Dunia maya selalu penuh dengan hiruk pikuk yang lagi-lagi membicarakan tentang perempuan dan ‘bagaimana ia seharusnya’. Makhluk Tuhan jenis ini terlalu sering mendapat kursi panas untuk jadi bahan omongan sana-sini. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, tidak akan pernah habis dan perempuan masih dipersalahkan atas pilihannya.

Tahun ini adalah tahun dimana olahraga empat tahunan sekali seperti Olimpiade Tokyo 2020 selesai dihelat. Indonesia berhasil membawa pulang lima medali dari cabang angkat besi dan bulu tangkis. Tentu saja kemenangan kelima atlet tersebut dirayakan oleh masyarakat Indonesia dengan euforia ucapan selamat di berbagai media sosial dari kalangan artis hingga politisi yang ikut numpang eksis kasih ucapan bahagia ke mereka.

Akan tetapi diantara ucapan selamat yang diberikan, terselip satu momen yang harusnya tidak dilontarkan pada atlet kita yang sudah berjuang dengan sekuat tenaga itu. Windy Cantika Aisah, atlet angkat besi di kelas 49 kg setelah kemenangannya meraih medali perunggu ia digunjing netizen budiman karena melepas jilbabnya saat bertanding. Sebab Windy di akun Instagram pribadinya sudah mulai mengenakan jilbab, netizen sangat menyayangkan hal itu.

Meskipun ditanggapi dengan bijak oleh Windy, bahwa dirinya sedang dalam proses belajar berhijrah, tetap saja komentar yang demikian cukup menyebalkan dan tidak tepat momentumnya. Banyak ucapan menyenangkan yang bisa dilontarkan tetapi sebagian warganet lebih memilih mengomentari absennya jilbab dari kepala Windy yang sudah seharusnya itu menjadi ranah privat manakala jilbab yang dimaksudkan menjadi jalan hijrah spiritual seseorang.

Setelah Windy, komentar jelek terhadap atlet perempuan kita belum usai. Nurul Akmal atlet angkat besi asal Aceh yang masuk Final di kelas +87 kg Olimpiade Tokyo 2020 saat penyambutan kepulangannya di Bandara Soekarno-Hatta 5 Agustus 2021 lalu diteriaki ‘Yang paling kurus’ oleh seseorang di tengah keramaian. Lagi-lagi ucapan tidak berfaedah meluncur mulus begitu saja tanpa disaring.

Ucapan sederhana semacam ‘terima kasih sudah berjuang untuk Indonesia’ agaknya terasa kelu di lidah orang-orang pengecut yang saat itu memberikan body shaming terhadap Nurul Akmal. Standarisasi cantik ideal dengan badan langsing semampai nyatanya belum benar-benar musnah dari bumi ini. Perempuan masih ada saja yang dicibir mengenai bentuk tubuh mereka.

Body shaming terhadap seseorang baik perempuan atau pun laki-laki tidak bisa disederhanakan dengan balasan kalimat ‘halah begitu saja baper’. Kita tidak pernah tahu dibalik perasaan seseorang manakala bentuk tubuhnya menjadi bahan olokan. Lebih baik diam dari pada mengatakan hal-hal yang menyakitkan.

Seksisme lain yang terjadi saat olimpiade berlangsung adalah pemberian sanksi denda kepada tim bola tangan perempuan delegasi Norwegia. Seperti yang dilansir BBC News Indonesia, Delegasi tim bola tangan perempuan Norwegia didenda 1.500 Euro atau sekitar 25,5 juta rupiah. Peraturan seragam yang mengharuskan tim bola tangan perempuan memakai bikini membuat mereka kurang nyaman karena terlalu ketat dan terbuka.  

Setelah cara berpakaian dan bentuk tubuh yang problematik. Perempuan dihadapkan lagi dengan isu reproduksi. Youtuber Gita Savitri pun mendapat cercaan atas pilihannya untuk tidak memiliki anak alias childfree. Fungsi reproduksi yang melekat pada diri seorang perempuan karena memiliki rahim seolah menjadikan keharusan bahwa tujuan menikah adalah hanya beranak-pinak.

Judging yang diterima Gita Savitri bahkan tidak sedikit datang dari kalangan sesama perempuan sendiri. Kuasa atas tubuh perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak seakan harus dipertanggung jawabkan dihadapan publik. Berbagai tuduhan yang tidak-tidak pun dilontarkan kepadanya.

