Biasanya, wanita takut terhadap penolakan suaminya atau jika tidak diperhatikan olehnya. Hal ini lantaran dia menyimpan di dasar jiwanya yang paling dalam dan di alam bawah sadarnya suatu keyakinan keliru bahwa dirinya tidak layak untuk diperhatikan dan dipedulikan. Kadang, sejak kecil dia telah diajarin untuk mengekang berbagai keinginan, kebutuhan, dan perasaannya. 

Berbagai perasaan negatif ini khususnya tumbuh di saat remaja putri mengalami perlakuan yang kurang baik dalam kehidupannya. Akibatnya, sekarang ia sulit merasakan bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan. Perasaan kurangnya harga diri ini terkait pula dengan perasaan yang lain, yaitu ketakutannya terhadap kebutuhannya pada orang lain, karena dia selalu mencemaskan penolakan dari mereka dan tidak direspons.

Oleh karena itu, terlihat oleh laki-laki bahwa dia tidak butuh kepada dirinya dan inilah secara pribadi faktor yang membuat kaum pria berpaling darinya. Sebab seperti yang telah lalu, di antara faktor yang menjadikan kaum laki-laki mau menerima dan memberikan apa yang dimilikinya adalah perasaan bahwa istrinya butuh kepadanya.

Masalahnya menjadi kian kompleks saat wanita menyaksikan berpalingnya pria, sehingga dia mengira bahwa keadaan ini membuktikan berbagai kekhawatirannya bahwa pria tidak akan pernah meresponsnya dan tidak akan pernah memenuhi berbagai kebutuhannya.

Berhubung pada diri wanita telah tertanam perasaan kurang berharga yang mendalam, maka ia pun terkondisi dengan perasaan itu dengan menjadi sangat perhatian dan amat respon terhadap berbagai kebutuhan orang lain. Oleh karena itulah, dia tidak segan untuk memberikan banyak hal, tetapi ia tidak merasa bahwa sebenarnya dirinya juga berhak untuk mendapatkan pemberian dari pihak lain. 

Dia hanya berharap bahwa jika dia telah mempersembahkan dan mengorbankan, maka menurutnya dirinya menjadi layak terhadap berbagai bentuk pengorbanan orang lain. Padahal dia tidak sadar bahwa situasi-situasi tertentu dia sangat layak untuk mendapatkan perhatian dan kepedulian pihak lain, hingga sekalipun dia belum pernah mempersembahkan berbagai pengorbanan.

Apabila seorang anak perempuan terdidik dengan kebiasaan lingkungan yang memberikan penghargaan kepadanya, terutama dari kedua orang tuanya. Atau, karena ia sering menyaksikan ayahnya menghargai ibunya, maka ia akan tumbuh dewasa dengan memiliki perasaan yang mendalam tentang harga dirinya serta penghormatan orang lain terhadapnya. 

Selain itu, dia tidak akan merasa perlu melakukan banyak hal untuk membuat dirinya diakui atau membuat orang lain mengakui dirinya sebagai seorang pemudi atau wanita.

Ketika wanita merasakan dengan sebenarnya bahwa dia pantas untuk mendapatkan cinta seorang pria dan perhatiannya, maka dia akan menemukan pria itu di sekitarnya yang mencintai dan memperhatikannya.

Hanya saja sesuatu yang menyakitkan dalam berbagai hubungan perkawinan adalah sering kali hal ini menghabiskan waktu sepuluh tahun bersamanya setelah perkawinan sampai ia merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan seluruh cinta dan perhatian, dan setelah dia mempersembahkan banyak hal selama bertahun-tahun, hingga sampai pada kondisi dimana ia mengatakan kepada suaminya.“telah kuberikan kepadamu segalanya sampai tidak tersisa lagi apa yang bisa kuberikan.

Hal penting dalam menangani kasus seperti ini adalah, membuat wanita puas bahwa tidak perlu memberikan lebih hanya untuk menjaga hubungannya bersama suaminya. 

Tetapi, yang dia perlukan hanyalah perasaan menerima terhadap pemberian, lantaran suaminya akan mempersembahkan lebih banyak kepadanya, asalkan dia mengurangi apa yang biasa dia berikan kepadanya. Istri ini telah melupakan berbagai kebutuhannya untuk mempersembahkan kepadanya apa yang dibutuhkannya. 

Sekarang setelah dia memahami berbagai kebutuhannya, maka suaminya juga akan memahami berbagai kebutuhan ini dan akan berupaya untuk memenuhi saat dia merasa bahwa istrinya memerlukan perhatian dan cintanya. Kadang laki-laki butuh beberapa waktu untuk mempelajari bagaimana ia bisa memahami berbagai kebutuhan istrinya. Akan tetapi yang penting adalah dia telah menyadari sampai dimana sikapnya yang mengabaikan berbagai kebutuhan istrinya dan bahwa kini dia menginginkan perubahan dan perbaikan.

Hal yang sama terjadi pula pada laki-laki, secara tiba-tiba menyadari bahwa dirinya kurang bahagia, sehingga dia butuh  tambahan rasa cinta, simpati serta perhatian istrinya. Maka, ketika itulah istrinya akan merentangkan lebar-lebar kedua tangannya untuknya dan akan memberikan kepadanya sekali lagi kecintaan dan perhatian yang dicarinya.

Kadang masalah ini juga perlu beberapa waktu sesuai dengan lamanya masa pengabaian dan tiada perhatian kepada berbagai kebutuhan  emosional suami. Namun, yang penting apabila, salah satu pihak telah  mulai melakukan perubahan secara positif, maka yang lain juga akan berubah ke arah yang sama.

Begitulah kehidupan secara umum, ketika seorang murid telah siap untuk menimba ilmu. Maka dia akan mendapatkan gurunya berada di hadapannya dan ketika dilontarkan pertanyaan maka akan ditemukan jawaban.