi keberlanjutan usaha. 

Andai iklim ekonomi digital benar-benar didesain melalui kebijakan yang sesuai, maka lapangan kerja baru pun akan lebih banyak diciptakan. Tidak hanya pekerjaan yang terbatas pada usaha jual-beli jasa maupun produk sebagaimana yang sudah ada, tetapi juga akan menstimulasi lahirnya bentuk-bentuk pekerjaan baru yang belum pernah terpikir sebelumnya.

Meskipun lapangan pekerjaan untuk sektor ekonomi digital ini tidak semapan pekerjaan kantoran atau pabrikan, namun potensinya sangat besar apabila dikelola dengan kebijakan yang tepat dan usaha yang serius. 

Kalau kita merenung sejenak, beberapa tahun lagi, mungkin keadaan negara akan berubah sangat cepat. Hal ini akan berimbas pula pada kebijakan negara terkait bagaimana menyediakan lapangan kerja untuk merespons ledakan demografis penduduk usia produktif.  

Setiap orang akan membutuhkan pekerjaan. Tetapi realitanya selalu menunjukkan disparitas yang tinggi antara jumlah pekerjaan yang bisa disediakan dengan jumlah angkatan kerja. 

Ekonomi digital, meskipun bukan satu-satunya, adalah sektor yang tidak mengenal kuota pekerjaan. Semua orang dengan ide cemerlang dan minat wirausaha yang tinggi bisa mengambil bagian sebagai pegiat ekonomi digital dengan mendirikan usaha bisnis online. Semuanya bisa menjadi CEO untuk usahanya sendiri.

Baca: Digitalisasi & Gig Economy: Belajar dari Uber & Deliveroo

Namun, harus diakui bahwa menjadi pelaku bisnis online tidaklah mudah.  Selama ini, kendala terbesar yang dihadapi, terutama bagi kelompok-kelompok UKM kelas menengah ke bawah, adalah ketidakcukupan modal untuk mulai membangun atau menjalankan bisnisnya. 

Di kawasan pedesaan, tantangan menjadi lebih berat lagi sebab infrastrukturnya kurang memadai dan sangat jauh berbeda sebagaimana di perkotaan, mulai dari akses jalan, kekuatan jaringan internet, dan medan yang sangat sulit. 

Kendala-kendala inilah yang membuat para pegiat usaha UKM di pedesaan menjadi tidak bergairah. Padahal, bila ditelisik ke dalam, UKM di pedesaan sesungguhnya menyimpan potensi yang sangat besar, terutama dalam penyediaan produk-produk inovatif pedesaan yang bisa jadi kualitas produksinya jauh melebihi dari pada apa yang diproduksi di perkotaan.

Suntikan dana investasi dengan demikian amat sangat diperlukan untuk menambal-sulam dan memperbaiki aspek-aspek yang lemah ini agar rintangan yang menyekat potensi UKM pedesaan bisa diminimalisir.

Baca jugaMendongkrak Potensi Desa

Ekonomi digital yang sangat didominasi oleh bisnis UKM online perlu diperluas variannya agar nilai kompetisinya semakin beragam dan kaya. Mengingat tingkat pertumbuhan bisnis UKM online di Indonesia yang mencapai 40% setiap tahun, maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi penguasa ekonomi digital di kawasan regional. 

Dengan melihat besarnya potensi ekonomi digital di Indonesia ini, maka sudah sudah tiba waktunya bagi pemerintah untuk sesegera mungkin melakukan sistematisasi regulasi dan mengambil keputusan-keputusan revolusioner pada bidang ekonomi. 

Salah satunya dengan membuka ruang investasi dengan target penguatan infrastruktur ekonomi digital dan bimbingan vokasional bagi seluruh masyarakat pelaku bisnis, baik individu maupun kelompok usaha bersama, dalam rangka mempertinggi kekuatan ekonomi digital Indonesia. 

Ketika ekonomi digital kita sudah sangat prospek, investasi dengan demikian tidak perlu lagi diarahkan pada sumber daya alam domestik yang ujung-ujungnya hanya mensubordinasi rakyat kita sendiri, melainkan dialihkan untuk membidik usaha-usaha kecil menengah dan e-commerce untuk terus merepdroduksi barang dan jasa komersil yang modern. 

Saya pikir sudah tiba waktunya bagi ekonomi kreatif berbasis digital untuk didorong sebagai tulang punggung penyangga ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Sehingga kedaulatan ekonomi yang tergurat dalam inisiatif nawacita tidak hanya sekadar menjadi jargon populis nan ilusif yang hanya dipakai memancing simpati konstituen di awal pemilu, melainkan benar-benar terwujud secara sempurna sebagaimana harapan rakyat banyak di awal pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Semoga.