Sewaktu saya memilih untuk kuliah di Fakultas Psikologi pada 1996, disiplin ini belum banyak dikenal layaknya hari-hari ini. Ayah menyerahkan keputusan kepada saya setelah memberi pertimbangan mengambil jurusan yang belum terkenal. 

Ketika ditugaskan oleh kampus tempat saya mengajar untuk melanjutkan pendidikan magister, saya memilih Kajian Wanita dan Gender. Padahal lintas disiplin sangat tidak dianjurkan, karena akan mempersulit kenaikan jenjang. Tetapi saya yang saat itu sangat ingin mendalami feminisme seusai membaca buku Asma Barlas memilih untuk mengambil risiko. 

Sejak itulah psikologi dan feminisme menjadi bagian dari diri saya dan saya gunakan sebagai pisau analisis. Psikologi membantu saya memahami perilaku manusia dan feminisme membantu saya memahami diri saya sebagai perempuan. Perlahan, keduanya mengantarkan saya ke dalam perenungan mengenai psike perempuan. 

Psike perempuan adalah kontinen hitam, keluh Freud, sebelum mendelegasikan murid dan koleganya untuk mengeksplorasi area yang gelap ini. Sejak itu, satu demi satu murid dan koleganya menawarkan teori tentang psike perempuan. Freud cenderung menolak ide-ide mereka. 

Ia hanya menyetujui gagasan yang sesuai dengan teori penis envy yang sangat ia yakini. Sulit tentunya menyelami jiwa perempuan jika hanya berfokus pada penis yang jelas-jelas tidak mereka miliki.

Meski sebenarnya banyak juga perempuan yang tidak memahami dirinya, tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Hidup dalam masyarakat dengan aturan yang terikat, apa yang harus  ia lakukan, cara bertutur dan berperilaku, bahkan bagaimana harus berpakaian, telah merampas otonomi perempuan. 

Perempuan tidak pernah dididik untuk mengambil keputusan, untuk bertanya kepada dirinya apa yang sesungguhnya ia inginkan. Perempuan kehilangan kemampuannya untuk mendengarkan suara hati karena tidak pernah diberi kesempatan untuk menelisik ke dalam diri.

Para filsuf sekaligus psikoanalis seperti Simone de Beauvoir, Lou Andreas-Salomé, Sabina Spielrein, Clarissa Pinkola Estés, juga penulis Mona Chollet, mengajak perempuan untuk menyelidiki diri, melihat jauh ke dalam batin, berdialog dengannya. 

Saya kira ini dikarenakan sebagai perempuan, mereka sendiri merasakan tekanan-tekanan dari masyarakat. Menyelidiki diri menjadi sangat penting bagi perempuan untuk benar-benar meyakini bahwa apa yang ia inginkan adalah benar keinginannya, bukan bagian dari pendiktean masyarakat. 

Harus saya akui, menyelidiki diri bukan tugas mudah. Meskipun sejak kecil pola pengasuhan ayah saya memungkinkan saya belajar mengambil keputusan sendiri, saya tidak pernah sungguh-sungguh berdialog dengan diri. Perlu menunggu kelahiran putri pertama saya, hingga desakan kuat dari dalam memanggil untuk melakukan tugas ini. Tepatnya, untuk memberontak terhadap apa yang masyarakat Prancis tuntut atas saya, terkhusus peran saya sebagai ibu. 

Perjalanan hidup telah membawa saya ke negeri kelahiran Simone de Beauvoir. Meski secara umum telah mengakui hak-hak perempuan, tetap saja kultur negara ini tidak memberikan kebebasan sepenuhnya kepada perempuan untuk mendefinisikan sendiri hidup yang ingin mereka jalani. 

Sepertinya dalam masyarakat manapun selalu ada pengaturan terhadap nilai, sikap, dan perilaku yang dipaksakan kepada perempuan. Perbedaannya hanya pada cara ungkap masing-masing aturan. 

Bagaimana rasanya menyelidiki jiwa sendiri? Sekian lama saya merasa tidak benar-benar memiliki masalah. Tetapi ketika momen itu datang, ketika saya melihat jauh ke dalam diri, saya merasa sangat bermasalah dengan diri saya. Betapa selama ini saya hanya patuh dan tunduk pada apa yang ditetapkan masyarakat. 

Untuk menjadi anak penurut, anak yang tidak melawan orang tua, anak yang sayang pada ayah dan ibunya. Anak yang baik, anak yang sempurna, persis seperti pesan-pesan di media sosial yang disampaikan para tante, oom, opa, oma kepada seorang anak yang sedang berulang tahun.  

Menyelidiki diri bukan proses yang nyaman. Kita diajak untuk menghadapi kembali luka-luka yang pernah kita alami, yang kita coba sembunyikan, yang kita tutupi dengan plester agar tidak terlihat, padahal plester ini sama sekali tidak menyembuhkan. 

Menyelidiki diri membuka kelemahan-kelemahan kita, memunculkannya ke permukaan; dan ini sangat tidak mengenakkan. Tetapi percayalah, hanya penyelidikan diri yang mampu mengantarkan menuju kebebasan diri.  

Tulisan ini merupakan pengantar dari buku saya berjudul Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki, yang baru saja diterbitkan oleh EA Books (Buku Mojok Grup). Buku ini adalah perpaduan antara teori dan penyelidikan diri. 

Dari teori Freud yang misoginis sampai dengan teori feminis terbaru dari Prancis seperti Mona Chollet dan Camille Froidevaux-Metterie. Penyelidikan diri dari mereka yang telah mempercayakan kisah hidupnya kepada saya, dan juga dari diri saya sendiri. 

Ya, psikolog yang menulis buku ini adalah dia yang juga pernah menjadi perempuan naif, yang pernah punya kompleks, yang pernah terkungkung dalam nilai-nilai patriarkis. 

Selamat menyelidiki diri, selamat melihat jauh ke dasar hati, selamat menemukan kekuatan yang sudah menanti Anda di sana. Bisa jadi itu kekuatan si penyihir, karena mungkin Anda adalah cicit-cicit penyihir yang selamat dari perburuan penyihir beberapa abad lalu. 

Atau Anda akan menemukan kekuatan serigala betina yang memang ada dalam diri setiap perempuan. Apa pun itu, bersiaplah menemukan kekuatan yang membebaskan jiwa. 

PS : Terima kasih yang setulusnya saya haturkan kepada Rifai Asyhari, Muhammad Aswar, dan EA Books yang memungkinkan keberadaan buku ini. Dan kepada kedua putriku, Louve dan Eloïsa Hypatia. Terima kasih juga kepada Qureta yang sudah berkenan memuat tulisan-tulisan saya ?