Politik Luar Negeri di Timur Tengah selama ini adalah politik yang melulu membicarakan soal campur tangan Amerika Serikat dan Rusia. Nyaris tidak ada bahasan soal China. Padahal semua tahu China adalah hagemon baru dunia. Layaknya hagemon, maka China memerlukan followers.

Pertumbuhan ekonomi China selama dua dekade pun nyaris selalu dua digit. Hal tersebut mengakibatkan hanya dalam selang waktu 30 tahun China sukses bertransformasi dari negara termiskin di Asia menjadi negara dengan ekonomi terbesar. Jumlah orang miskin pun berkurang 600 juta jiwa hanya dalam waktu beberapa puluh tahun saja.

Tercatat banyak perusahaan besar yang kini lahir di China seperti Alibaba dan Tencent (wechat). Perusahaan-perusahaan tersebut kini tidak hanya berusaha menyasar pasar domestik China saja tapi juga berusaha membangun jaringan pasar di Luar Negeri. Data dari China Global Investment Tracker menunjukkan selama tahun 2017, nilai investasi luar negeri China mencapai lebih dari $1,7 Triliun[1].

Mayoritas negara tujuan investasi tersebut menyasar wilayah seperti Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Terkhusus soal Timur Tengah, China memiliki perhatian besar karena mayoritas minyak untuk mendorong pertumbuhan ekonominya berasal dari sini. China pun aktif menjalin kerjasama dengan banyak negara Teluk guna mengamankan cadangan minyaknya.

Jurus China di Timur Tengah

Tahun 2013, Presiden Xi Jinping meluncurkan program yang bernama Belt and Road Initiative. Ini adalah sebuah program besar China untuk kembali menghidupkan jalur sutra yang menghubungkan Asia Tengah, Timur Tengah dan Eropa. Tercatat sudah ada sekitar 68 negara yang menandatangani fakta kerjasama ini.

Program membuka jalur sutra baru ini bukan tanpa halangan. Di Timur Tengah sudah ada dua raksasa dunia yang menancapkan kukunya yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Kedua negara ini semenjak Perang Dingin sudah membangun aliansi dengan masing-masing negara di Timur Tengah. Rusia menjalin kerjasama dengan Iran dan Suriah. Sementara, Amerika Serikat menjalin koalisi dengan Arab Saudi, Israel, dan Mesir.

Masuknya China ke Timur Tengah bukan tanpa halangan. Amerika Serikat menaruh sifat curiga dan was-was atas mesranya hubungan antara Iran dan China. Bahkan dalam banyak kesempatan Amerika Serikat mengecam China karena menjalin hubungan ekonomi dengan negara yang mendapatkan sanksi dari PBB karena program nuklirnya.

Masuknya China ke Timur Tengah, akan sangat berbeda dengan masuknya Amerika Serikat dan Rusia. Kedua super power ini masuk ke Timur Tengah dengan pendekatan keamanan (senjata). Tapi semenjak awal, China mengedepankan pendekatan ekonomi.

Hal tersebut disambuk baik oleh negara-negara teluk, seperti Arab Saudi. Bahkan dalam kunjungannya ke China tahun 2017 Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Azis, mengatakan China adalah partner dagang terpenting bagi Arab Saudi. Pendapat senada juga disampaikan oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang menyambut baik masuknya China ke Timur Tengah.

Iran bahkan sudah sejak lama berkeinginan agar diterima menjadi salah satu anggota dalam Shanghai Cooperation Organisation, namun karena masih ada sanksi dari PBB niat tersebut sampai sekarang tidak terlaksana. Hubungan China dengan Israel pun bersifat baik dan China berusaha menjaganya tetap dalam batas wajar, sehingga tidak ada pretensi negatif dari negara Timur Tengah lainnya yang mayoritas tidak mengakui Israel.

Perubahan konstelasi politik luar negeri China di Timur Tengah mulai tampak, manakala presiden baru Donald Trump naik ke puncak kekuasaan. Ada pergeseran politik luar negeri dari yang semula wait and see, menjadi lebih mengarah ke hard power. China berencana mengamankan ambisi politiknya dengan membangun pangkalan militer di Timur Tengah. Salah satu rencana terbarunya adalah membangun di wilayah Pakistan.

Melihat Timteng Pasca Amerika

Streotype Amerika Serikat selama ini di mata orang-orang Timur Tengah adalah negara yang selalu berusaha campur tangan masalah dalam negeri negara lain. Hal tersebut tampaknya akan mulai berkurang di era Donald Trump yang lebih memilih fokus pada isu dalam negeri.

Amerika Serikat pun juga sudah berkomitmen untuk mengurangi banyak bantuannya ke negara-negara Timur Tengah. Dikarenakan dianggap tidak kooperatif dalam memberantas terorisme dan banyaknya pihak yang bermain dua kaki.

Hal tersebut berimplikasi langsung bagi nasib kawasan ini kedepan. Selama ini Amerika Serikat adalah patron politik bagi negara-negara Timur Tengah, kecuali Iran. Hilangnya hagemon akan berimplikasi pada semakin brutalnya konflik sektarian di Timteng dan meluasnya gerakan terorisme. Implikasinya pada keamanan global pun sangat besar. Apakah China bisa memikul tanggung jawab global ini?

Ada dua teori bagaimana China akan mengisi kekosongan patron di Timur Tengah pasca berkurangnya pengaruh Amerika Serikat. Pertama, China berperan aktif layaknya Amerika Serikat dengan mendukung secara langsung kelompok-kelompok yang bertikai di Timur Tengah. Implikasnya tentu saja akan mengakibatkan China tidak diterimanya di kelompok lain. Teori, kedua adalah China menjauhkan diri dari politik sektarian di Timur Tengah dan hanya menjadi sekutu pasif. Layaknya yang terjadi saat ini.

Apapun pilihan politik China kedepannya. Timur Tengah tidak akan pernah sama lagi pasca masuknya China.



  

 

[1] http://www.aei.org/china-global-investment-tracker/