Mawar

September lalu, di musim panas kadang hujan, aku sampaikan rasa.
Kau juga, menyatakan hal yang sama, seperti terpendam lama.
Malam pun hening membaca kata demi kata lewat whatsapp.
Kita saling melihat walaupun tak sedang dalam tatap.

Imajinasiku membayangkan bibir merah jambumu yang tak lama lagi akan ku kecup
Atau tatapanmu yang menyimpan rahasia dan senyummu yang penuh misteri.

Apa pun itu akan kuterima dalam-dalam dan kutelan mentah-mentah sampai ke hati.
Cinta itu seperti daun yang gugur, tiba-tiba jatuh ditiup angin, ikhlas.
Terima saja kenyataan manis ini, kalaupun nantinya akan pahit semuanya akan lepas.

Perihal cinta, tak ada yang perlu di jelaskan, bukan untuk ditanyakan, kenapa? Ini misteri.
Maka sampaikan saja isi hati, tenggelamkan saja dirimu dalam-dalam, jangan takut dalam keikhlasan.
Seperti bunyi-bunyian pagi buta, Semua hadir dalam nyanyian.
Seperti burung yang bersiul pagi hari, atau segelas teh hangat buatan ibu. Itu adalah cinta.

Kuharap kunjunganmu ke hatiku bukan sekedar pelepas dahaga.
Bukan untuk mengobati sepi di dadamu atau sekedar meramaikan sunyi.

Suatu saat jika kita terus bersama, semoga kita masih seperti malam ini.
Semoga rasanya masih semanis ini walaupun dihantam keraguan berkali-kali.
Mencintaimu membuat udara pagi begitu berbeda, angin malam begitu bermakna, siulan burung begitu puitis.

Tak ada yang sia-sia, semunya indah seperti langit musim panas
Janji-janji keluar dari mulutku beserta sumpah serapah, manis.
Kini kau dan aku tak berdaya, tenggelam dalam sebuah rasa tak tersurat.
Aku, berharap malam tak menemui cahaya dan terus berada pada larut.
Kita diam-diam tanpa alasan jatuh mencintai.

Desyana

Semesta belum memberikan kesempatan untukku menyentuh jemarimu.
Entah bukan waktunya atau kau bukan untukku.

Sesekali aku menatap langit, bertanya-tanya perihal cinta
Kenapa tak tersurat Sehingga bisa kutolak saja?

Mencintai itu tak jelas rasanya, kadang pahit kadang manis.
Aku merasakan keduanya di hati, sampai habis.

Kau begitu menghantui, senyummu terlintas di antara bunga bougenville musim panas.
Tatapanmu, ahh aku tak sanggup, sudahlah ambil saja hatiku lalu pergi saja dengan rasa di dalamnya, aku tak sanggup menyimpannya didadaku.
Barangkali aku harus mengunjungi matamu sebelum hilang tanpa menikmatimu.

Nila

Di dalam kepala ada sunyi warna-warni, malam tanpa bintang.
Aku berada di bawah plafon yang penuh dengan noda tetesan air hujan dari atap yang bolong.
Menyaksikan film-film dan berharap ada manusia sepertiku di televisi.
Aku masih labil, dihantam masalah pula, masalah jiwa yang berasal dari pikiranku sendiri.

Keesokan harinya, terdengar kabar kau mencintaiku.
Tak sangka, namun sayang aku tak mencintaimu.
Kau tak mengubah apapun, pikiranku masih saja kosong, hatiku masih rapuh.

Maaf bukannya kau tak bermakna, aku yang belum utuh.

Puspita

Dari matamu yang rabun, aku ragu, mungkin aku terlihat buram.
Aku tak percaya kacamatamu, kau mencintaiku melalui lensa.
Kau memegang tanganku, mengarahkannya di dadamu, membuatku merasakan degupan jantungmu.

Untuk pertama kalinya, aku percaya cinta bukan hanya soal tatapan.
Atau pipi yang tiba-tiba merah jambu tersipu malu bersama harapan.
Sayang di hari-hari berikutnya, jantungmu tak berdegup lagi.

Irma

Sepertinya dari awal kita memang tak berniat tuk memiliki.
Kita duduk berhadapan menebak-nebak arti sebuah tatapan dalam hati.
Aku tak pernah berfikir kau punya rasa yang dalam.
Mungkin benar kau suka, tapi bagiku kau tak punya banyak cinta dan mudah padam.

Kita berdua bertemu setelah patah hati bersama.
Mungkin kau hanya butuh madu untuk menghilangkan bekas luka.
Dan aku butuh waktu untuk menghapus kenangan
Alangkah baiknya kuhabiskan waktu bersamamu, saling bercerita mengenang segala yang pahit untuk ditelan.

Kita berdua adalah pemanis untuk cerita masing-masing.
Kita bertukar pikiran dan berharap tak bertukar hati. Sebab kita terlalu sakit untuk memulai cinta yang baru.
Tak perlu lagi ada rasa di antara kita, kita sembuhkan saja dulu luka yang lalu.
Biarkan sepi ini melenakan kita dalam rasa tak bernama.
Sebab sampai detik ini, aku enggan menamainya cinta.

Kian

Kau begitu nyaman dalam khayalan, di ranjang, aku membayangkanmu tertawa bersamaku.
Di bangku taman dalam mimpi kita selalu bertemu.
Atau di kepalaku yang semakin sinting hanya untuk menciptakan senyumanmu.
kau dan segala yang terbentuk oleh kata-kata hadir begitu seumpama di hatiku.

Kau terlalu seandainya untuk di cintai dalam-dalam.
terlalu liar untuk ditebak kemana arahnya, bahkan sedikit usang.
Sekarang kau hilang ditelan sekian banyak senyuman yang hadir menghiasi isi kepala.

Nina

Malam-malam begitu dingin, degupan jantung begitu cepat.
Kau, masih di pikiran negatifku yang tak pernah ku rawat.
Bahkan, aku tak harus berkompromi dengan hatiku untuk memberi maaf.
Mencintaimu seperti menelan apapun yang pahit.
Waktu berlalu, semua tentangmu semakin memudar, namun menyisakan yang manis.
Sudah itu saja.