2 tahun lalu · 131 view · 5 menit baca · Media dinamika_politik.png

Menemukan Gie


Menemukan “GIE”

Jika dahulu buta aksara adalah tak pernah mengenal huruf, maka zaman ini buta aksara adalah mereka yang tak melek teknologi. Sayang jika ada yang cerdas hanya ada di balik layar.

Seorang mahasiswa baru yang berasal dari salah satu sudut desa merasa kelabakan ketika diminta mempresentasikan ide besarnya dalam bentuk power point, Akhirnya ide itu tak pernah terungkap karena malu dianggap “gaptek”. Bahkan seorang professor terus mengampanyekan dampak negatif teknologi informasi melalui analisis menggelitik. Pemuka agama yang antipati pada teknologi berlomba menyerukan teknologi “haram”.

Seolah teknologi membuat negara diadu domba. Oleh siapa? Entahlah…

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat segala hal terasa instan. Jadi artis bisa instan, jadi penjahat juga bisa instan. Koneksi internet membuat “dunia ini mengecil” dengan menghubungkan individu tanpa batas ruang dan waktu. Bahkan, seorang pemimpin atau politikus telah “melek” media sosial dan menggunakannya untuk berorarsi, mencari simpati, dan “menjual diri”.

Coba sedikit menengok gegap gempita pemilu presiden 2014 di Facebook, misalnya, dianggap sebagai momen kebangkitan keterlibatan politis netizen muda Indonesia. SocialBaker mencatat 40,8 juta interaksi seputar pemilu dalam bentuk like, komentar, dan share. Kampanye daring membludak karena kecepatan produksi dan konsumsi informasi melalui situs ini. Rasanya, saat ini jika pemimpin dan partisipan politik dan ikut larut dalam media sosial, seperti sayur tanpa garam.

Diketahui para pejabat, politisi atau tokoh nasional yang aktif menggunakan media sosial di Twitter per April 2013 beserta jumlah pengikutnya berturut-turut adalah: Presiden Joko Widodo dengan 482.288 orang pengikut, Dahlan Iskan 348.140, Anies Baswedan 209,923, Prabowo Subianto 150.124, Hatta Rajasa 139.807, Yusril Ihza Mahendra 136.986, Mahfud MD 122.188, Aburizal Bakrie 99.070 ,Jusuf Kalla 72.795, Puan Maharani 25.094, Wiranto 2.621. tidak hanya figur Indonesia, pemimpin dunia juga melakukan apa yang dilakukan selebriti dunia dengan mempercantik laman Facebook dan Instagram mereka, sebagai upaya untuk menunjukan sisi humanis dan mempromosikan posisi politiknya.

Pemimpin yang jeli melihat peluang ini ikut lomba habis-habisan meraih popularitas sebelum dan sesudah pemilu, jumlah pengikut, like, dan share adalah hadiah utamanya. Apapun yang dibagikan akan menjadi konsumsi publik dan dalam sekejap diteruskan ke jutaan jiwa. Akhirnya simpati bisa diraup dalam hitungan menit. Anak muda, coba cek berapa jumlah follower anda, pengikut anda di facebook. Jika masih sedikit, mungkin anda kurang mengampanyekan siapa anda. Cobalah ikut “politik positif” ala pemimpin negeri yang memanfaatkan media sosial untuk memupuk citra baik yang menginspirasi.   

Cerita kecil Presiden Jokowi, kisah perantauan Presiden Barack Obama, perjuangan Ahok melawan label “Cina” menjadi konsumsi yang menarik sebagai senjata politik yang humanis. Banyak yang luluh, merasa Indonesia atau dunia memang membutuhkan orang-orang dengan catatan melimpahnya di media sosial, bahkan banyak pula yang menolak cerita-cerita itu untuk menjatuhkan dukungan dunia maya. Namun, paradoks ini menjadi begitu kental sebagai hiruk pikuk politik masa kini. Siapa pemilik “dunia maya” seolah merefleksikan penguasa “dunia nyata”. Perang antara Jonru dan Presiden Jokowi di dunia maya, akhirnya dimenangkan Presiden Jokowi, sebab di dunia senyatanya memang menang. Pengikut Jonru yang dulunya jutaan, lambat laun mengikis. Siapa yang berani membantah netizen tak berkontribusi terhadap perpolitikan di tanah air?

