Saya tulis judul artikel ini dengan menggunakan kata menengok. Kata berafiksasi ini mempunyai padanan makna jenguk. Menengok dalam arti sebenarnya, mengerahkan semua indra dan lokomasi limbik untuk turut berkunjung.

Pilihan diksi tersebut di atas bertujuan untuk mempertimbangkan kualitas pesan yang akan disampaikan. Sahih telah berinteraksi dengan utusan Mindanao di jantung kota negara yang berjuluk Lumbung Padi Asia tersebut. Tepatnya di Ermita Taft Avenue, Metro Manila.   

Lagi-lagi kata ternak untuk judul cukup kuat berafiliasi dengan makna memelihara dengan tujuan produksi tentunya. Ternak teroris di Filipina? Memang cukup menarik untuk ditengok. Oleh karena itu, saya tarik kembali kenangan di tahun 2011 ketika delegasi pendidikan kami berkunjung ke Manila Science High School.

Sementara itu kita lihat juga kejadian yang baru-baru ini memanas. Tertanggal 30 Juli 2019 yang lalu, pemberitaan sebuah harian di Filipina tentang tewasnya 9 anggota BIFF (Bangsamoro Islamic Freedom Fight). Kelompok yang katanya jihadis dan bermarkas di Mindanao itu telah kontak senjata dengan militer Filipina.  

Kunjungan para pejuang Sulu ke Manila diawali dengan kampanye edukatif di Manila Science High School. Kegiatan berupa penyajian ceramah umum oleh utusan PCID  (Philipine Center for Islam and Democration). Sebuah lembaga untuk Islam dan demokrasi yang dimiliki pihak pejuang untuk sosialisasi otonominya.

Dalam penjelasannya, Direktur PCID Filipina Esmael Ebrahim mengatakan bahwa Islam merupakan agama pertama di Filipina. Setelah menyaksikan beberapa slide tentang perkembangan Islam di Mindanao, kami diberi isian kuisioner persepsi tentang Islam di Mindanao. 

Kuesioner berisikan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada 60 responden Indonesia yang rata-rata masih bau kencur. Sangat tidak efektif dengan munculnya indikator-indikator untuk variabelnya yang bersifat umum.

Kuesionernya menggunakan metode tertutup, artinya kemungkinan pilihan jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu. Responden tidak diberikan alternatif jawaban selain yang tercantum (lihat gambar).

Untuk menjawab kuisioner PCID ini, tentunya responden paling tidak mengetahui dulu latar belakang konflik yang berkepanjangan di Mindanao. 

Mulai dari sejarah pergerakan MIM (1968), MLF  (1971), MNLF (1972), MILF (1978), dan sejumlah pecahan kongsinya. Semua faksi tersebut mempunyai tujuan berbeda. Namun mengerucut ke satu titik puncak, yaitu kebebasan atau kemerdekaan.

Bangsa Moro merupakan istilah kolektif aptronim untuk muslim Filipina yang tinggal di wilayah selatan Filipina. Pulau Mindanao, Kepulauan Sulu, Palawan, dan Basilan. Mereka umumnya adalah pemeluk agama Islam. Bangsa Moro terdiri atas 13 suku etno-religius yang disatukan oleh kesamaan keyakinan.

Kata Moro merupakan proses peyorasi atau penurunan makna dari kata Moor yang berarti orang buta huruf, jahat, dan pembunuh. Kolonial Spanyol getol memberi aptronim bagi bangsa yang dijajahnya dengan sebutan Moor. Padahal Moor adalah muslim yang mendiami Andalusia dengan kebudayaan cerdas dan super kreatifnya, Moorish.

Peyorasi tersebut berhubungan dengan masuknya Islam di wilayah Filipina bagian Selatan pada tahun 1380. Kedatangan saudagar muslim telah mendahului kedatangan kolonial Spanyol yang mendaratkan kapalnya pada 1521 M. 

