Terkurung  Masa

Sejak dilanda wabah
Banyak yang kehilangan nyawa
Bukan takut tapi harus waspada
Dunia bungkam tersandung masa

Sulit mendekat hampa mengerat
Bangunan yang dijadikan lahan aktifitas
Kini mematung tak berpenghuni
Tempat ibadah, pasar, kantor
Kosong menanti keramaian

Kini waktu seakan sempit saja
Mengurung diri di rumah perlindungan
Tiada yang tau kapan berakhir
Namun do'a tetap melangit

Masa sulit ini semoga segera berlalu
Kuatkan iman sehatkan raga
Wabah pasti berlalu

Covid 19

Caramu datang tanpa permisi
Orang-orang terkejut akan hadirmu
Virus mematikan mengancam nyawa
Indonesia kian waspada
Dilema kehadiramu merasuk jiwa

Ratapan Petani

Jauh sebelum wabah mendekat
Hasil produksi masih memihak
Harga masih stabil
Lelah mampu terbayar dengan upah yang tinggi

Kini hasil produksi berkurang
Harga anjlok ekspor dibatasi
Para petani tak mampu berkata banyak
Pasrah dengan keadaan

Pahlawan Insan

Perjuangannya menjadi garda terdepan setiap insan
Melawan menyembuhkan manusia
Dari virus-virus mematikan
Yang tidak bisa di lihat dengan mata telanjang

Usahanya kadang berhasil kadang tidak
Walau segala harapan di tumpahkan kepadanya
Usahanya telah dikerahkan sepenuh hati
Dan takdir hidup dan mati hanya Tuhan yang menentukan

Terima kasih kepada para pahlawan yang telah berjuang melawan wabah
Terima kasih kepada para pahlawan yang telah menyelamatkan banyak nyawa

Menguatkan Diri

Awalnya semuanya baik-baik saja
Entah dari mana rasa sesak itu datang
Tiba-tiba menyerang lalu merusak pernafasan
Berhari-hari menyendiri dalam kesunyian
Sesekali terlihat para pahlawan untuk berkunjung

Hari demi hari terlewati
Beberapa orang mendahului
Terkapar tak bisa diselamatkan
Dan kini aku hanya bisa berusaha
Menguatkan diri menanti kesembuhan
Jika tidak aku akan seperti mereka
Mati tak terselamatkan jua
Hidupku di atas Kuasa-Nya

Kepada Jarak

Sekat tercipta oleh kita
Walau hanya sementara
Namun rindu kian mendekat
Menghampiri raga meminta kebersamaan

Tunggu dulu
Ini hanya sementara
Jangan egois karena rindu
Jangan menyakiti karena rindu
Jarak menjadi garis pemisah sementara
Menanti waktu yang tepat untuk bersama lagi

Memori luka Bumi

Ada banyak kisah yang terpatri dari masa ke masa
Bumi pun seakan menjadi korban di penuhi luka
Tahun ke tahun ada saja bencana menimpa
Bermuara dari satu wilayah ke wilayah lain

Di samping itu, hutan menjadi tandus
Butuh ribuan tahun untuk merasakan hijaunya lagi
Bumi pun sesak lapisan ozon kian menipis
Sungai tercemar laut pun demikian
Sampah plastik dan limbah minyak di mana-mana
Ekosistem di dalamnya rusak tak ada kehidupan

Banjir, Gempa Bumi, Tanah Longsor, Kebakaran
Ada sebab ada akibat
Siapa lagi jika bukan manusia?
Sayangnya sering lupa akan perbuatannya

Di tahun ini wabah pun menimpa manusia
Dari mana datangnya ?
Mengapa mengganggu kehidupan manusia?
Atau apakah karena manusia telah merebut kehidupan mereka?
Aku juga tidak tahu, namun renungkanlah
Saat ini, manusia menepi dari segala aktivitas
Bumi pun bisa istirahat
Menyembuhkan diri dari luka lama

Surat Untuk Tuhan

Tuhan, jika Engkau memberi kami cobaan ini
Tolong kuatkan kami
Tuhan, jika Engkau masih menyayangi kami
Tolong Lindungi kami
Tuhan,jika Engkau sedang marah
Tolong maafkan kami

Kami rindu ya Tuhan
Bertemu saudara-saudari kami
Dan kami pun rindu bertemu dengan-Mu
Maka beri kami kesempatan menjadi manusia lebih baik
Dan mati dalam keadaan khusnul Khatimah

Hasbunallah wani'mal wakil
Ni'mal maula wani'man Nasir

Si Pedagang Sayur

Di pagi hari seorang lelaki tua menyusuri jalanan
Mengayuh sepeda dengan jualan di belakangnya
Sesekali berhenti menunggu pelanggan
Namun tak kunjung muncul juga

Tidak biasanya hal ini terjadi
Jalanan sepi dan orang-orang mengisolasi diri
Tapi tidak dengan lelaki tua itu
Penghasilan yang tidak seberapa
Membuatnya keluar mencari nafkah

Mentari kian meninggi
Lelaki tua itu istirahat di bawah pohon rindang
Meneguk air putih penghilang dahaga
Beberapa pembeli bermunculan
Senyum sumringah menjelaskan betapa bahagianya lelaki tua itu

Tiada yang tau nasib lelaki tua itu
Ketika jualan tak habis
Tiada yang tau nasib lelaki itu
Pendapatan yang tak seberapa banyaknya

Karantina Diri

Di dunia maya ramai orang-orang memposting diri
Nyatanya kita masih bertatap muka
Walau harus di dunia maya

Di dunia nyata saat ini
Jalanan sepi tiada orang-orang yang berkumpul ramai
Tiada yang ingin tapi harus dilakukan
Demi kepentingan bersama

Wisudaku terhalang Korona

Apa aku harus bersedih di tahun ini
Ketika aku melihat teman-teman seperjuanganku telah memakai toga keberhasilannya
Seyum sumringah terpasang diwajah ke dua orang tuanya
Di balik postingannya beberapa bulan lalu

Apa aku harus bersedih di tahun ini
Ketika wisudaku di batalkan karena  wabah korona
Berfoto dengan keluarga besar di hari kelulusanku hanyalah bayang-bayang
Menerima ijazah di depan teman-temanku hanyalah bayang-bayang
Jauh di lubuk hati terdalam ini sangat di sayangkan

Walau harus mengambil hikmah dalam keadaan
Semoga wabah mereda
Dan korona bukan lagi penghalang di hari bahagia tiap insan

Tarakan, 6 April 2020