Dulu saya pikir bekerja sebagai wartawan adalah pekerjaan yang begitu wow, punya elektabilitas yang tak kalah keren di mata publik, serta dapat menjadi dambaan pada banyak orang. Sehingga, saya terlalu terobsesi sangat ingin menjadi wartawan dan ingin memberitakan setiap keresahan yang terjadi. 

Yah, mungkin saja anggapan saya tidak keliru amat, karena wartawan memang sebagai opsi keempat dalam ketatanegaraan setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sehingga yang menjadi penyeimbangnya adalah media pers atau wartawan. 

Alhasil, keinginan saya itu pun jadi kenyataan, memang Tuhan selalu sayang pada hamba-hambanya dan memberikan apa yang diinginkan manusia, begitu kan. Alhasil, saya pun dapat menjadi wartawan yang ditugaskan sebagai reporter di salah satu media online lokal di Majene, Sulawesi Barat. 

Sebelumnya, saya memang tak punya pengalaman di bidang perwartawanan, apalagi di bidang lapangan untuk melakukan wawancara kepada narasumber, saya kaku amat pada bidang itu. Hanya saja modal yang saya andalkan karena memang suka nulis-nulis lepas. Alhasil, saya pun diterima dan langsung ditugaskan untuk turun langsung di lapangan cari berita, sungguh menantang. 

Waktu awal, saya amat kaku meliput peristiwa di lapangan secara langsung, saya ingat tugas pertama yang diberikan redaksi waktu itu meliput kegiatan rapat anggota DPRD kabupaten Majene. Saya hanya bisa memotret kegiatan dari kejauhan, dan tidak melakukan wawancara langsung kepada salah satu anggota DPRD, melainkan mencatat saja apa yang disampaikan saat memaparkan materi waktu sedang berlangsung rapat. Lagi-lagi itu karena kekakuan saya berada di lapangan. 

Namun secara perlahan, saya coba menyontek reaksi para wartawan lain dan sedikit demi sedikit pun kekakuan saya mulai terkuras. Makin lama saya banyak belajar menjadi wartawan, dan di sisi lain pula saya juga justru malah merasakan tidak enaknya menjadi wartawan. Hal itu tak pernah saya duga waktu dulu.

Iyah, lagi-lagi ini pandangan subjektif saya sebagai wartawan pemula yang tentu masih bisa dinyinyir oleh publik, karena kita tentu sepakat nyinyiran orang Indonesia itu emang sungguh luar biasa. Tapi, mungkin juga sisi tidak enaknya jadi wartawan yang saya rasakan ini, wartawan lain juga merasakannya, bahkan wartawan senior sekalipun. 

Setelah belajar dari pengalaman dan survey kecil-kecil dengan teman wartawan, saya menemukan sisi tidak enaknya jadi wartawan dan mungkin saja tidak diketahui banyak orang. Tetapi, yang jelas wartawan juga pasti ada sisi enaknya yang tidak dimiliki bidang pekerjaan lain, wkwkwk. 

1. Kerja 24 Jam, gaji gak dapat uang lembur, dibayar per berita tayang dengan gaji di atas UMR dikit

Wartawan memang bekerja 24 jam, tak kenal waktunya kapan, selama ada peristiwa penting maka wajib kiranya wartawan bekerja. Biar tengah malam, tengah hari, harus dituntut tetap tidak melewatkan jika ada berita mendesak dan penting. 

Kerjanya memang bukan main, tapi kebayang tidak, gajinya itu tidak gede-gede amat hanya di atas UMR dikit, itupun kalau sampai. Pengalaman saya menjadi wartawan hanya dihargai Rp.15.000-Rp.20.000 per tulisan, tergantung poin beritanya apa. Bahkan saat saya tanya teman wartawan di Majene, mereka hanya dihargai Rp.17.000 per berita. Kondisi ini memang tidak enak bukan? 

2. Cari berita sambil cari iklan

Sebagai media lokal dan masih menjadi brand media pengembangan, jasa iklan amat dibutuhkan di media tersebut, bahkan media yang sudah terkenal sekalipun. Hal itu dikarenakan supaya ada tambahan penghasilan media, yang bisa dipake bayar karyawan termasuk reporter. 

Menjadi wartawan tidak hanya ditugaskan mencari berita, tetapi juga disuruh cari iklan dan kerjasama, termasuk kerjasamanya di lingkup pemerintahan eksekutif dan yudikatif. Jelas kondisi demikian terlalu merepotkan bagi saya sebagai wartawan pemula yang minim pengalaman. 

