Karakter beragama orang Islam Indonesia itu kagetan. Tidak bisa melihat sesuatu yang baru, melihat sesuatu yang asing, melihat sesuatu yang berbeda, pasti langsung kaget. Para pengamat sering menyebut fenomena ini sebagai shock culture (budaya kaget)

Mereka yang terjangkit penyakit ini akan alergi melihat perbedaan dan keberagaman. Hanya kebenaran yang diyakininyalah yang benar. Di luar dari itu tidak dianggap sebagai suatu kebenaran.

Penyebab budaya kaget tidak lain adalah dangkalnya wawasan, sempitnya pergaulan, atau yang dalam bahasa anak Ciputat, ngopi-nya masih kurang jauh. Dan celakanya ini bukan saja terjadi pada masyarakat awam, tapi juga kalangan agamawan.

Misal kemarin yang baru saja terjadi dan hangat dibincangkan adalah ketika Prof. Dr. Nasaruddin Umar yang merupakan Imam Besar Mesjid Istiqlal dan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengatakan bahwa tidak semua perkataan dan perbuatan Nabi harus diikuti.

Pernyataan ini sontak mendapat tanggapan dari beberapa kalangan. Tanggapan yang diberikan cukup reaktif. Salah satunya datang dari Tengku Zulkarnain (maaf saya tidak memanggilnya kiai. Karena sepanjang yang saya tahu, beliau bukanlah lulusan sekolah agama, baik itu pesantren atau sejenisnya. Beliau adalah seorang penyanyi yang mendadak jadi ustaz). Ia mempertanyakan pernyataan Imam Besar Mesjid Istiqlal tersebut.

Awalnya Prof. Nasaruddin Umar menyinggung terkait masalah Nabi yang makan dengan menggunakan tiga jari. Selanjutnya ia mengatakan bahwa itu tidak cocok dengan budaya Indonesia yang makan dengan lima jari dan Jepang yang makan menggunakan sumpit. Makanya sah-sah saja kalau tidak diikuti.

Dan dengan begitu juga, tidak berarti bahwa umat Islam Indonesia dan Jepang menyelisihi Nabi. Karena memang objek yang dimakan berbeda. Nabi makan kurma, jadi wajar kalau dengan tiga jari. Sebab kalau makan kurma dengan lima jari, Nabi pasti dianggap rakus. Nah, orang Indonesia makannya bukan kurma, tapi nasi. Pasti kesusahan kalau makan tiga jari. Kapan kenyangnya?

Nah, atas dasar inilah Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah tersebut menyimpulkan bahwa tidak semua hal yang dikatakan dan dilakukan oleh Nabi harus ditiru. Apalagi terkait makan tiga jari tersebut. Tidak mesti. Sebab itu adalah bagian dari sisi personal Nabi sebagai manusia Arab yang biasanya makan kurma, bukan Nabi dalam kapasitas beliau sebagai Nabi.

Tengku Zulkarnain, sebagaimana dalam unggahannya di Instagram, tampak keberatan dengan argumen Prof. Nasaruddin Umar di atas. Ia mengatakan makan tiga jari itu, walau bagaimana pun akan berperhala jika dilakukan. Jadi kita semacam diisyaratkan agar berusaha untuk mengikuti Nabi. Padahal tidak begitu aturannya.

Di sinilah saya dibuat heran oleh beliau. Yaitu ketika masalah makan Nabi dengan tiga jari itu dimasukkan dalam kategori suatu hal yang berpahala jika dilakukan dan sah-sah saja bila tidak. Dan saya beranggapan kalau pemahaman ini lahir atas ketidakutuhan pengetahuan kita tentang makna dan definisi sunnah itu sendiri beserta klasifikasinya (pembagiannya).

Quraish Shihab tentang Sunnah

Prof. Dr. Quraish Shihab, sebagaimana penjelasan beliau dalam acara talk show bersama Najwa Shihab (anaknya) dalam channel Narasi TV dan juga dalam bukunya 'Membumikan Al-Quran',  menguraikan bahwa definisi dan makna sunnah ditinjau dari beragam disiplin ilmu pengetahuan dibagi menjadi tiga. 

Pertama, sunnah dari segi bahasa. Kedua, sunnah dari segi hukum. Ketiga, sunnah dari segi ilmu hadis atau ilmu mustalah hadis.

