Antara Moderasi Islam dan Moderasi Ideologis

Moderasi atau dalam bahasa arab berarti wasathiyyah mempunyai beberapa padanan makna, yakni i’tidal, tawazun, iqtishad, kesemuanya mempunyai titik tekan yang sama, yakni keadilan (A.W Munawwir, 1997). 

Kata wasatha berakar dari kata wa-sa-tha dapat dibaca wasthi yang bermakna suatu bagian yang menjelaskan bagian yang lain, dan wasatha bermakna suatu bagian yang tidak menunjukkan bagian yang lain. 

Namun, keduanya merujuk makna posisi antara dua sisi. (Ibn Mandzur, 1311). Maka, sikap moderat itu terkadang dapat dilihat secara kolektif sebagai satu kesatuan yang utuh. Namun, terkadang moderasi menjadi sebuah pola ideologis yang sifatnya personal.

Reposisi Islam sebagai agama yang mengajarkan moderasi, atau wasath dapat dilihat melalui sejarah masa lalu, dimana terdapatnya perubahan yang signifikan terkait perintah untuk bersabar dan berperang. 

Menurut as-Suyuti, bahwa “ketika di Makkah, Rasulullah diperintahkan untuk bersabar karena kondisi saat itu umat Islam masih lemah, diberlakukannya peperangan selaras dengan kekuatan umat Islam yang semakin besar, dan hal itu terjadi di Madinah” (Suyuti, 2008). 

Perubahan inilah yang harus dimaknai secara komprehensif, bahwa perang itu memang tidak dilarang dalam Islam, namun memberlakukannya pada saat yang tepat merupakan sebuah nilai yang harus termanifestasi dalam tataran ideologis dan praktis. Melalui fakta sejarah tersebut, dapat dijadikan landasan dalam bermoderasi.

Maka benar kiranya, manusia mengatakan bahwa memahami moderasi sama halnya memahami Islam itu sendiri. Bahkan, juga dapat dimaknai sebagai upaya memahami agama-agama lain, karena agama lain juga mempunyai ajaran tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan dan toleransi yang kesemuanya adalah buah dari moderatisme. (Zuhairi Misrawi, 2010). 

Kemudian, jika sekarang ditemukan ketidak-relevansian Islam terhadap perubahan zaman, persoalannya bukan terdapat pada agama, tetapi lebih pada pemahaman keagamaan yang pincang. (Mahmud Zaqzuq, 2004). 

Ketidak-mampuan umat Islam untuk memahami ajaran Islam yang moderat disebabkan masyarakat yang lebih menyibukkan diri mengaktualisasikan simbol-simbol keagamaan dan bukan aktualisasi nilai-nilai Islam. 

Maraknya pengkafiran terhadap masing-masing golongan adalah bukti nyata bahwa simbol-simbol agama seperti tahlil, ziarah kubur, celana cingkrang, jenggot panjang, terlalu sering menjadi topik pembahasan.

Menakar Ulang Makna Ekstrimisme

Selama ini, sering kita dengar bahwa lawan dari sikap moderat adalah sikap ekstrim (tatharruf). Maka, sebenarnya siapakah orang ekstrim tersebut?. 

Merujuk makna gramatikal tentang tatharruf, orang ekstrim dapat dipahami sebagai orang atau kelompok yang melebihi batas, orang yang tidak mengetahui porsi dari ayat-ayat al-Qur’an, dan tidak pula mengetahui titik tengah dari dua perkara. 

Argumentasi yang muncul adalah benar dan salah, sedangkan kebenaran akan sangat samar jika tidak ada tolak ukur dalam moderasi itu sendiri. Jika moderasi Islam dalam tataran sejarah menjadi titik temu, maka sikap ekstrim yang mengacu pada permasalahan etis-sosiologis berada berseberangan dengan sikap moderat. 

Tolak ukur kemoderatan akan menjadi dinamis, tidak bisa secara mutlak mengacu pada aspek kesejarahan Islam. Oleh karena itu, pembacaan kontekstual terhadap sejarah menjadi sangat penting dalam upaya merelevansikan dengan perubahan zaman.

Adapun kemunculan sikap ekstrim, diduga keras bisa berasal dari media. Propaganda media mempunyai peran yang besar terhadap  ketidak-utuhan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. 

Masalah terorisme dapat dijadikan contoh dalam hal tersebut, ketika bangsa Yahudi merampas tanah Palestina, media menyebutnya sebagai bangsa yang demokratis dan cinta damai. 

