Tradisi minum jamu telah ada di Nusantara sejak sekitar 1300 M dan merupakan minuman bersejarah atau dikatakan kuno. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya bukti arkeologi di situs Liyangan di daerah Gunung Sindoro Jawa Tengah yakni artefak Cobek & Ulegan. (source: www.indonesia.go.id) 

Sementara itu pada zaman penjajahan Jepang, terbentuklah untuk pertama kalinya Komite Jamu Indonesia tahun 1940. Menurut berbagai sumber, ada 1700 ramuan bahan jamu yang pernah dituliskan di dalam manuskrip kuno dan beberapa kitab primbon.

Akan tetapi secara umum dan sederhananya, mengolah jamu sendiri secara mainstream tidak terlalu rumit, yakni dengan teknik menumbuk bahan, menggodok dan memeras. Langkah memeras bahan jamu ini bertujuan untuk mengambil sari-sari bahan. 

Penjaja jamu secara umum dapat ditemukan di berbagai tempat. Secara umum orang Indonesia menjaja jamu dengan digendong. Seiring perkembangan zaman penjaja jamu kemudian memanfaatkan sepeda pancal, juga motor atau bahkan mobil roda empat.

Di daerah Solo misalnya, tradisi jamu gendong masih dipertahankan. Di daerah lain seperti Jember, terjadi perubahan sebab efisiensi misal waktu dan tenaga sehingga penjual jamu lebih banyak ditemukan menggunakan kendaraan. Penjual jamu tersebut juga beroperasi di waktu-waktu yang berbeda. Beberapa pedagang jamu misalnya memilih menjaja jamu pagi hari, terkadang ada yang siang, terkadang juga ada yang memilih sore hari. 

Untuk wilayah Jember, pedagang jamu keliling dapat ditemukan di jam-jam tertentu. Di sekitar kampus Universitas Jember, ada tiga pedagang jamu keliling yang sering melintas di Jalan Jawa dan Kalimantan. Ada tiga ibu-ibu penjual jamu yang mengendarai sepeda. Pertama setiap pagi pukul 06:00-07:00 pagi, kedua pukul 09:00-11:00 pagi menjelang siang, ketiga pukul 13:00-15:00 siang hingga sore hari.

Selain itu ada seorang Bapak di sekitar Bundaran DPR bernama Pak Trisno yang beroperasi pukul 10:00 pagi hingga pukul 16:30 sore. Bapak pedagang jamu yang lain juga beroperasi pada pukul 16:00 hingga 07:30 dengan mendorong gerobak. 

Jenis jamu yang dijaja secara mainstream sama dengan jamu keliling pada umumnya: kunyit asam, beras kencur, kunci suruh, jahe merah, sinom, paiatan (atau daun-daun perasan seperti daun pepaya hingga daun brotowali).  Akan tetapi Pak Trisno mungkin satu-satunya yang  lebih lengkap dengan satu gerobak besar yang didorong dengan motor. Ia menyediakan aneka campuran bahan yang jarang ditemui di gerobak penjaja jamu pada umumnya. 

Di tengah pandemi Covid-19 atau pageblug. Jamu menjadi penting sebab jamu seperti kunyit, jahe dan temulawak mengandung kurkuma yang sangat dibutuhkan tubuh. Apalagi ketika angka pasien dan penyebarannya sangat fluktuatif dari ke hari peningkatan dan penurunannya masih kian tak pasti. Terlebih lagi, Jember pernah menjadi zona merah penyebaran Covid. 

Kurkuma ternyata sangat penting. Kurkuma yang sangat dibutuhkan imun tubuh tersebut diantaranya adalah Curcuma Cautkeridza pada temulawak, Curcuma Domestica pada kunyit.  Jahe atau Zingiber Oficinale juga menjadi komoditi yang kemudian banyak diminati sebagai bahan jamu di kala pandemi ini.

Curcuma tersebut berkhasiat: pertama meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus dari dalam, kedua melindungi tubuh bagi yang rentan terhadap Covid-19, ketiga memulihkan bagi yang telah terserang. Untuk yang terakhir harus didahului dengan kebiasaan rutin sebelumnya. 

Seiring maraknya pemberitaan tentang pandemi, dokter dan spesialis juga menganjurkan konsumsi rutin jamu sebagai alternatif bahan obat penyembuhan. Berbagai stasiun TV dan lini berita diamanapun itu, baik besar, kecil, mainstream atau tidak, menganjurkan jamu untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia di berbagai daerah. 

Pun ketika New Normal telah diberlakukan dengan tujuan memutar kembali roda produksi-distribusi-konsumsi untuk keseimbangan ekonomi, akan tetapi anjuran minum jamu ini tetap harus dilaksanakan atau secara rutin dikerjakan. 

Lebih lanjut, mengenai tempat-tempat pembelian jamu khusunya untuk yang bermukim di area Kampus Universitas Jember yang pada umumnya adalah mahasiswa. Alternatif tempat pembelian jika tidak menemukan penjaja jamu keliling adalah di Pecel Pincuk di sekitar pertokoan dan mini market area Pegadaian Jalan Kalimantan.  

Di depot Pecel Pincuk ini menyediakan jamu dalam bentuk botol kecil hingga sedang dengan harga 11.000 untuk kunyit asam, sinom dan temulawak. Selain itu, di depan Double W, Ibu penjaja jajanan pasar juga menyediakan botol jamu kunyit asam 6.000 rupiah saja.

Jika semua tempat tersebut sudah tutup terdapat pedagang buah di area pintu masuk kampus menuju Wisma Universitas Jember di samping jalan besar, di dekat KPRI atau koperasi mahasiswa, untuk mendapatkan jamu temulawak dalam bentuk botol dengan harga 10.000-an. 

Bagaimanapun kesehatan adalah yang paling penting. Kesehatan tetap menjadi prioritas sebelum hal-hal yang lain dapat dikerjakan dan dicapai. Ketika kesehatan kita terganggu, aktifitas lain juga pasti tidak akan berjalan dengan lancar. 

Menghadapi pandemik global ini, layaknya kita masih beruntung diberkahi dengan kekayaan herbal atau tanaman obat yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan untuk dibuat jamu.