Pertama, dari segi bahasa. Sunnah itu berasal dari bahasa Arab yaitu sanan, yang artinya jalan. Makanya dalam bahasa Arab ada ungkapan, latattabi’una sabana man kana qoblaqum (Kalian pasti akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kamu.)

Selain itu, sunnah juga berarti gaya hidup atau cara hidup seseorang. Ada sunnah Nabi. Itu berarti gaya hidup Nabi kalau misalnya ditinjau dari segi bahasa. Nabi bersabda, annikahu sunnati. Menikah itu adalah gaya hidupku dalam menyalurkan hubungan seksual. Menikah dengan wanita itu adalah gaya hidup. Dan itu sunnah. Tapi yang harus diingat, bukan sunnah dalam pengertian hukum.

Kedua, sunnah dalam pengertian hukum adalah sesuatu yang apabila dikerjakan dapat pahala, tidak dikerjakan tidak berdosa. Karenanya sebagaimana persoalan di atas, masalah jomblo dan tidak jomblo itu harus dikembalikan kepada hukum dasar nikah itu apa? Para ulama menjawabnya boleh. 

Teradang menjadi wajib apabila yang bersangkutan dikhawatirkan terjerumus dalam sesuatu yang haram. Dan terkadang juga menjadi haram, kalau yang bersangkutan belum mampu menjalankan fungsi-fungsi pernikahan. Terkadang menjadi anjuran, terkadang menjadi makruh. Itu dari segi hukum.

Setelah sunnah dari segi bahasa dan dari hukum. Ada lagi sunnah dalam pengertian yang ketiga. Yaitu sunnah dalam pengertian ilmu hadis atau ilmu mustalah hadis.

Secara umum kita sering mengatakan kalau sunnah itu adalah ucapan, perbuatan dan pembenaran Nabi. Beliau misalnya melihat salah seorang sahabat melakukan sesuatu, lantas beliau diam. Itu adalah sunnah Nabi dari segi pembenaran.

Nah, setelah diuraikan semuanya, kita kemudian akan paham bahwa tiga makna sunnah Nabi ini kalau kita fokuskan pada pembahasan sunnah dalam pengertian ilmu hadis atau ilmu ushul hadis ini, kita akan dihantarkan pada kesimpulan dan akhirnya berkata bahwa: Seseorang itu harus cerdas-cerdas meneladani Nabi dalam sunnahnya. Tidak semua sunnah harus dikategorikan sebagai sesuatu yang apabila dikerjakan dapat pahala. Tidak. 

Kenapa? Karena ada perbuatan Nabi yang khusus untuk beliau. Satu contohnya adalah Nabi tidak menerima zakat. Kemudian Nabi kalau tertidur wudhunya tidak batal. Nabi dalam kedudukannya sebagai Rasul dibolehkan oleh Allah menikahi wanita lebih dari empat. Kita harus cerdas dan jeli dalam melihat hal ini.

Apalagi di samping itu ada beberapa hal yang memang itu dilakukan Nabi dalam konteks pribadi beliau. Hal ini bisa berarti tidak untuk ditiru dan bahkan tidak harus untuk ditiru. Salah satu contohnya adalah Nabi gondrong. Itu berkaitan dengan budaya masyarakat saat itu. Jadi tidak harus ditiru.

Dan ini juga cukup relevan bila dikaitkan dengan fenomena sekarang. Sebab di sana kita sering melihat ada sebagian orang yang  dengan mudahnya berkata: Saya ingin mengikuti dalam perkawinan. Saya mau kawin dengan anak gadis umur 15 tahun. Itu boleh atau tidak? Tidak. Mestinya cerdaslah. Memangnya Anda Nabi? Sombong sekali mengatakan ingin mengikuti Nabi.

Contoh lainnya juga adalah, misal, kalau mau ikuti Nabi dalam poligami, maka nikahilah janda-janda tua. Seharusnya begitu.

Jadi sekali lagi, kita harus cerdas dalam mengikuti sunnah Nabi. Sebab ada beberapa hal yang memang dilakukan oleh Nabi dalam konteks masyarakat beliau saat itu. Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan. Misalnya dalam menggosok gigi, Nabi dulunya memakai simak. Sekarang sudah ada sikat gigi dan pasta gigi. Jadi kita harus cerdas dan harus tetap memperhatikan zaman.