“Bisa makan indomie pakai telur itu luar biasa, bahagia itu sederhana”. “Bisa nyanyi sambil koprol itu emejing gaess, bahagia itu sederhana”. Kalimat “bahagia  itu sederhana” merupakan kalimat yang mungkin tak asing kita dengar, terutama bagi kita yang sering berselancar di sosial media, di mana beberapa kali mendapati postingan orang-orang yang membagikan kebahagiaannya.

Namun, perlu kita pahami dahulu, bahagia memiliki makna yang berbeda dengan senang. Sesuatu yang hanya menyangkut kondisi ‘saat ini’, itu namanya kesenangan. Tapi, kalau menyangkut kondisi keseluruhan, baru itu namanya kebahagiaan. Jadi, bahagia tak sesederhana itu ya kawan. Hehehe.

Menurut bapak psikologi positif, Martin Seligman (2004), mengatakan bahwa, bahagia itu tergantung pada seberapa positif cara pandang seseorang terhadap masa lalu, masa sekarang, dan masa depannya.

Makan indomie, jalan-jalan, nyanyi, koprol, sepedaan, koprol sambil sepedaan dan sebagainya itu adalah kondisi sekarang. Sehingga ketika mendapatkan atau melakukan sesuatu yang kita suka tersebut, rasa senang otomastis akan muncul.

Yang perlu kita ketahui adalah, orang yang senang belum tentu bahagia, dan orang yang bahagia belum tentu saat ini senang. Hah, Gimana?, gimana broh? Oke, biar lebih gampang dimengerti saya akan berikan contohnya melalui cerita.

Sebutlah seseorang yang bernama lengkap Bambang Hadi Kusumo Prawiro Negoro Mulyo Joyo Lan Sejahtero, yang cukup kita panggil Bambang. Bambang yang saat ini berusia 20 tahun merupakan seorang mahasiswa psikologi semester tiga di salah satu kampus di Jogja.

Pada suatu hari, katakanlah Rabu Pon bulan Desember, dosen menyebut namanya sebagai pemilik nilai tertinggi di kelas  untuk UAS mata kuliah konseling. Sebuah rekor nilai tertinggi yang ia dapat selama kuliah, yaitu 99. Saat diumumkan di depan kelas ia sangat gembira dan bangga atas pencapaiannya tersebut.

Dari cerita tersebut kita bisa memastikan satu hal, yakni Bambang merasa senang. Lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah ia pasti merasa bahagia?

Untuk menjawabnya kita perlu melihat track record Bambang dalam memandang masa lalu dan masa depannya.

Diriwayatkan, ternyata pada masa seragam putih abu-abu Bambang mengalami perundungan atau biasa kita kenal dengan istilah bullying. Ia dibully karena badannya yang sangat gemuk sekitar 150kg. Bisa dibayangkan ya betapa gedenya badan Bambang. Ia dibully selama kurun waktu tiga tahun, saat awal MOS sampai lulus. Bully tersebut meninggalkan luka, membuatnya tidak percaya diri, rendah diri, menyalahkan dirinya, dan lingkungan.

Peristiwa pengalaman dibully itu berakhir saat lulus SMA. Saat masuk perguruan tinggi di jurusan psikologi dan bertemu teman baru sudah tidak ada yang membullynya, namun rasa percaya diri dan harga diri Bambang tetap rendah. Dalam pikirannya, orang-orang tidak ada yang baik dan bisa saja suatu saat membullynya. Pola Pikir sering curiga tersebut membuatnya tidak nyaman dalam bergaul sampai sekarang.

Dari cerita riwayat Bambang di atas, terlihat bahwa Bambang memiliki cara pandang masa lalu yang cenderung negatif dan mempengaruhi kehidupannya saat ini. Jika kita melihat dari cara pandang Bambang akan masa lalu, masa sekarang, dan masa depannya, maka bisa dikatakan bahwa Bambang merasa tidak bahagia. Yap, tidak bahagia. Nilai tinggi adalah kesenangan, alias bahagia sementara.

Lalu bagaimana sih agar kita bisa bahagia seutuhnya, bukan bahagia sementara? Seperti teori Seligman, Anda bisa mencoba dengan melihat seberapa positif cara pandangan Anda pada Masa lalu, masa sekarang, dan Masa depan. Biar mudah, kita sebut saja 3M.

1. Masa Lalu

Masa lalu yang belum tuntas atau biasa disebut unfinished business akan membuat pola pikir, perasaan, dan tindakan seseorang menjadi terbatas dan terganggu. Kasus Bambang di atas menunjukkan bahwa rasa bangganya pada dirinya sendiri tersebut adalah rasa bahagia sementara. Besoknya, ia masih terus berkutat dengan masalah sosialisasi.

Apabila kita merasa ada peristiwa masa lalu yang belum tuntas, bisa lakukan dua hal, yaitu memaafkan dan bersyukur. Memaafkan atas segala pengalaman menyakitkan yang pernah terjadi, baik peristiwanya maupun orang-orangnya. Memaafkan memang berat bagi orang yang tidak mau untuk mengikhlaskan. Setelah bisa ikhlas untuk memaafkan, maka perlu untuk melihat hal-hal positif apa yang terkandung di dalamnya yang bisa kita syukuri.

2. Masa Sekarang            

Dua kunci agar bisa senang pada kehidupan kita sekarang adalah bisa melakukan hal-hal yang kita sukai dan bisa menyadari sepenuhnya suatu aktivitas (mindfulness). Mendapatkan hal-hal yang disukai bisa dengan makan makanan kesukaan, melakukan hobi, dan melakukan hal-hal lain yang kita anggap itu nikmat.

Kedua, setiap melakukan kegiatan pastikan dengan menyadari sepenuhnya. Misalnya, saat makan kita fokus sepenuhnya untuk makan, rasakan sepenuhnya. Hindari melakukan multitasking, misalnya sambil main game. Prinsipnya, orang yang mudah stres dan cemas itu karena fisik dan pikirannya tidak selaras. Fisik ke A, pikiran ke Z. Menyadari sepenuhnya ini bisa dilatih juga pada aktivitas sehari-hari yang lain, seperti mencuci atau berkendara.

3. Masa Depan

Orang yang memiliki gejala depresi biasanya memiliki ciri-ciri kehilangan minat pada suatu hal, sehingga tidak menemukan harapan di masa depan. Ketika seseorang ragu dengan masa depannya, akan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya saat ini, sehingga perlu kembali menetapkan tujuan cita-cita dengan realistis. Tujuan yang medium tapi realistis itu lebih baik, dari pada tujuan tinggi, tapi tidak realistis.

Ketika tujuan tersebut sudah realistis dan benar-benar kita inginkan (passsion kita), kita akan mempunyai energi lebih besar untuk mencapainya. Ada dorongan dari dalam diri untuk bertindak positif mencapainya. Di situlah harapan dan optimisme bisa kita tumbuhkan sedikit demi sedikit secara bertahap.

Demikian tips praktis yang bisa Anda coba. Bahagia itu kado terindah bagi Anda yang berjuang mendapatkannya. Bahagia hak Anda semua.

Salam bahagia.

Jelang Hardika, M.Psi, Psikolog 

 

Referensi

Seligman, Martin E. 2004. Authentic Happiness : Using the New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment. New York: The Free Press.