Semangat membara mengulas dan menguliti dinamika sosial terbaru, tak lekang dari habitus seorang mahasiswa. Bagaimana tidak? Setiap hari dengan senang hati selalu haus untuk menggali informasi secara dalam dan terukur sebelum mereka berbicara terkait kondisi dan berita yang sedang hangat-hangatnya. Walaupun tak bisa disanggah, ada pula menolak dan tidak mau terlibat dengan orang-orang kutu buku pendebat. Aha! Semua punya jalan masing-masing. Mungkinkah?

Pernahkah kita sadari, gerakan sadar buku bulai bercokol dan menjamur di beberapa daerah. Tanda-tanda perlawan menggunakan simbol Marsinah atau Wiji Tukul sering nampak diantara mereka. Keresahan sosial dan dinamika yang kian pelik bisa jadi sumber problematika, mengapa kesadaran mereka mulai tumbuh. Terbentur, terbentur dan terbentuk bisa jadi terbenturnya pada suatu kondisi melahirkan dan terbentuknya kekuatan akan gerakan.

Reaksioner atas kondisi terkini seperti pengkerdilan KPK yang telah bergulir sejak dicanangkan RUU KPK, memang sangat betul adanya. Aksi masa menyuarakan pendapat dengan menggebu-gebu diharapkan menohok pemerintah hari ini, ada yang janggal dengan KPK dan tikus-tikus besar di kursi pemerintahan sana. Tapi sekali lagi, tak ada jalan temu untuk meringkus habis problem besar itu.

Menjamurnya lingkar diskusi bahkan adopsi pemikiran kiri tak luput untuk dinamisasi demokrasi hari ini. Beberapa dengan gerakan kiri merupakan solusi konkrit untuk membredel kejumudan di dalam demokrasi kita ini. Apakah benar demikian? Masih tetap dan terus menimbulkan perdebatan bagi mereka yang suka bergulat fikir gagasan kadang lupa realisasi pada realitas.

Hantam Kapitalisme, Rebut Alat Produksi!

Menelaah semiotika dijelaskan tanda dan simbol. Ada kaitan menarik dimana penentang kapitalisme memakai simbol-simbol untuk sebuah perlawanan. Memahami kapitalisme dan menyerangya sudah terjadi sejak abad ke-18, dimana penemuan mesin uap dan pengolahan batu bara benar-benar merubah kondisi ekologis dan kondisi sosial sehingga menimbulkan kesadaran apa itu jam kerja dan jam berkumpul untuk pribadi sampai sadar lingkungan.

Peralihan modal dan kebijakan pasar telah lebih dahulu masuk dan tak mungkin dibendung. Milton Friedman dengan gagasannya kebebasan dan pembebasan masuk secara dalam di dalam benak pemegang kebijakan. Pasar bebas tidak bisa dibendung lagi kecuali mati miskin ditengah idealisme. Anti kemapanan sering dijadikan solusi untuk mempertahankan idealisme agar tak disebut hypocrite.

Gagasan dan sektor pikir tentang modal, ada irisannya dengan yang namanya kapitalisme. Ketika Max Weber dengan karyanya The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism, dengan jelas kaya dan mapan itu wajib. Kekayaan dan kewajiban adalah bagian dari ibadah. Miskin sama saja jauh dari kemajuan dan mendekati kejumudan. Tetapi, semua itu harus dipikirkan kembali ketika membaca karya Yuval Noah Harari dengan Money-nya.

Tak bisa dipungkiri. Jaring kapitalisme sudah melebar dan mencongkol kuat di pelbagai sektor. Pertanian, pendidikan bahkan agama sudah jadi sasarannya. Menolak dan menjauh dari mereka (baca:kapitalisme) akan dibuat terasing dengan situasi kebudayaan yang terus mengalami perubahan. Genesis mengenai historisasi patut untuk diulas kembali dan diresapi secara mendalam.

Kondisi pada abad ke-18 sampai sekarang dengan gencar sering dilontarkan oleh para anti kapitalisme dan bahkan beberapa mendaku anti kemapanan, sebenarnya membuat pemegang modal dengan mobil limosin-nya sedang bangga dan berterima kasih. Berterima kasih? Ya. Kritik mereka dengan jeli dipelajari untuk bisa mendapat alternatif agar tak terjadi gejolak, kalau bisa adem ayem melihat para buruh dan penganggur mengaharapkan kerja di gudang mereka.

Jaring kapitalisme sudah kuat. Mereka sudah belajar dan piawai untuk memperkuat kerajaan bisnis mereka tanpa tedeng aling-aling. Nada pesimis sering dilontarkan atas efek ditimbulkan dari kapitalisme; ketergantungan, kesenjangan sosial dan perihal buruk lainnya tentang efek kapitalisme. Apakah anda sadar? Mereka menguasai dunia sehingga kita dihegemoni dan dipaksa untuk bisa selaras dengan rule yang mereka buat.