Cerita sekilas tentang kehidupan sehari-hari politisi itulah yang paling diminati penggemar. Dengan lebih dari 48 juta like di laman Facebook-nya, riset World Leaders on Facebook menemukan bahwa presiden AS ini adalah figur politik yang unggul dalam pertarungan di media sosial (BBC.com)

Laman Obama tidak hanya menjadi yang paling banyak disukai (di-like), tetapi juga menjadi contoh yang baik bagaimana tim seorang politisi bisa mengelola laman dengan sukses, menurut para analis sosial media. Presiden paling ngetop di dunia maya ini berulang membagikan banyak video, menceritakan kisah, menceritakan perjalanan dengan waktu yang sangat menggoda (bukan tiap menit, melainkan waktu-waktu yang menurutnya tepat). Sesekali, akan ada foto liburan dengan istrinya Michelle Obana dan anak-anak perempuannya Malia dan Sasha. Unggahan personal ini bisa menjadi kunci untuk memperoleh hubungan yang nyata selagi mereka sering mendapat lebih banyak interaksi, tetap seringnya, unggahannya berupaya untuk membantu menuturkan cerita politis.

Tim Obama mulai menggunakan Twitter dan Facebook pada 2007, ketika dia masih menjadi senator di negara bagian Illinois. Sejak itu, dia dan sejumlah pemimpin dunia melompat ke dunia digital, membuka akun di layanan streaming video seperti YouTube, Vimeo, dan Instagram ke situs sosial media dari Facebook dan Twitter ke Snapchat. Banyak yang juga membuka sesi tanya-apa-saja di Reddit, dengan hasil yang beragam (Obama tetap menjadi yang paling sukses) berdasarkan data di laman BBC.com.

Komunikasi politik di media sosial berjejaring (khususnya Facebook) dipermudah oleh keterhubungan citra visual, tekstual, dan verbal. Komunikasi politik dalam hal ini berarti cara menyampaikan pesan politis atau berpolitik dengan mempengaruhi orang lain. Komunikasi sendiri berarti mekanisme perpanjangan informasi, pemikiran dan/atau kekuasaan.

Para netizen di Indonesia terkenal sangat sosial. Mereka gemar berbagi dan berceloteh di media sosial, entah itu berupa status, foto, ataupun video. Sehingga ketika ada sesuatu yang lucu, aneh, atau kontroversial terjadi, kemungkinan besar hal tersebut akan cepat tersebar secara luas.

Tidak bisa dimungkiri, media sosial merupakan salah satu ranah teknologi yang penting di Indonesia. Selain karena penduduknya yang dianggap sangat sosial, orang Indonesia memanfaatkan media sosial bukan hanya sebatas platform untuk komunikasi dan bersosialisasi. Kini, media sosial bahkan punya peran yang lebih jauh, seperti dalam ranah politik dan pemerintahan.

Selain mengungkapkan aspirasi melalui jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, orang Indonesia kini makin gemar membuat petisi online, terutama untuk kasus-kasus kontroversial. Entah berhasil atau tidak, petisi online merupakan salah satu alternatif untuk menggalang massa. Beberapa petisi online yang dibuat sepanjang tahun 2014 di antaranya adalah tentang isu sosial seperti Revisi UU pelecehan seksual, isu politik seperti UU Pilkada langsung, hingga tuntutan pembubaran sinetron dan acara TV. Ada juga demam facebook pemilu.

Media sosial memiliki peranan yang cukup penting pada pemilihan presiden tahun ini. Tidak hanya diskusi-diskusi “panas” yang terjadi di Facebook dan Twitter, media sosial seperti YouTube dan SoundCloud juga digunakan sebagai platform untuk berkampanye. Total ada sekitar 200 juta perbincangan tentang pemilu terjadi di Facebook dan 95 juta tweet tentang pemilu di Twitter tahun ini. Mulai melek politik melalui setiap media online yang anda digenggaman setiap pemuda masa kini.

Penggunaan media digital dapat meningkatkan kemungkinan para siswa untuk terekspos pada beragam pandangan dan mendorong mereka untuk terlibat dengan isu-isu politik secara online. Oleh karena itu, internet dapat menarik minat para pemuda untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan politik. Dari sekadar riset, berbagi ide dan pendapat melalui blog dan situs jejaring sosial, berdiskusi dalam komunitas online, hingga terjun dalam berbagai kegiatan politik. Tidak salah jika banyak muncul Gie- Gie muda yang lahir dan besar atas asuhan dunia maya. Asal jangan jadi Gie karbitan.

Ketika baru bangun, hal yang pemuda cari adalah telepon pintarnya. Melihat apa saja yang menjadi viral dan hiruk pikuk dunia maya. Tanpa disadari pemuda telah ikut berpartisipasi dalam politik. Meski opininya masih disimpan dalam hati, suara pemuda dunia maya ikut membawa dampak dalam perpolitikan, khususnya di Indonesia.

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah, mengutip petikan Gie, mari terjun. Jangan takut. Jika tersesat, nurani yang tetap memberi jalan #LombaEsaiPolitik