Mahasiswa
2 tahun lalu · 455 view · 2 min baca menit baca · Filsafat truth-166853_960_720.jpg

Menemukan Arti Kebenaran

Miliaran manusia yang hidup di dunia ini memiliki kepercayaan yang berbeda. Biasanya, jika manusia sudah mempercayai suatu hal, mereka akan menganggap apa yang dipercayainya adalah benar. Contohnya adalah manusia yang beragama, tentu saja mereka akan mempercayai kitabnya adalah suatu hal yang benar karena, kitab itu berasal dari Tuhan dan merupakan representasi keberadaan Tuhan.

Ketika manusia memercayai Tuhan, mereka secara pasti mempercayai dan menganggap kitabnya adalah benar. Jika dikonklusikan, manusia beragama mempercayai Tuhan dan kitabnya sebagai sumber mendasar sebagai suatu kebenaran yang hakiki. 

Lalu, bagaimana dengan manusia yang tidak beragama dan tidak memercayai Tuhan? Apa yang menjadikan dasar mereka untuk mempercayai suatu hal sebagai kebenaran yang hakiki?

Orang-orang yang agnostik atau ateis, biasanya mereka memiliki pemahaman secara saintifik. Haus akan bukti yang empiris. Apa yang mereka lihat dan rasakan, harus berdasarkan kajian ilmiah. Sains sangat bergantung pada pembuktian ilmiah. Jadi, orang yang tidak beragama dan tidak mempercayai adanya Tuhan, mereka menjadikan sains dan pembuktian ilmiah sebagai suatu kebenaran yang hakiki.

Tidak ada maksud untuk mendikotomikan antara manusia yang beragama maupun yang tidak. Hanya berusaha menjelaskan arti kebenaran yang dimaksud secara kontekstual dari realita yang ada.

Kesamaan asumsi dari banyak orang juga bisa menyebabkan orang-orang mudah mengatakan suatu hal adalah benar. Ini cukup bahaya. Karena, pada dasarnya yang namanya asumsi tentu saja tidak bisa dikatakan sepenuhnya benar.

Ketika asumsi yang salah itu digunakan sebagai bentuk "pembenaran", asumsi tidak bisa dijadikan dasar untuk kebenaran. Karena biasanya, suatu asumsi yang logis, kemudian dicerna secara logis pula oleh orang-orang banyak, maka asumsi itu mereka anggap suatu kebenaran. Padahal secara tidak langsung, mereka sebenarnya mendukung asumsi yang logis, bukan kebenaran.

Asumsi yang logis, belum tentu benar. Terkadang kebenaran tidak bisa dicerna dengan akal. Itulah yang menyebabkan seringnya terjadi logical fallacy pada setiap diri manusia. 

Beda lagi dengan asumsi yang didasarkan atas fakta dan data yang ada, asumsi masih bisa dipertimbangkan untuk dikatakan benar. Sebab, dengan data dan fakta yang telah terbukti secara empiris, suatu asumsi hanya bisa menambahkan power terhadap data dan fakta yang ada. Jadi, suatu asumsi yang didasarkan data dan fakta bila dikatakan benar, yang benar adalah data dan faktanya. Asumsi hanya mendukung suatu data dan fakta yang telah terbukti.

Bila dikerucutkan, dasar kebenaran yang dipakai kebanyakan manusia saat ini adalah berdasarkan agama, sains, dan asumsi. Dari tiga dasar kebenaran tersebut, yang manakah yang paling tinggi kedudukannya? Tentu saja, banyak manusia yang memiliki perspektif tentang hal ini.

Ada baiknya, suatu kebenaran yang hakiki adalah berdasarkan agama dan sains. Apa yang telah tertulis di kitab setiap agama, bisa dibuktikan oleh sains. Tapi, tentu saja itu bukan hal yang mudah untuk para scientist. Mereka para saintis pun juga pasti prefer agar temuannya bisa bermanfaat bagi manusia, bukan untuk membuktikan apa yang ada di kitab agama.

Agama dan sains seharusnya bisa menjadi suatu kolaborasi yang bisa menyejukkan umat manusia atas ada atau tidaknya suatu kebenaran yang nyata di dunia ini. Bukan malah menjadikan ajang untuk mencari yang siapa dan yang benar. Sudahi debat antara agama dan sains. Karena sampai kapan pun, agama dan sains adalah ranah yang berbeda.

Selamat menemukan kebenaran!

Artikel Terkait