Bisa jadi lucu, ketika menakar akan kapitalisme ngotot masih menggunakan teoritika abad ke-18 yang dimana sudah sangat jauh dengan kondisi hari ini, bukan berarti menyalahkan. Dunia sudah berubah, kapitalisme sudah berevolusi. Walaupun beberapa tetap ngotot, bagaimanapun fetisisme komodistas itu ada –ya benar ada, karena efek kapitalisme untuk mendapatkan nilai lebihnya. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Peraih nobel kadang dianggap sinis karena mereka mendapatkan nobel dari kubangan orang-orang kapitalis. Pernahkah anda mengulas? Bagaimana Josep Stiglitz periah nobel pada tahun 2001 konsisten mengkritisi permainan ekonomi politik global sehingga membuat sengsara negara-negara berkembang dan menyuburkan negara-negara maju. Apakah anda tidak membuka mata? Untuk menakar kembali pemikiran ekonomi lain untuk menghadapi kuldesak problem ekonomi dan kapitlisme hari ini?

Stiglitz pun lumayan halus dengan membuka mata lebar. Bagaimana kemajuan hari ini, memliki pengaruh kuat untuk meningkatkan kualitas diri manusia dalam bukunya People power and profits yang belum diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Stiglitz menyebut Artificial Intelegence (AI) akan mempengaruhi Intelegence Asissiting (IA) –meningkatkan kualitas diri menuju kemajuan.

Pada tahun 2001 peraih nobel bernama Michael Spence mempunyai gagasan tentang ekonomi hari ini. Kaitannya akan kapitalisme dan globalisasi memiliki sisi-sisi positif untuk meningkatkan kualitas manusia agar tak melulu tertindas karena malas mengamati peluang hari ini. Ingat! Jaring kapitalisme sudah mengalami evolusi dengan kuat. Tidak melulu, rebut alat produksi.

Ribuan manusia bekerja mengharapkan sebongkah rupiah untuk menghidupi keluarga mereka di rumah kapitalis. Apakah sesimple itu mengutarakan rebut alat produksi? Nampaknya kita harus merefleksikan ulang. Bagaimana nabi mereka Marx seumur hidup tinggal pada rumah kontrak dengan kondisi ekonominya yang amburadul.

Kita tidak bisa menyalahkan salah satu dari gagasan tersebut. Perihal paling menohok untuk kita resapi bagaimana kehidupan kedepan penuh dengan persaingan dan penguasaan komponen-komponen strategis (baca: teknologi) untuk menunjang kehidupan. Pernah juga terjadi di Tiongkok, Deng Xiaoping merubah sikap masyarakat cina dengan titik balik komunisme murni menjadi sistem ekonomi lebih liberal tanda dekonstruksi pemikiran besar-besaran karena realitas benar-benar berubah.

Majunya sistem teknologi telah meresap dan masuk di dalam masyarakat. Beberapa optimis akan munculnya teknologi untuk menunjang kehidupan manusia. Persaingan dagang begitu gencar di dalam maupun luar negari, pertanda sekat sudah tidak ada lagi bentuknya.

Penyeimbang

Ada kartel ada pemodal dan ada juga penentang, begitulah simpulan singkat dinamika yang terjadi. Dunia diciptakan penuh dengan warna, sehingga banyak menyiratkan karakteristik di dalamnya. Visi misi pembangunan untuk kemaslahatan umat tetap saja ada yang menuduh sebagai gejala dan dendengkot kapitalisme. Seperti itulah, saling melengkapi.

Kritikus ulung mengenai kapitalisme dan isu alam patut diapresiasi keberadaannya. Kehidupan mereka benar-benar memberikan warna dengan kritik yang mereka sampaikan kepada penguasa yang kadang keblinger dalam memberikan regulasi. Boleh kita menghalalkan pembangunan. Tetapi, apakah benar untuk masyarakat? Atau jangan-jangan –hanya- membuat gemuk perut kroni-kroni golongan mereka saja?

Keberpihakan itu penting. Dikarenakan dengan keberpihakan disitulah kesadaran timbul untuk merajut kain yang robek. Wacana kritis dan berdasar, menjadi semangat dan pondasi membangun sebuah gerakan. Gerakan ini bukan gerakan rakyat bayaran, akan tetapi telah diperkuat dulu melalui pergulatan intelektual. Tidak boleh semena-mena.

Budaya Wacana Kritis seperti yang disampaikan oleh Gouldner harus kuat posisinya sebagai penyeimbang atas kondisi yang selalu berubah dan Intelegentia harus tetap dirawat keberadaannya. Mengapa demikian? Gagasan dan wacana penting adanya sebagai pembanding dari gagasan yang dianggap final, padahal akan terus di dekonstruksi agar sesuai dengan kondisi realitas terbaru.

Maka dari itu, progresifitas atas gagasan baik melalui tulisan ataupun vokal, kadang para kaum opurtunis capital  menganggap orang ahli bicara dalam gagasan sebagai penghalang dan tak pelak dijadikan bahan guyonan “orang kebanyakan teori.” Lagu garapan The Adams berjudul pelantur cukup menampar mereka yang gemar berkicau dan melegitimasi kritis sebagai pengamat ulung realitas sosial tanpa bisa menjawab secara nyata apa yang real dibutuhkan.

Kekuatan pengamatan intelgentia menunjuang fase-fase menuju pencerahan. Pencerahan sebenarnya bagaimana mengilhami hidup untuk tujuan win-win solution bukan untuk destruction some section akan tetapi colaborate and win together. Lalu, Apakah bisa terealisasikan mencampur minyak dan air dalam satu wadah?