Terlepas dari alasan yang melatarbelakangi keputusan itu. Perempuan haruslah merdeka untuk memilih jalan hidupnya sendiri secara bertanggung jawab. Kejadian-kejadian seperti di atas bisa jadi akan terus berulang jika saja kita tidak berniat mengubah pola pikir bahwa kita tidak berhak atas tubuh orang lain dan pentingnya kesadaran menghargai keputusan orang lain.

Begitulah realitas yang terjadi bagaimana perempuan seharusnya. Tulisan esai-esai dari Kalis Mardiasih dalam buku “Muslimah yang Diperdebatkan” mendapat contoh nyatanya hari-hari ini. Ironi, hal-hal yang harusnya disudahi dan ditinggalkan seperti body shaming, masalah hijrah seseorang masih langgeng dipertontonkan di jagad maya atau bahkan sudah melebur di kehidupan sehari-hari kita.

Selesai membaca buku tersebut, setidaknya saya tersadar bahwa cibiran ‘perempuan selalu benar’ tidak lagi berlaku. Saya setuju dengan apa yang dituliskan oleh Kalis Mardiasih dalam pengantar bukunya. Bahwa kehadiran perempuan sejak lahir ke dunia dibayar kontan dengan bermacam stigma dan kewajiban.

Perempuan harus begini, perempuan tidak boleh begitu. Perempuan harus atau sebaliknya tidak boleh melakukan sesuatu hanya untuk melestarikan struktur sosial maskulin yang telah mapan. Tentu saja kenyataan demikian dapat  menyudutkan ruang gerak bagi perempuan. Buku “Muslimah yang Diperdebatkan” membuka segala keresahan yang cukup mewakili kepelikan menjadi perempuan di masa kini.

Belum lagi citra perempuan di media yang masih menjadi sumber ‘masalah moral bangsa’ dan dikolaborasikan dengan perspektif male gaze menjadi perpaduan sempurna. Ingin melihat salah satu contohnya kita bisa menengok kembali viralitas Ridho Permana, wartawan Viva.co.id yang memancing kemarahan warganet karena tulisannya yang memberitakan soal Olimpiade tidak memakai nalar sehat dan sangat mengobjektifikasi perempuan.

Pengekangan hak-hak perempuan dalam berekspresi terus direduksi agar kaum ini bisa diatur. Menepiskan problematik bagaimana perempuan seharusnya menjadi pekerjaan yang cukup berat di tengah kentalnya budaya patriarki. Ini bukan sekadar lingkup perseorangan belaka melainkan telah menyusupi regulasi yang ada di berbagai lini.

Seperti yang ditulis oleh Anastasya Lavenia di website Remotivi menyebutkan untuk mencapai keterwakilan perempuan di industri media secara utuh, setidaknya perempuan harus terlibat langsung dalam proses produksi tayangan media dan memiliki peran dalam pengambilan keputusan.

Sedangkan melihat realitanya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merilis laporan International Women's Media Foundation (The IWMF) dalam laporan tersebut Global Report on the Status of Women in the News Media pada 2011, dari 522 perusahaan pers yang mereka teliti di seluruh dunia, jurnalis perempuan yang bekerja penuh atau full time hanya 33,3%. Posisi sebagai news gathering, reporter, dan penulis (editor), juga masih didominasi laki-laki sebesar 64%. Sementara perempuan hanya mencapai 36%.

Eka Handriana pun dalam tulisannya di Remotivi merujuk pada penelitian Nurul Hasfi seorang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro menyampaikan jurnalis perempuan di Indonesia pada 2020 tidak lebih dari 25%. Sehingga sisanya 75% diduduki oleh laki-laki. Sebuah ketimpangan yang menjadi validasi mengapa perspektif male gaze dalam tayangan media sangat menjamur.     

Lalu memperdebatkan soal jilbab perempuan, saya lebih sepakat dengan Kalis Mardiasih dalam salah satu esai di buku “Muslimah yang diperdebatkan” yang mengatakan terlalu remeh menyetarakan selembar kain penutup kepala dengan kesalehan seseorang. Dalam masalah terkait spiritualitas pun pemecahannya tidak ada sangkut pautnya dengan jilbab. Sehingga jika sudah demikian saat melihat fenomena perempuan memakai dan kemudian melepas jilbabnya kita tidak akan terheran-heran.

Sedangkan untuk tubuh perempuan, sudahlah biar kami para perempuan mengurusnya sendiri. Tidak perlu mengatur bagaimana tubuh kami seharusnya agar sesuai dengan standar ideal kalian.