Di masa Pandemi Covid-19, bukan hanya mahasiswa dan Dosen yang mengalami perubahan kebiasaan akibat adanya kuliah online, orang tua mahasiswa pun turut merasakan dampak dari adanya kuliah online yang terlihat pada anaknya. Dengan catatan, sang anak memang mengabaikan etika kuliah online yang membuat orang tua tidak bisa membedakan anaknya sekadar menonton Youtube, atau sedang kuliah. Maka selanjutnya, penulis akan merangkum 4 hal yang mesti diperhatikan mahasiswa agar tidak disangka Youtube-an saat menjalani kuliah online.

Mengenakan Pakaian yang Rapi

Meskipun dalam kasus tertentu dosen kadang tidak mempermasalahkan penampilan mahasiswa saat kuliah online, mengenakan pakaian yang rapi akan membuat mahasiswa sadar ia sedang kuliah dan dalam forum akademik. Di sini kadang muncul pertanyaan, bukannya dalam kultur akademik yang menjadi nilai dasar adalah intelektualitas? Mengapa kita harus mempermasalahkan atribut yang tidak menunjang akademik?

Pertanyaan menggugat semacam ini menjadi dalil yang seakan sulit digugat dan melegitimasi mahasiswa yang merasa kritis untuk bertindak semaunya sendiri. Padahal dalam berbagai macam hal-hal yang substansial, kalimat-kalimat kritisnya sama sekali tidak bisa ia ungkapkan dengan baik.

Dalam perkara lain, secara common sense mahasiswa bisa memilih pakaian yang menurutnya pantas untuk dipakai untuk pergi ke Mall, Café, atau Kondangan (entah masih ada mahasiswa yang kondangann atau tidak). Maka mahasiswa sebenarnya punya mekanisme sense of culture yang membuatnya tahu kepantasan pada kondisi budaya tertentu.sa

Toh, gugatan mahasiswa tentang pakaian yang tidak berkorelasi dengan kemampuan intelektual ini tidak bermakna kalau ternyata itu hanya digunakan untuk menutupi kekosongan intelectus pada tempurung kepalanya.

Open Camera

Tidak jarang dosen yang memperbolehkan mahasiswanya tidak open camera dengan alasan penghematan kuota. Tak jarang pula mahasiswa yang menyalahgunakan ijin ini untuk meninggalkan perkuliahan dan hanya menyisakan akun yang masih berada dalam kelas virtual, atau setidaknya berkuliah sambil berbaring.

Pentingnya Open Camera sebenarnya menjadi penting dalam perkuliahan online bukan semata-mata diperintah dosen, tapi adanya interaksi mahasiswa secara visual akan menunjang kualitas pembelajaran. Pembelajaran terasa lesu dan tidak bergairah, bisa jadi karena hal ini.

Dalam Ilmu Komunikasi, sudah lazim diketahui bahwa komunikasi dua arah membutuhkan feedback (umpan balik). Umpan balik bukan hanya berupa pertanyaan normatif dari dosen di akhir sesi perkuliahan, "apa ada pertanyaan atau tanggapan?" Tapi, umpan balik dalam komunikasi dua arah juga dapat dilihat secara non-verbal. Jadi dosen maupun mahasiswa benar-benar merasa kalau ia tidak sedang berkomunikasi dengan layar laptop saja, tetapi ada jiwa yang di seberang sana yang memperhatikannya apa yang ia sampaikan.

Hal ini sebenarnya juga dirasakan pada stand up comedy secara virtual yang akhir-akhir ini yang memang butuh feedback berupa tawa dari penonton. Bahkan liga-liga sepak bola Eropa pun juga memasang layar yang menghadirkan penonton secara virtual pada tribunnya, agar selebrasi setelah mencetak gol tetap menjadi meriah dan membedakannya dengan sesi latihan.

Aktif dalam Perkuliahan

Poin ini sebenarnya adalah etika yang berlaku bukan hanya pada kuliah online, tetapi dalam perkuliahan offline pun memang seharusnya mahasiswa aktif dalam perkuliahan. Dan memang akhirnya ini menjadi salah satu masalah yang mendasar bagi dunia akademik khususnya di Indonesia.

Betapa banyak perkuliahan yang diadakan hanya untuk memenuhi jatah SKS atau sekadar formalitas, dan melengkapi berkas administrasi. Keaktifan mahasiswa menjadi problem berkelanjutan dan akhirnya akan secara psikologis berdampak pada semangat dosen untuk mengajar.

Keaktifan mahasiswa dalam perkuliahan akan menaikkan semangat seorang dosen dalam mengajar. Syukur-syukur kalau seorang mahasiswa mampu mengajukan pertanyaan kritis dan berkualitas. Maka kultur akademik yang berkualitas akan semakin tumbuh.

Hadir Tepat Waktu

Sejau yang penulis pantau, kehadiran tepat waktu menjadi masalah etika yang sering dimaklumi oleh para dosen. Tak jarang, dosen menunggu mahasiswa hadir untuk memulai perkuliahan.

Pemakluman ini sebenarnya juga mejadi bumerang bagi mahasiswa nantinya. Dalam dunia kerja, belum tentu keterlambatan akan dimaklumi seperti ini.

Kebiasaan tepat waktu konon katanya memang jadi masalah yang sering dimaklumi di Indonesia. Kesadaran untuk hadir tepat waktu harus dibiasakan agar nantinya mahasiswa bisa lulus dengan tepat waktu pula.

Memang perlu adanya regulasi yang mengintegrasikan jadwal kuliah, laman pengumpulan tugas, dan lembar penilaian. Salah satu contoh adalah yang sudah diterapkan di UMY. Pada laman Myklass UMY selain sebagai presensi perkuliahan dan pengumpulan tugas, Myklass juga dapat diintegrasikan dengan Big Blue Button yang sebagai ruang perkuliahan virtual.

***

Adanya teknologi yang kini dapat memangkas ruang sangat memudahkan manusia modern, nyatanya perlu dibarengi dengan kepekaan kita dengan etika dalam penggunaannya agar tidak timbul eksploitasi di dalamnya. Teknologi hadir tidaklah bebas nilai, ia dilatarbelakangi nilai tertentu sehingga muncul untuk memudahkan manusia. Tapi, dalam penggunaannya, bisa jadi akan terjadi pergeseran nilai, baik pada penggunanya, atau pada alat teknologinya. Seperti pisau bermata dua