PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) tingkat Provinsi atau yang akrab disebut Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur berdasarkan informasi terakhir 'hanya' akan diikuti oleh dua pasangan calon saja. Ialah Saifullah Yusuf yang secara resmi menggandeng 'trah Soekarno' yaitu Puti Guntur Soekarno dan sang kompetitor yang seolah penasaran (setelah selalu 'takluk' oleh orang yang sama dalam dua pilgub sebelumnya) yaitu Khofifah Indar Parawansa yang menggandeng bupati muda Emil Elistiano Dardak.

Munculnya nama Gus Ipul ~ sapaan Saifullah Yusuf ~ dan Khofifah Indar Parawansa sejatinya sudah banyak 'diramalkan' atau diperkirakan  oleh para pengamat, selain tentunya nama-nama potensial lain seperti Tri Risma, Suyoto, Ipong, Masfuk, dan sebagainya.

Banyak orang pula mungkin beranggapan bahwa majunya (lagi) Khofifah Indar Parawansa menyiratkan betapa ambisiusnya seorang Khofifah untuk berkuasa di Jawa Timur kendati tengah mengemban amanah sebagai menteri sosial dalam kabinet kerja Jokowi. 

Pandangan itu muncul pasalnya dalam dua 'pagelaran' pilgub terakhir Khofifah selalu kalah oleh sepasang calon yang sama, yakni oleh pasangan Soekarwo (Pakdhe Karwo) dan Gus Ipul. Lantas muncul pertanyaan, apakah pilgub atau pilkada 2018 kali ini akan menjadi 'hatrick' (kekalahan) bagi Khofifah?

Jika saya coba membaca, sejatinya duet awal antara Gus Ipul dan Azwar Anas (sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh Puti Guntur Soekarno) sangatlah menjanjikan. Elektabilitas yang tinggi dengan track record yang cukup bagus, jelas menjadikan Khofifah (yang saat itu belum menggandeng Emil) memutar otak dan berpikir keras agar terhindar dari 'hatrick' kekalahannya dalam pilgub.

Bahkan PAN dengan stok kader potensial berlimpah macam Suyoto (Bupati Bojonegoro) dan Masfuk (mantan Bupati Lamongan) pun enggan terburu-buru menyatakan sikap politiknya. Beberapa partai seperti Gerindra bahkan sempat 'melamar' Yenny Wahid hingga akhirnya urung menentukan calonnya, meskipun saat itu juga ada tokoh yang cukup potensial semisal La Nyalla Mattaliti (sebelum kisruh kasus mahar dengan Prabowo, sang empunya Gerindra).

Namun, singkat cerita Azwar Anas kemudian memutuskan untuk mundur dari konstalasi politik pilgub 2018. Peta pun seketika berubah, Khofifah yang telah menggandeng Emil Elistiano Dardak semakin melejit namanya, sementara di satu sisi, koalisi PDIP dan PKB jelas dibuat 'pusing' dengan mundurnya Azwar Anas. Pasalnya sangat sulit untuk mencari sosok figur yang mungkin 'klop' dan mampu mengatrol suara.

Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) sempat kembali diperbincangkan, namun dengan jelas ia menolak untuk maju. Di tengah kepanikan tersebut, muncul kemudian figur yang sama sekali tidak masuk dalam radar pengamat maupun partai lain, ialah Puti Guntur Soekarno.

Entah pertimbangan apa yang kemudian membuat PDIP berani 'memandatkan' nama calon wakil gubernur kepada Puti padahal jelas di Jawa Timur sangat berlimpah akan figur-figur potensial (namun mungkin hanya beberapa saja yang merupakan kader PDIP). 

Pertanyaan lain muncul kemudian, sejauh mana Puti mampu mengatrol elektabilitasnya. Ditambah lagi faktor kultur di Jawa Timur yang merupakan kultur pesantren, serta berbagai faktor lain yang tertu saja berbeda dengan apa yang ia rasakan di Jawa Barat dimana ia merintis dan menumbuhkembangkan karir politiknya.

Sedangkan di satu sisi, Emil Elistiano Dardak menjadi salah satu sosok yang cukup diperhitungkan dan tengah melejit. Image-nya sebagai seorang jenius muda bergelar Ph.D (lulusan Jepang) ditambah dengan suntikan popularitas sang istri sebagai seorang artis (Arumi Bachsin) membuat pasangan Khofifah-Emil lebih percaya diri tentunya.

Jika demikian, bukan tidak mungkin bahwa akan sulit untuk membendung pasangan Khofifah-Emil, mengingat Puti bukanlah merupakan figur sentral yang mempunyai elektabilitas tinggi macam Azwar Anas (yang digantikannya). Suara Nahdatul Ulama' (NU) sudah barang tentu akan terpecah menjadi dua, mengingat sosok Gus Ipul yang merupakan salah satu pengurus di PBNU dan figur Khofifah yang juga seorang petinggi Muslimat NU.

Sementara itu, 'kharisma' Pakdhe Karwo jelas akan berpengaruh bagi konstituen pasangan Khofifah-Emil mengingat ia adalah figur sentral Jawa Timur (sebagai Gubernur dua periode), apalagi bahwa secara kelembagaan Partai Demokrat telah menentukan sikapnya mengusung Khofifah-Emil bersama dengan PAN, Nasdem, Golkar, dan Hanura, serta PPP.

Selain itu, anggapan bahwa PAN sering dianggap sebagai representasi sikap politik Muhammadiyah adalah tidak sepenuhnya benar mengingat kader-kader Muhammadiyah yang banyak tersebar di berbagai partai. 

Maka, jelas PAN tidak bisa serta merta dianggap merepresentasikan suara warga Muhammadiyah. Jika demikian, maka jelas suara dari warga Muhammadiyah menjadi sangat diperhitungkan mengingat di Jawa Timur Muhammadiyah juga berkembang cukup baik.

Perpaduan jiwa agamis pesantren dengan nasionalis dalam duet Gus Ipul-Puti 'melawan' paduan sosok agamis dengan sosok intelektual muda dalam konstalasi politik pilgub Jawa Timur memang patut untuk disimak.

Tapi, politik tetaplah politik, ia adalah sesuatu yang cukup sukar untuk diterka-terka. Berbagai hal masih bisa dilakukan oleh kedua kubu dan tim suksesnya masing-masing. Elektabilitas dalam survey pun sejatinya tak selalu menjadi penentu atau nilai mutlak bahwa sang calon akan menang. 

Gus Ipul dengan elektabilitas tinggi yang bergandeng dengan 'pendatang baru' di tanah Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno bersaing dengan Khofifah Indar Parawansa yang begitu dominan di kalangan perempuan dan pedesaan yang bergandengan dengan Emil Elistiano Dardak, seorang intelektual muda yang begitu potensial dan patut diperhitungkan kiprah politiknya.

Layak untuk kita nantikan dinamika yang terjadi dan tentunya sebagai warga negara yang baik, tetap simak dan ikuti mereka, pantau calon-calon tersebut, dan tetap salurkan hak suara kita karena sedikit-banyak itu akan menentukan bagi Jawa Timur 5 tahun ke depan.