Sebelum kedatangan kolonial Spanyol, wilayah selatan Filipina di bawah kesultanan Mindanao dan Sulu. Dengan melihat sejarah tersebut, maka segala usaha Manila untuk menggabungkan wilayah merdeka tersebut bisa disebut sebagai usaha invasi.

Tak pelak lagi apa yang diusahakan Manila mendapatkan perlawanan. Pejuang Sulu-Mindanao menggunakan banyak cara. Dari yang elegan, legal serta konstitusional hingga memanggul senjata demi menuntut hak. 

Dinamika perjuangan seperti biasa memunculkan mulai kelompok pro-integrasi yang mungkin lelah memperjuangkan otonomi dan kelompok radikal yang sudah terpolusi oleh konsep perjuangan ISIS.

Susah membedakan mana kelompok pro-integrasi dengan kelompok radikal. Keduanya sama-sama berusaha melakukan perlawanan melalui perang kota, perang gerilya hingga perang asimetris dengan tujuan untuk melemahkan pemeritahan Filipina.

Karena ngeyel untuk integrasi, maka yang harus diterima adalah diskriminasi. Pembangunan dan distribusi kesejahteraan yang tidak merata selama bertahun-tahun membuat mereka antipati terhadap pemerintah Filipina.

Di mata Bangsa Moro dan komponennya melihat pemerintah Filipina sebagai penjajah. Konflik berkembang hingga SARA banget dan dihubungkan dengan keyakinan yang berbeda, yakni Bangsa Moro yang Muslim dan pemerintah pusat Filipina yang kental dengan Katolik.

Padahal Manila dari kata Amanillah (Dalam lindungan Allooh). Pun banyak peninggalan kebudayaan Islam yang ada di pusat Manila. Seperti reruntuhan istana Raja Sulaiman di Manila yang dari Minangkabau. 

Penerapan Wilayah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (BARMM) yang dituntut tidak berjalan lancar. Apalagi setelah BOL (Bangsa Moro Organik Law) disahkan, BARMM yang digadang-gadang menjadi solusi konflik dan menggantikan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) tak dapat berbuat banyak.

Harapan rakyat Mindanao akan perdamaian dan hak otonomi khusus buyar oleh aksi teror-teror yang berkepanjangan. Entah kesengajaan atau konspirasi, yang pasti sangat mudah bagi Manila dan Mindanao untuk tarik ulur dengan trik-trik murahan.

Duterte sudah berusaha sekuat kemampuannya untuk memberi dan menjamin otonomi Mindanao. Termasuk diperbolehkan menerapkan syariat Islam yang terangkum dalam BOL (Bangsa Moro Organik Law) dan BBL (Bangsa Moro Basic Law).

Ini bukan kali pertama pihak Manila memberikan status otonomi untuk Mindanao. Pada tahun 1996, langkah serupa telah lebih dulu ditempuh. Bangsamoro yang sudah berjuang selama 50 tahun dengan tajuk otonomi, akhirnya tetap saja konflik.

Yang menarik adalah keikutsertaan NGO bernama IHH Turki yang berbasis di Istanbul dalam pemantauan proses perdamaian di wilayah konflik. Tentunya dengan membonceng investor Turki untuk meningkatkan perdagangan di wilayah tersebut. Ya, kesamaan keyakinan.  

Mindanao beserta elemennya sebenarnya sedang bermain cantik dengan mengajak pemerintah Filipina untuk turun tangan membantu mereka dalam beberapa tujuan tertentu. 

Termasuk pihak Sulu yang mempunyai tujuan klaim atas Sabah. Mereka ngotot bahwa Sabah adalah bagian dari kesultanan Sulu. Jika ini berhasil, maka secara otomatis pula Sabah akan menjadi bagian dari Filipina. 

Ini yang ditakutkan jatuh ke kata "ternak". Manila memelihara konsep fundamentalis Islam dan insurgensi serta kekuatan individual lone wolf . Insurgensi dan lone wolf merupakan keberhasilan dari kegiatan terorisme dalam memotivasi ideologi, perekrutan, dan juga melakukan publikasi atas apa yang sudah dilakukan.