3. Banyak liputan kurang bercinta, lagi asyik pacaran disuruh liputan

Jatah seorang wartawan untuk bercinta seperti para anak-anak muda lainnya mungkin akan berkurang, ini berlaku bagi yang punya pacar, wkwkwk. Mana mungkin tidak, seorang wartawan dituntut bisa bekerja kapan saja dalam waktu 24 jam, bahkan ada target berita yang harus disetor dan bisa tayang setiap hari. Jadi, kalau target beritanya banyak per hari, maka siap-siap saja menghabiskan waktu sehari hanya untuk mencari dan membuat berita. 

Hal paling konyol mungkin bisa saja terjadi, saat asyik-asyiknya pacaran, eh malah ditelpon redaktur untuk ditugaskan liput berita waktu itu juga. Kan kasihan, kalau ngobrol masih sedikit, tetapi malah disuruh meliput. Seakan ada yang tusuk-tusuk gitu lho, bisa saja terancam putus kerja, bahkan terancam putus pacar, risikonya bisa jadi ada salah satunya korban. Begitukah hidup penuh dengan dramatisasi, hehehe. 

4. Libur cuma mitos belaka

Ini nih yang biasa didambakan orang pekerja kantoran, yakni menunggu waktu libur. Tetapi bagi wartawan, libur itu hanya mitos belaka. Pengalaman waktu lebaran tahun ini yang baru saja berlalu, kebanyakan orang mudik dan libur kerja, tetapi teman saya wartawan masih bertahan untuk menetap di Majene dan dituntut bisa meliput saat persiapan hingga pelaksanaan salat Idul Fitri. Waktu itu, memang saya memilih harus pulang kampung dan memilih meliburkan diri sendiri, padahal tetap disuruh liputan juga. 

Tetapi saya rasa, kalau memang media ketat memang harus begitu, waktu libur hanya mitos belaka. Orang pada ramai-ramainya memanfaatkan momen lebaran dan pergi berwisata, tetapi wartawan malah dituntut untuk meliput kegiatannya orang-orang berlibur, makin ke sini saya malah tersenyum sendiri bahwa memang betul libur hanyalah mitos. 

5. Kadang tak kenal hujan dan panas matahari, harus liputan jika peristiwa penting

Tak kenal hujan dan panasnya matahari, suatu tuntutan bagi wartawan untuk meliput peristiwa jika memang penting. Bukan hanya tuntutan media tempat ia bekerja, tetapi tuntutan moral dan publik, karena wartawanlah yang akuntabel bisa memberikan informasi secara objektif, dan itu memang tugas wartawan siap memberikan informasi dalam keadaan apapun. 

6. Bisa kena tipes setahun sekali

Mengingat kerja wartawan tak menentu jadwalnya, maka jam makan pun kadang tak teratur. Kondisinya mungkin saja belum sempat makan, tetapi tiba-tiba ada peristiwa penting yang harus segera diliput karena akan basi beritanya kalau tidak segera, jelas kondisi itu bisa saja tidak sempat makan dan tidak baik bagi kesehatan. 

Kadang juga liputan berita dalam sehari, justru lupa atau terlambat makan siang, hanya karena segera mungkin mengirim hasil liputan kepada tim editor. Lagi-lagi kondisi itu tidak baik dan dapat mengundang penyakit jika terus dibiasakan, sehingga tidak heran kalau wartawan bisa saja kena tipes setahun sekali, pengaruhnya juga bisa dari faktor cuaca karena keseringan berada di lapangan. 

7. Narasumber kadang sulit ditemui, bahkan tidak bisa ditemui

Menemui narasumber hal yang paling menyebalkan juga bagi saya, karena sering kali saya menemui narasumber justru tidak ada di tempat, alasannya sementara ada kerjaan, mintanya datang besok atau lusa saja. Kondisi ini hanya buang-buang waktu, tenaga, uang bensin wartawan, dan hanya bisa digantung tanpa kepastian. 

Yang jelas kondisi ini sangat menyebalkan bagi saya, dan seakan emosi akan berontak, kalau sering dijanji, tetapi tidak pernah kesampaian. Kenapa saya katakan seperti ini, karena saya alami betul waktu ingin mewawancarai kepala Dinas Pendidikan Majene, itu hanya sampel saja lho nah. 

Jadi, dibalik kemegahan seorang wartawan, ternyata ada sisi gelap atau tidak enaknya bekerja sebagai wartawan. Yang jelas pendapat ini berangkat dari dalam diri saya sebagai wartawan pemula, sebagai reporter di media lokal yang masih proses perkembangan. Nah, kalau mau dihujat, it's okay aja.