Namun, saat umat Islam mengadakan perlawanan terhadap pembunuhan dan pengusiran yang terjadi di Palestina, media malah mengatakan bahwa umat Islam adalah terorisme. (M. M. Thahhan, 2007). 

Maka tak khayal, saat ini sikap ekstrimisme semakin mencuat menjadi doktrin bagi umat Islam yang harus diikuti. Media yang tidak mengenal ruang dan waktu tentunya sangat mudah merepresentasikan ajaran-ajaran Islam menurut pemahaman satu atau dua orang saja.

Penulis menggaris bawahi, bahwa Ekstrimisme adalah sifat naluriyah yang tidak dapat ditolak secara menyeluruh, namun dapat diminimalisir. Ketika melihat maraknya isu-isu penistaan agama, kecenderungan untuk bersikap ekstrim sangatlah wajar. 

Karena hal tersebut telah terukir dalam pola pemikiran sebagian umat Islam sejak lahiriyah, dan ini dibentuk melalui resepsi mereka terhadap teks keagamaan. 

Jika sikap ektrimisme atau radikalisme berangkat dari pemikiran, maka upaya penolakan harus berupa pemikiran juga, sebagaimana yang dikatakan Yusuf al-Qardhawi “al-Afkar la tuqawam illa bil afkar”. (Qardhawi: 1990). 

Maka, upaya awal untuk menangkal hal tersebut tentu dengan pemikiran, yakni mengembangkan metodologi tentang Islam moderat.

Perlawanan secara fisik bukanlah opsi yang terbaik. Bisa dikatakan, bahwa orang-orang ekstrimisme yang cenderung kepada peperangan adalah orang yang tidak takut mati, mereka mendedikasikan hidupnya hanya untuk Tuhan Semesta Alam, dan mati mereka—sebab jihad—akan mendapatkan balasan terbaik dari Tuhan. 

Tentu, melawan golongan seperti ini akan sia-sia, yang ada adalah rasa takut dari oposisi mereka, karena pihak yang melawan adalah golongan orang-orang yang takut mati. Sudah umum diketahui, bahwa kelompok yang bergerak berlandaskan semangat keagamaan akan lebih sulit dilawan daripada kelompok yang tidak mengatasnamakan agama.

Moderasi dan Keadilan

Merujuk makna etimologis dari Wasathiyyah, bahwa sikap adil adalah nilai utama dalam bermoderasi. Adil menjadi sebuah konsep yang harus dilakukan dalam bermoderasi, nilai adil inilah yang seharusnya dijadikan ideologi dari masing-masing individu.

Dalam ranah praktis bisa berupa penentuan hukum yang sesuai dengan ukuran masing-masing objek. Adil bukan berarti sama, namun penerapannya sesuai kadar kebutuhan yang ada. Jika dihubungkan dengan kasus kekerasan, hal ini boleh dilakukan selagi dalam koridor yang masih dibenarkan.

Demo bukan secara langsung merujuk pada golongan ekstrim, selagi mereka mengikuti aturan yang ada, yakni tidak merusak. Bagitu juga Jihad—perang— yang boleh dilakukan, selagi dalam kondisi dan waktu yang tepat. Maka mereka pada dasarnya masih moderat.

Term Islam moderat yang selama ini dipahami sebagai terma lawan dari makna radikal atau ekstrim, malah mengarahkan persepsi kita untuk menjauhkan golongan-golongan yang lain, sebut saja Salafi, Syi’ah dll. dalam bingkai Islam yang tidak benar. 

Padahal, titik pembeda antara moderat dan ekstrim adalah aspek kefanatikan yang ada. Mengutip pendapat Quraisy Shihab Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, sedangkan  persatuan adalah sebuah kebutuhan. Perbedaan-perbedaan akan berbahaya jika disertai dengan fanatsime buta. (Quraisy Shihab, 2007). 

Oleh karena itu, fanatisme yang berlebihan menjadi titik pemisah atas persatuan dua golongan moderat dan ekstrim, contoh konkritnya seperti aliran Syi’ah. 

Ketika mengimplementasikan ajaran yang dianutnya dengan kefanatikan maka dengan otomatis mereka akan menyimpang dari ajaran Ushul dan Syi’ah yang seperti itu dikenal dengan Syi’ah Ghulat (ekstrim). Mafhumnya, selagi kadar kefanatik’an suatu kelompok tidak terlalu tinggi, maka mereka bisa dirangkul.